Dari arah belakang Suster Helen menepuk bahu Tyas. Tyas terkaget. "Maaf dokter kita tak ada waktu.." ujar Suster Helen membuat Tyas sadar akan tujuannya. Segera mungkin Tyas berjalan kembali tanpa bertegur sapa dengan orang yang ia tabrak.
Damar tertegun kecil. Ia menatap punggung kecil itu yang semakin menjauh. Dia tersenyum, sedetik kemudian pria itu melanjutkan perjalanannya. Sampai di bangsal Kamboja ia melihat Sherena yang sudah tertidur. Ia bingung, ada 2 wanita yang tinggal ada dalam hidupnya. Cepat atau lambat Tyas akan mengetahui semuanya.
Sejujurnya Damar tau jika Tyas sudah pulang dari Jerman. Sehari sebelum Tyas tiba di Jakarta Langga sudah lebih dulu menghubunginya. Langga mengatakan bahwa Tyas akan pulang ke Indonesia.
Damar menatap Sherena, ada jejak air mata di pipi Wanita itu. Damar mengecup kening Sherena. Damar tak tau akhir-akhir ini ia begitu nyaman berada di samping Sherena.
Tak mau mengganggu tidur sang Istri. Damar segera mengambil dompetnya dan pergi dari ruangan itu. Saat akan melangkah Sherena membuka matanya.
"Loh Mas balik lagi? Kenapa?" tanya Sherena dengan suara parau.
Damar menatap istrinya. "Ini aku tadi ambil dompet. Maaf udah ganggu tidur kamu. Kamu tidur lagi gih, aku berangkat dulu," ujar Damar kepada Sherena. Sherena pun menganggukkan kepalanya.
Damar pun pergi dari ruang inap Sherena.
***
Di kantin Hospital Internasional Jakarta. Tyas duduk bersama dokter Citra, sejak tadi mereka resmi mengikat diri untuk menjadi sahabat. Tyas hanya mengaduk aduk makanannya. Citra yang melihat itu hanya diam memandang sahabat barunya.
"Yas, kamu kenapa gak makan? Gak suka sama menunya 'ya?" tanya Citra. mereka sudah berjanji jika di luar jam kerja akan memanggil dengan sebutan nama saja.
Tyas melirik Citra."Citra boleh aku tanya sama kamu?" ucap Tyas.
"Iya boleh mau tanya apa?" tanya Citra.
"Kamu, kamu pernah suka sama lawan jenis?" tanya Tyas ragu.
Citra mengerutkan keningnya. Lalu tertawa. "Kamu ini ada-ada aja. Ya pernah lah," ucap Citra, kepada Tyas.
"Malahan ya aku dulu sempet pacaran." ucap Citra, Tyas melebarkan matanya.
"Perlu kamu tau Yas, aku pakai jilbab ketika masuk jenjang perkuliahan. Dan waktu SMA belum pakai jilbab." ucap Citra Tyas mengangguk.
"Kamu pernah gak suka sama lawan jenis yang beda sama kita?" tanya Tyas.
"Yg beda? Maksudnya yang beda, gimana?" tanya Citra bingung.
Tyas agak menunduk, dan mendekat kearah Citra." Beda Agama..." ujar Tyas kepada Citra. Citra terdiam lantas ia tersenyum.
"Kamu sedang suka sama cowok non muslim?" tanya Citra. Tyas terdiam.
"Ok aku bisa nyimpulin apa yang aku tebak benar." ujar Citra.
"Kamu tau Yas, ada 1 cowok yang ku sebut mantan terindah. Namanya Franky, dia non muslim. Aku pernah ngerasain apa yang kamu rasain. Aku cuma mau bilang sama kamu, sampai kapan pun Istiqlal dan katedral hanya mampu berseberangan. Tanpa mampu berdampingan." ujar Citra.
"Aku dan Franky saling cinta, kita pacaran 3 tahun. Dari kelas 1 sampai kelas 3 SMA. Saat kelas 3 aku di kenalkan sama Mamanya Franky. Dan disitu lah konfliknya. Mamanya Franky sama aku baik banget. Tapi dia juga bilang kalau aku dan Franky harus sadar ada tembok besar di antara kita yaitu Tuhan. Dulu waktu kelas satu aku dan Franky gak pernah mikir tentang perbedaan. Tapi setelah di nasehati oleh Mama Franky, kita jadi sadar. Saat itu juga kita memtuskan untuk mengakhiri semuanya." Citra terdiam sejenak.
"Padahal waktu itu, aku dan Franky sama sama punya rasa cinta yang besar. Setelah lulus, SMA aku kuliah di Singapure. Dan Franky aku gak tau dia ada di mana. Awalnya jalanin hari-hari tanpa Franky itu berat banget. Kadang aku kayak orang gila. Ngomong sendiri ketika ingat Franky. Dan setelah mendalami ilmu agama Alhamdulilah aku sekarang udah bisa nutup aurat dan juga mampu melupakan Franky." ucap Citra.
"Terus kamu pernah ketemu sama Franky setelah lulus SMA?" tanya Tyas.
"Aku ketemu Franky satu tahun lalu. Di pernikahan dia," ujar Citra.
Tyas meringis mendengar cerita dari Citra. "Terus waktu kamu ketemu Franky gimana?" tanya Tyas penasaran
"Waktu aku ketemu Franky, awalnya sih biasa aja waktu denger dia mau nikah. Eh sehari sebelum dia nikah. Dia hubungi aku, kata Franky dia masih sayang sama aku. Aku kaget dong. Terus Franky tanya tentang perasaan aku. Aku jawab rasa sayang aku ke dia udah gak ada." ujar Citra.
"Jadi kamu juga ngalamin yang aku alamin juga 'kan?" tanya Citra.
***
Damar berada di ruangannya, tangannya memang berada di atas keyboard laptop miliknya. Tapi pikirannya melambung di kejadian tadi pagi. Ada 2 sisi yang ia rasakan. Di sisi yang pertama ia senang ketika mengetahui Zainabnya kembali. Tapi di sisi lain ia juga bingung karena keadaannya tak seperti dulu lagi.
Sekarang sudah berbeda, ada seorang yang menjadi status barunya. Sherena yah perempuan itu dia tak ingin menyakiti perempuan itu. Tapi perasaannya dengan Tyas masih ada dia bingung dia cinta Tyas namun tak bisa melepas Sherena.
"Ya tuhan apa yang harus aku lakukan!" Damar memijat pelipisnya. Pusing dan lelah dengan keadaan.
Tangannya beralih menarik laci di mejanya. Mengambil sebuah foto, foto itu foto Tyas. Yang ia ambil secara diam-diam. Perempuan berkerudung itu sedang tertawa lepas dengan sahabat-sahabatnya waktu SMA.
"Zainab, apa kamu masih ada rasa sama aku?" tangannya mengusap foto itu. Air matanya menetes, hanya dengan Tyas lah Damar mudah menangis.
"Kalau masih ada rasa sama aku. Maafkan aku yang udah sakiti kamu untuk kesekian kalinya. Kamu gak pernah bahagia di samping aku." ujar Damar berdialog sendiri.
"Benar yang di katakan Langga. Di luar sana masih banyak pria yang pantas buat kamu. Bukan seperti aku yang pengecut," ujar Damar lagi.
Otaknya memutar kembali memory-memory indah bersama Tyas dulu. Dari dirinya yang jahil kepada Tyas hingga kecanduan dengan Senyum bulan sabit milik Tyas.
Di sisi lain Tyas duduk di ruangannya. Dengan pandangan mata yang kosong. Ia rindu dengan lelaki itu, ia masih memiliki rasa dengan lelaki itu. Bahakan kalung 9 tahuan lalu yang di berikan oleh Damar pun masih ia kenakan.
Tapi batinnya menjerit, ketika menyadari bahwa Keyakinannya dan Damar berbeda. Tuan Willy tidak akan tinggal diam ketika tau bahwa dirinya kembali dekat dengan anaknya.
Jujurnya Tyas tak ingin menyakiti Damar. Cukup dulu karenanya Damar sampai menginap di rumah sakit. Sekarang jangan sampai lelaki kesayangannya itu memakai baju pasien dengan muka babak belur.
"Aku merindukan mu.. " ucap Tyas Lirih menghapus sisa air matanya.