BAGIAN EMPAT

1104 Kata
Tyas berdiri di post satpam. Perempuan dengan jas putih di lengannya itu sedang bermain dengan ponselnya. Tak berapa lama sebuah mobil berwarna putih berhenti di depannya. Pintu kaca mobil terbuka menampilkan sosok lelaki tampan dengan hidung mancung. "Assalamualaikum dokter? Dokter Tyas belum pulang?" tanya sosok lelaki di dalam mobil tersebut. "Walaikumsalam dokter Rizal. Abang saya belum jemput.."balas Tyas. "Mau pulang bareng?" tanya dokter Rizal. Tyas menggelengkan kepalanya. "Terimakasih untuk tawarannya Dok. Tapi tidak usah..." jawab Tyas tersenyum. Membuat dokter Rizal terpaku menatap senyuman Tyas. Tanpa sadar dokter Rizal pun ikut tersenyum. "Kalau begitu saya permisi, dok. Hati-hati Assalamualaikum...." ujar dokter Rizal. "Walaikumsalam..." balas Tyas. Mobil dokter Rizal melaju di jalan raya. Tyas tersenyum kecil melihat itu. Menurutnya dokter Rizal itu tipikal orang yan ramah dan juga baik tentunya. Tak berapa lama sejak dokter Rizal pergi meninggalkan Tyas. Sebuah mobil berwarna putih berhenti lagi di depannya. Tyas berjalan memutari mobil itu, dan masuk kedalam mobil. "Maaf ya dek. Tadi biasa Jakarta macet..." ucap Langga kepada Tyas. "Iya-iya di maafin karena alasan kakak tepat..." balas Tyas Langga hanya tertawa menanggapinya. Langga menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tyas sedang bersenandung ria, Langga melirik adiknya ipar nya. "Tadi abang liat kamu ngobrol sama orang, siapa?" tanya Langga. "Oh tadi dokter Rizal, nawarin pulang bareng..." jawab Tyas. "Wow, dokter toh. Ganteng gak?" tanya Langga. Tyas mengerutkan keningnya untuk berpikir. "Abang apaan sih.... " ucap Tyas cemberut kepada Langga. Langga tertawa melihat raut wajah Tyas yang sudah memerah. "Dek abang mau tanya tapi kamu jawab jujur ya..." ucap Langga lebih serius. Lelaki itu melirik Tyas yang masih fokus dengan ponselnya. "Dek ..." panggil Langga. "Hem iya tanya apa..." ujar Tyas Masih dengan bermain ponsel. "Kalau kamu ketemu sama 'dia' apa yang kamu lakukan?" pertanyaan Langga membuat Tyas berhenti bermain ponsel, dokter muda itu menatap kakak iparnya. Tyas diam pandangannya beralih ke jalan. "Dek kenapa gak jawab?" tanya Langga. "Kayaknya tadi Tyas liat 'dia' di rumah sakit. Tapi gak tau itu dia atau bukan..." ucap Tyas membuat Langga terdiam. "Bang... " ucap Tyas menatap Langga. "Apa abang sama kakak menyembunyikan sesuatu?" tanya Tyas membuat Langga diam. Pikiran Langga mundur ke belakang di ingat kejadian 1 tahun yang lalu. Flashback on..... Bugh.... "Maksud lo apa?! Lo mau permainan Tyas?!" seru Langga emosi. Lelaki itu memukul seorang lelaki yang menggunakan jas putih. Hari ini, adalah hari pernikahan Damar dan Sherena. setelah mengucap janji suci di gereja katedral jakarta pusat, Langga menarik Damar ke samping gereja. Damar mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. "Lang ini gak seperti apa yang lo pikirin. Dengerin penjelasan gue..." ucap Damar, ia sama sekali tidak marah ketika Langga memukul sudut bibirnya. "Gue menikah karena bokap gue jodohin gue sama Sherena. Gue gak sanggup untuk menolak karena Sherena,...." Dama memejamkan matanya tak kuat untuk mengatakan itu." Dia punya penyakit yang cukup parah Lang. Sherena udah lama suka sama gue, gue gak bisa bayangin kalau gue nolak dia pasti akan mempengaruhi kesehatannya." jelas Damar. Langga menatap Damar menunggu penjelasan selanjutnya. "Gue harap gue bisa nolong dia karena nyokap Sherena pun sampai mohon-mohon sama gue. Gue gak kuat ngeliat Sherena kek gitu..." lanjut Damar. "Terus masalah adek gue gimana?" ucap Langga dengan nada tinggi. "Perasaan gue sama Tyas masih sama. Tyas punya tempat tersendiri di hati gue, tapi gue tau cinta gak harus memiliki.." sahut Damar. "Dam, lo mau nyerah gitu aja. Setelah semua yang udah lo lakuin?" tanya Langga tak percaya dengan ucapan Damar. Damar menatap sendu Langga." Lo pernah denger, cinta pertama mana mungkin jadi cinta terakhir?" ucap Damar. "Lo bilang begitu artinya lo siap ngelepasin Tyas. Inget Dam, yang mau sama Tyas banyak. Dan gue pastiin calon suami Tyas gak pengecut kek lo!" seru Langga. Lalu meninggalkan Damar yang masih terdiam dengan ucapan Langga. Langga mengingat semua itu. Yah kejadian itu.. Flashback off "Bang, jangan ngelamun Tyas masih pingin ngerasain duduk di pelaminan.." cetus Tyas kepada Langga yang sedari tadi menatap jalanan dengan pandangan kosong. "Kamu dek aneh-aneh aja kalau ngomong..." ucap Langga Santai. "Lagian abang dari tadi ngelamun aja. Pertanyaan Tyas belum di jawab!" kesal Tyas. Perempuan mengerucutkan bibirnya. "Pertanyaan yang mana?" tanya Langga dengan polosnya. "Gak ada tayangan ulang! " ujar Tyas lalu turun dari mobil Langga karena memang mereka sudah sampai. Langga sebenarnya hanya mengalihkan pembicaraan agar Tyas tak menanyainya terus. Langga pun turun dari mobilnya di depan pintu sudah ada Stella Yang tengah berdiri menyambut kepulangannya. "Assalamualaikum, sayang..." ujar Langga tersenyum kepada Stella. Stella mencium punggung tangan Langga. "Walaikumsalam suami Stella yg ganteng..." sahut Stella mengambil alih tas laptop milik Langga. Mereka masuk kedalam rumah. *** Dengan telaten, Damar menyuapi Sherena. Kadang kala ibu jarinya mengusap sudut bibir Sherena. Sherena hanya tersenyum melihat Damar yang begitu sabar menghadapinya. 'Tuhan, terimakasih karena sudah menghadirkan dia di hidup ku. Tuhan, jika aku di beri umur panjang. Biar kan aku menua bersama Lelaki di hadapan ku ini.' batin Sherena seraya menatap Damar dengan tulus. "Kamu kenapa sih kok ngeliatin akunya kek gitu?" tanya Damar sembari meletakan piring di meja sebelah kanan Sherena. "Gak pa-pa. Aku lagi bersyukur sama tuhan, karena sudah memberi aku suami yang sabar kek kamu.." ujar Sherena jujur. "Mas jujur ya. Aku kalau liat anak kecil pingin banget punya anak." cetus Sherena ketika melihat anak kecil yang berada di luar ruangan. Sherena tau sebab pintu kamarnya tidak tertutup dengan rapat. "Kamu harus lebih semangat biar cepat sembuh. Dan setelah itu kamu akan punya anak.." ucap Damar menenangkan Sherena. "Mas kalau misalkan aku sembuh tapi gak bisa punya anak gimana? Apa kamu akan ninggalin aku?" tanya Sherena, membuat Damar diam. Sherena meraih tangan Damar. Menggenggam tangan yang tampak besar di genggamannya itu. "Kamu mau nikah lagi pun aku bakal izinin mas," ujar Sherena tersenyum. "Tapi jangan tinggalin aku... " sambung Sherena dengan suara yang lebih lirih. Tidak. Tidak ada wanita yang ingin di madu. Meski bagaimana pun keadaannya. Sherena hanya mencoba untuk membalas kebaikan Damar yabg selama ini telah dengan sabar merawatnya. Juga telah mau menikahi wanita penyakitan seperti dirinya. Secara fisik, Sherena cantik. Secara Fisik juga Sherena sempurna dengan badan yang semampai. Tak heran jika Sherena memiliki semua itu karena memang ia merupakan seorang model. Bahkan sedari SMP hingga memasuki jenjang kuliah. "Kamu jangan bohongi diri kamu sendiri. Mas tau dalam hati kamu gak mau di madu 'kan?" ujar Damar. Sherena terdiam menundukkan kepalanya. "Ren kamu gak usah mikir macam-macam. Sekarang kamu fokus untuk sembuh dulu.." sambung Damar membuat Sherena mengangguk. "Kamu tau mukjizat tuhan itu nyata..." ucap Damar kepada Sherena membuat wanita itu mengulum senyum. "Aku jadi ingat ucapan Dokter cantik tadi pagi.." ujar Sherena membuat Damar mengerutkan keningnya. "Dokter cantik?" tanya Damar. Seketika Damar ingat dengan sosok 9 tahun lalu. Bidadari berjilbab miliknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN