BAGIAN LIMA

1055 Kata
Tyas sudah mulai mengendarai mobilnya sendiri. Ia tak perlu lagi nebeng dengan Langga. Di hari kedua menjadi dokter di Hospital internasional Jakarta. Dia sudah mulai bisa dengan macetnya ibu kota ini. Setelah memalui jalan macet, Tyas sampai juga di depan Rumah sakit tempat ia bekerja. Ia turun dari mobil tepat saat itu Turun juga Dokter Rizal dari mobilnya. "Selamat pagi Dokter Tyas..." sapa Dokter Rizal dengan senyuman manisnya. "Selamat pagi juga Dokter Rizal..." balas Tyas dengan ramah. Mereka berjalan beriringan di sepanjang koridor rumah sakit. Sesekali Dokter Rizal tertawa dengan candaan Tyas. Ketika dokter Rizal tertawa menarik perhatian orang-orang sekitar. Mereka tidak pernah melihat Dokter Rizal tertawa seperti itu. 'W o w. Gue baru liat Dokter Rizal ketawa' 'Sumpah ganteng banget itu.' 'Duh kok di sebelahnya ada cewek sih.' 'Potek hati adek, bang!!' Dokter Rizal dan juga Tyas masuk kedalam ruangan masing-masing. Sementara itu Dokter Rizal sedari tadi tidak berhenti untuk mengembangkan senyumnya. Lelaki berumur 27 tahun itu duduk di kursinya dengan wajah yang sumringah. Ia pikir Dokter Tyas tipikal orang yang cuek. Tapi ternyata Dokter Tyas orangnya humoris. Cocok dengannya yang cenderung pendiam. Pintu ruangan Dokter Rizal terbuka menampilkan sosok perempuan berjas putih dengan kerudung hijau botol. "Assalamualaikum Dok..." ujar perempuan itu. "Walaikumsalam Dokter Citra..."ujar Dokter Rizal kali ini ekspresinya biasa saja. Dokter Citra tersenyum malu-malu. "Ini Dok, kan kemarin saya abis dari Jogja. Ada sedikit oleh-oleh untuk dokter," ucap Dokter Citra. Ia menyerahkan paperbag itu kepada Dokter Rizal. "Terimakasih Dokter..." ujar Dokter Rizal membuat Dokter Citra mengangguk. Di ambang pintu perempuan dengan kerudung hitam, melihat kearah mereka. Dokter Rizal melihat ke arah pintu. "Dokter Tyas... " ujar Dokter Rizal. Tyas tersenyum kaku."Maaf Dok, mengganggu. Tadi katanya mau ikut saya sarapan?" ucap Tyas. "Tidak pa-pa Dokter. Oh iya kenal kan ini Dokter Citra, dokter umum di sini," ujar Dokter Rizal. Tyas berjabat tangan dengan Citra sembari tersenyum. Begitu juga dengan Citra. "Tyas" "Citra" "Dokter Citra mau sekalian ikut kita ke kantin?" tawar Tyas kepada Citra. "Boleh kebetulan saya belum sarapan," ujar Dokter Citra. "Ya sudah, ayo kita berangkat ada waktu 15 menit sebelum apel." ujar Tyas ia berjalan beriringan dengan Citra. Sementara Rizal di belakang mereka. 'Ternyata tak seperti yang di bayangkan' batin  Citra ketika tertawa karena candaan Tyas. *** Damar merapihkan kembali dasinya. Sedari tadi Sherena menatap suaminya itu. "Kenapa sih ngeliatinnya gitu banget?" tanya Damar kepada Sherena. "Aku lagi bayangin, seandainya aku bisa pasangin dasi kamu setiap pagi.." jawab Sherena Tersenyum. "Oh kamu mau pasangin dasi aku?" Tanya Damar berjalan mendekat kearah Sherena. Ia juga melepas kembali dasinya yang telah selsai ia buat. Damar mendekatkan dirinya kepada Sherena. "Nih kalau kamu mau masangin...." ujar Damar. Dengan hati-hati, tangan berselang infus itu membuat simpul dasi. Senyuman di bibir Sherena semakin merekah. Ketika ia sudah berhasil membuat asi itu. Satu kecupan mendarat di pipi kanan Sherena. Ini adalah kecupan pertama di pipi Sherena. Damar tak pernah mencium Sherena selain kening dan juga puncak kepalanya. Dan sekarang, pipinya menjadi semu-semu merah. Meski tertutup dengan kulitnya yang berwarna putih pucat. "Aku berangkat dulu ya, jangan lupa minum obat." ucap Damar tersenyum kepada Sherena. Sherena menganggukkan kepalanya. "Kamu juga hati-hati ya.." ujar Sherena. Damar mengangguk lalu pergi meninggalkan Sherena. Setelah Damar pergi tangan lemah Sherena memegang pipi sebelah kanannya. Dimana Damar mengecup pipinya tadi. Sherena tersenyum ia seperti remaja yang baru di balas cintanya oleh gebetan. Padahal yang barusan menciumnya adalah suaminya sendiri. 'Ya tuhan berikan aku umur yang lebih panjang dari ini.' doa Sherena dalam hati. Sherena melirik kearah meja di sampingnya. Terdapat dompet kulit berwarna hitam di situ. Tangan lemahnya mengambil dompet itu. Dompet yang di pengan oleh Sherena adalah dompet milik suaminya Damar. Tangan lemah itu membuka dompet tersebut. Di dalam dompet itu ada foto Damar. Sherena mengambil foto itu, di dalam dompet itu bukan hanya ada 1 foto tapi juga ada foto seorang perempuan. Foto perempuan itu di tumpuk oleh Damar dengan fotonya. "Ini foto siapa?" tanya Sherena kepada dirinya sendiri. Foto seorang perempuan menggunakan baju SMA. Di ambil dari samping, wajahnya tidak terlalu jelas. Tapi yang jelas perempuan itu memakai penutup kepala atau dalam orang islam di sebut dengan kerudung. Sherena membalikan foto itu ada sebuah tulisan usang dengan pena. Zainab❤ "Jadi namanya Zainab?" gumam Sherena. "Apa ini foto mantan pacarnya mas Damar dulu?" gumam Sherena lagi. "Kenapa sampai sekarang foto ini masih di simpan sama mas Damar. Apa mas Damar masih cinta sama perempuan ini?" ujar Sheren bertanya-tanya. "Meskipun wajahnya gak jelas. Tapi kayak gak asing gitu sama mukanya. Apa waktu kemarin pernikahan aku sama mas Damar dia dateng ya?" Sherena masih berdialog sendiri. Sherena mengembalikan foto itu di tempat semula. Ia meletakan kembali dompet Damar di atas meja. Pikirannya berkecamuk. Sherena juga menyandarkan kepalanya pada bantal. Sebenarnya ia tak ingin membasahi pipinya dengan air mata. Tapi entah mengapa air mata itu turun sendiri melewati pipi lalu turun di bantal miliknya. Sherena jadi ingat, Damar menikah dengannya karena perjodohan yang di lakukan oleh kedua orang tua mereka. Damar Prastya adalah seniornya di kampus, Di Surabaya. Dari dulu, Sherena sudah jatuh hati kepada Damar. Lelaki itu begitu pendiam jika di kampus, Sherena sempat mencari tau siapa Damar sebenarnya. Dan yang ia tau dari beberapa orang suruhannya. Dulu waktu kecil hingga SMA Damar tinggal di kota Pontianak Kalimantan Barat. Di sekolahnya yang dulu Damar sering di cap menjadi play boy, dan juga Bad boy. Tapi yang Sherena tau sewaktu kuliah Damar tak pernah sedikit pun dekat dengan lawan jenis. Meski banyak wanita yang mendekat kepada Damar tak terkecuali dirinya. "Siapa yang udah mengubah kamu seperti ini mas.." ucap Sherena, sembari mengusap jejak air matanya. Menurut Sherena hidup Damar itu penuh misteri. *** Damar tergesa-gesa melangkahkan kakinya. Ia berjalan di lorong rumah sakit tangannya terus memandang jam di tangan. Tanpa melihat di jalan, di depannya sekitar 5 meter dari tempatnya berdiri. Terlihat Dokter Tyas sedang berjalan tergesa-gesa juga. Ia sampai tak menghiraukan sekelilingnya. Dua bahu lawan jenis itu bertubrukan. Membuat keduanya terpental sedikit jauh dari tempat semula. Tyas meringis, karna pantatnya yang berdenyut. Sementara Damar? diam menatap lurus kearah Tyas. Tyas melihat kearah orang yang menabraknya. Seketika diam, dari mata keduanya, terlihat ada luka yang begitu mendalam. Ada  juga rindu yang tidak bisa tahan. Mereka berdua saling merindu. Jantung keduanya berdetak lebih kencang. Tyas mengalihkan pandangannya lalu berdiri dari tempat dia terjatuh. Sementara Damar yang gugup juga menyusul Tyas berdiri. Keduanya kembali terdiam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN