Izin kan aku bersikap egois.
Damar Prastya
__________
Stella menatap Langga yang duduk di depannya.
"Kenapa?" tanya Langga.
"Aku liat dari kemarin Tyas senyum-senyum sendiri. Apa mungkin mereka udah ketemu?" ujar Stella kepada Langga.
Langga menghela nafas.
"Aku gak mau Tyas tersakiti, Mas. Apa kita jujur aja sama Tyas?" usul Stella.
"Jangan, " ujar Langga.
"Kenapa?"
"Sayang, kamu pernah liat Tyas bahagia sebelumnya?"
Stella diam, ia mencoba mengingat-ingat semuanya. Stella tau Tyas tidak pernah bahagia. Perempuan itu menggelengkan kepalanya.
"Kita biarin Tyas bahagia, dulu," saran Langga. "Sebelum dia tahu semuanya."
****
Di kamar inap Sherena, Damar duduk sedang berfokus pada ponselnya. Sherena menatap bingung Damar. Biasanya Damar tidak terlalu memperhatikan ponselnya.Tapi kenapa sekarang berbeda?
Sherena masih melihat kearah Damar yang kadang tersenyum sendiri. Dan hal ini membuat Sherena takut.
"Mas kamu lagi chattingan sama siapa?" tanya Sherena sedikit takut kepada Damar.
Damar menatap Sherena kembali menyimpan ponselnya di saku bajunya. "Iya, itu tadi client yang chating aku.." ujar Damar sembari tersenyum kepada Sherena.
'Mana ada chattingan sama client senyum-senyum sendiri' batin Sheren. Sebenarnya wanita itu ingin mengungkapkannya secara langsung tapi ia masih takut jika Damar tersinggung dengan ucapannya.
Di sisi lain, Tyas menatap ponselnya. Damar tidak lagi membalas pesannya. Wanita itu pun akhirnya beranjak dari ranjang dan pergi ke dapur.
Tyas menuangkan air putih ke dalam gelas. Sembari menunggu balasan chat dari Damar. Namun tidak ada tanda-tanda Damar akan membalas pesannya.
Tyas pun berjalan menuju kamar lagi. Dan merebahkan dirinya di atas ranjang. Tak lama pun ia terlelap kedalam alam mimpi.
****
Dengan senyum mengembang, Tyas menyusuri koridor rumah sakit. Tak berapa lama ia melihat Citra yang sedang berjalan kearahnya.
"Yas temenin aku ke kantin yuk lapar nih," ujar Citra.
"Ya udah deh yuk," ajak Tyas. "Kamu belum sarapan emang? "
"Belum, makannya ini mau makan, " ujar Citra.
Citra dan Tyas berjalan menuju kantin, sampai di kantin. "Kamu mau pesan makana gak?" ucap Citra menawari Tyas.
"Enggak deh. Coffe aja..." ujar Tyas. Citra pun berlalu menuju stand makanan.
Tak berapa lama Citra datang membawa Makanan yang ia pesan, dan pesanan Tyas juga.
"Terima kasih Citra..." ujar Tyas membuat Citra Tersenyum.
Tyas kembali fokus dengan ponselnya. Sesekali dia tersenyum membuat Citra mengerutkan keningnya bingung.
"Kamu kenapa sih senyum-senyum sendiri? Lagi chatiingan sama siapa tuh!" tanya Citra.
"Eh gak pa-pa kok. Bukan siapa-siapa, Temen lama aja, " ujar Tyas tersenyum kepada Citra.
Citra mengangguk, setelah menyelesaikan sarapannya. Mereka berdua kembali kerangan masing-masing. Karena jam kerja sudah mulai. Tyas dan suster Helen berjalan menuju bangsal Kamboja.
Tyas masuk kedalam ruangan itu, terlihat Sherena sedang tertidur. Tyas mengecek kondisi Sherena, Sherena pun terbangun.
"Maaf anda jadi bangun... " ujar Tyas.
Sherena tersenyum." Iya gak pa-pa dokter.." balas Sherena.
"Suster catat semuanya, ya.. " ujar Tyas kepada suster Helen
"Bagaimana kondisi saya dok?" tanya Sherena kepada.
"Kondisi anda stabil.. " ujar Tyas.
"Oh iya anda sudah makan?" tanya Tyas.
"Sudah dok. Tadi pagi di suapin suami saya..." jawab Sherena tersenyum, karena mengingat setiap pagi Damar menyuapinya.
"Oh, anda beruntung sekali memiliki suami seperti suami anda," ujar Tyas kagum.
"Dia yang gak beruntung dapat saya, dok.." ujar Sherena sedih.
"Saya sudah siap jika suatu hari nanti dia bakal nikah lagi. Atau bahkan sampai meninggalkan saya..." ujar Sherena membuat Tyas mengerutkan keningnya bingung.
"Kok anda bilang seperti itu?" ucap Tyas.
"Saya tau Dok selama ini dia hanya kasihan kepada saya. Dan saya yakin dia tak mencintai saya, ungkap Sherena.
"Innalilahi. " ujar Tyas. "Kenapa anda berbicara seperti itu. Jangan berburuk sangka," ujar Tyas menenangkan Sherena.
"Saya sadar diri dok," sahut Sherena.
Tyas menatap iba Sherena.
Sherena menghapus air matanya kasar.
"Maaf dok saya jadi curhat..." ujar Sherena tersenyum kembali.
"Iya tidak pa-pa. Mbak Sherena muslim?" tanya Tyas Sherena menggelengkan kepalanya.
" Saya katolik," jawab Sherena.
"Oh maaf saya kira-" ujar Tyas tak enak.
"Tidak pa-pa saya maklum kok." ujar Sherena.
"Ya sudah mbak. Saya permisi dulu.." ujar Tyas lalu pergi meninggalkan Sherena. Sherena hanya tersenyum.
Tanpa Sadar di balik jendela ruang inap Sherena Damar menguping semua ucapan Sherena dan Tyas. Damar terdiam ia menyandarkan tubuhnya di tembok. Lelaki yang akan memasuki kepala 3 itu delema.
"Tuhan mana yg harus saya pilih. Aku tidak ingin menyakiti keduanya," gumam Damar menatap langit biru di depannya.
****
Di restoran yang tak jauh dari rumah sakit. Damar dan juga Tyas sedang makan malam. Tyas tampak menikmati makanannya. Sementara Damar hanya mengacak-ngacak makanannya dengan pandangan mata kosong kearah depan.
Tyas menyeruput minumannya.
"Damar kamu kenapa?" tanya Tyas Damar menengok kearah Tyas.
Damar tersenyum tulus kepada Tyas.
"Aku gak pa-pa kok. Makan lagi, ya, " ujar Damar.
"Damar dari awal kita ketemu. Saya yakin ada yang kamu sembunyikan. Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan?" tanya Tyas kepada Damar membuat Damar terdiam.
5 detik kemudian, Damar masih diam. Tyas masih menunggu jawaban Damar.
"Oke kalau kamu tidak mau berkata itu semua ke saya. Saya gak masalah, gak semua masalah kamu saya harus tau. Tapi jika masalah kamu menyangkut saya, saya mohon beritahu saya," ujar Tyas kepada Damar. Damar mengangguk.
"Sekarang kamu makan. Saya tidak mau kamu sakit," ucap Tyas serius. Damar tersenyum, lalu memakan makanannya.
Mereka berbincang hangat lagi. Damar tidak lagi murung ia memilih untuk tidak menunjukan semuanya kepada Tyas.
"Babe, kamu itu gak berubah ya dari dulu. Masih tetap manggil aku pakek 'Saya' upgrade ke jadi aku," ucap Damar kembali ceria.
"Gak tau kenapa kalau sama kamu, saya canggung," ujar Tyas jujur.
"Hahaha... Masih deg-degan ya babe? Aduh jadi bergetar hati abang..." ucap Damar lebay. Mungkin dengan cara seperti ini ia bisa meyakinkan Tyas lagi.
"Kamu juga gak berubah. Tetap receh gombalan kamu..." balas Tyas.
"Gombalan aku aja gak receh apa lagi perasaan aku, " ujar Damar membuat Tyas tertawa geli. Damar juga sama. Ia tertawa, begitu bahagia. Keceriaan yang selama ini ia kubur, ia keluarkan kembali saat bersama Tyas.
Biarlah Damar bersikap egois. Karena dia tidak bisa memilih antara Sherena dan Tyas. Yang terpenting sekarang, bagaimana cara ia tetap seperti ini. Tidak menyakiti Tyas ataupun Sherena.
Tanpa mereka sadari dari pojok restoran seorang memotret Damar dan Tyas. Setelah memotret mereka. Setelah selsai memotret. Seorang itu langsung pergi meninggalkan restoran.