Aku datang bukan untuk bersama, tapi aku datang untuk menyelesaikan semuanya:)
Damar Prastya
_________________________________
Tyas masuk kedalam ruangan kerjanya di hari ketiga ia berkerja di Hospital International Jakarta. Tyas duduk di kursi dengan beberapa tumpukan berkas riwayat kesehatan pasien. Tyas mengambil ponsel miliknya Yang tergeletak di atas meja. Saat melihat ada sebuah notifikasi dari nomor yang tidak ia kenal.
0822*****
Assalamualaikum,
Temui aku di taman belakang
rumah sakit jam istirahat.
Tyas mengerutkan keningnya. Ia tak tau siapa yang mengirim pesan tersebut. Lantas ia membalas pesan itu.
'Walaikumsalam,
Maaf ini siapa ya?'
Tak lama ponselnya kembali berdering. Sebuah pesan masuk
'Damar Prastya'
Tyas membaca pesan itu dengan , jantung yang berdetak lebih kencang. Dua kata itu membuat tangannya bergetar. Tyas pun membalas pesan Damar dengan mengiyakannya.
Tyas meletakan kembali ponselnya di meja. Pikirannya kalut. Tyas takut jika ia masih memiliki rasa namun Damar tidak sama sekali.
Karena memang perpisahan mereka yang cukup jauh. tapi bukankah cinta akan datang dan pergi tiba-tiba? Sejujurnya ia takut, apalagi jika membayangkan Damar sudah memiliki wanita lain. Tyas memejamkan matanya sejenak. Dan mengetukkan kepala kepada pinggiran meja. Sembari berdoa yang baik-baik.
Ia berharap, bisa memperjuangkan lagi cintanya. Meski Tyas tahu semua ini tidak mudah. Taun Willy tidak akan diam saja. Tapi Tyas yakin, Allah akan melancarkan semuanya. Jika benar, Damar adalah jodohnya.
Tyas menghela nafas berat. Meski sangat gugup, ia harus tetap bekerja. gadis itu berdiri dari tempat duduknya. Lalu melangkah untuk mengecek kondisi pasien-pasiennya. Ia mencoba melupakan sejenak masalah yang sedan ia pikul.
****
Damar tau ini keputusan yang akan membuat sakit di hati Tyas. Ia tau betul Tyas masih menyimpan rasa itu dengan baik. Ia mengetahui semuanya dari Stella sahabat yang sekaligus kakak dari Tyas. Ia kembali melirik tak minat berkas-berkas di depannya.
Kepalanya sudah sangat pusing. Memikirkan semua ini. Mungkin lagi dan lagi, Damar akan menyakiti Tyas.
Rasa moodnya sedang anjlok hari ini. Damar masih memikirkan bagaimana cara untuk menyampaikan semuanya kepada Tyas. Sekarang pukul 10 pagi, 2 jam lagi ia akan bertemu dengan Tyas.
Jantung Damar berdetak lebih kencang dari biasanya. Bahkan dia masih sedikit merasakan rasa itu. Rasa ingin memperjuangkan Tyas, tapi sepertinya sia-sia. Kini bukan hanya keselamatannya yang terancam tapi juga keselamatan Tyas yang menjadi incaran keluarga besarnya.
Belum lagi satu nyawa yang akan melayang jika Damar memilih Tyas. Sherena, bagaimana jika wanita itu tau bahwa dirinya kembali lagi kepada Tyas? Damar sungguh tidak mau menyakiti perasaan Sherena. Sherena sangat baik. Dan sekarang Sherena telah menjadi istrinya. Jadi Damar benar-benar tidak ingin menyakiti siapapun.
Cukup Tyas yang tidak pernah bahagia di sampingnya. Tapi biarkan ia membahagiakan Sherena.
***
Setelah sholat Dzuhur, Tyas menunggu Damar di taman belakang rumah sakit. Taman ini tidak sepi sangat ramai. Banyak pengunjung rumah sakit maupun beberapa pasien yang hanya sekedar menghirup udara segar.
Tyas tidak perlu khawatir. Tapi ia juga takut, takut jika ekspektasinya berbeda.
Tidak berapa lama lelaki berjas itu duduk di sebelah Tyas. Jarak mereka cukup berjauhan. Mungkin karena terbiasa sejak dulu, mereka selalu menjaga jarak.
Tyas berada di ujung kanan dan si lelaki berada di ujung kiri. Tyas diam menundukkan pandangannya. Jantung keduanya berdetak lebih kencang. Damar sendiri, ingin langsung memeluk Tyas. Karena sangat merindukan Tyas. Tapi ia sadar, itu tidak akan terjadi.
"Apa kabar?" keduanya tertegun. Mereka mengucapkan kalimat itu secara bersamaan. Saking gugupnya.
Tyas menatap bola mata berwarna coklat terang di depannya. Ada banyak rindu, luka dan bahagia yang terpancar di bola mata milik Damar. Sementara Damar menatap bola mata berwarna hijau itu, ia melihat luka yang mendalam serta rindu yang terpendam.
Damar jadi tidak tega untuk mengungkap kan semua yang terjadi kepada Tyas. Ia tak ingin Tyas tersakiti lagi olehnya. Tapi bagaimana jika Sherena tau semuanya. Damar sungguh bingung harus melakukan apa.
"Kamu apa kabar?" tanya Tyas di iringi dengan senyuman bulan sabit miliknya.
Damar tertegun melihat senyum itu lagi ia sungguh tidak menyangka jika bisa melihat senyum yang membuatnya jatuh hati kepada wanita di depannya ini.
"Baik kamu sendiri gimana?" tanya Damar kembali.
"Alhamdulilah," balas Tyas tersenyum lagi.
Damar mengangguk ia benci posisi ini. Posisi dimana mereka menjadi canggung. Padahal dulu ia pandai mencairkan suasana ia merutuki dirinya sendiri karena sifat playboy yang ia miliki sudah hilang. Harusnya tidak seperti ini bukan?
Damar menatap Tyas yang masih tersenyum sembari memainkan ujung kerudungnya. 'Sherena maaf kan aku,' batin Damar.
"Kenapa baru sekarang? Saya pikir kamu sudah lupa dengan saya," ujar Tyas menatap langit berwarna biru di depannya. Gaya bahasa Tyas masih sama.
"Maaf," hanya itu yang bisa di ucapkan oleh Damar sembari menunduk.
"Kenapa minta maaf. Kamu tidak berniat untuk pergi lagi 'kan?" ujar Tyas menengok kearah Damar yang menatapnya kaget.
"Damar, apa semua yang kamu rasakan ke saya itu masih ada?" tanya Tyas sembari menatap bola mata coklat terang itu.
Damar Diam. Ia bingung harus menjawab apa. Dia ingin mengatakan semua kepada Tyas. Tapi ia tak ingin menyakiti Tyas lagi. Ia tak sanggup berada di posisi ini.
Tyas masih setia menunggu jawaban dari Damar.
"9 tahun bukan waktu sebentar. Saya gak tau apa yang di tutupi oleh kak Stella dan bang Langga. Dan saya juga gak tau apa semua ini berkaitan dengan kamu. Tapi saya harap, itu bukan sesuatu yang besar," ucap Tyas kepada Damar. Damar masih terdiam.
"Jadi?" tanya Tyas kepada Damar.
Damar mengangguk. Tyas masih menaikan satu alisnya ke atas.
"Iya, aku masih mencintai kamu," ujar Damar kepada Tyas, dalam hati Damar berkata.
'Maafkan aku Sherena, aku gak mau sakiti Tyas lagi. Dan aku tidak bisa membohongi perasaan 'ku.'
Damar tidak apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang ia harapkan, tidak ada yang tersakiti di antara mereka. Tapi itu tidak mungkin. Pasti akan ada yang mengalah di antara mereka.
Siang itu di bawah langit biru, keduanya tersenyum cerah. Damar dengan senyum yang tak di tampakkan sejak 9 tahun lalu. Sementara Tyas meski dengan merasakan senang yang luar biasa tapi, ia merasa ganjal dengan Damar. Tyas akan mencari taunya sendiri. Damar nampak berbeda.
Meski mencoba untu berpikir positif. Tapi tetap saja, ada pikiran tidak baik dari Tyas. Apa ini feeling? Atau hanya sekedar ketakutan?
"Damar, apapun nanti. kita hadapi sama-sama. Sampai Tuhan mengizinkan kita bersama," ujar Tyas menatap Damar dengan tulus.