20. Drama Perkenalan

2074 Kata
Rendi menganggukan kepala nya dengan cepat tanda setuju akan ucapan Ranti adik nya itu. Ranti pun segera melepas seat belt nya dan keluar dari mobil Rendi untuk segera melangkah berbarengan dengan Rendi menuju arah pintu masuk ke salah satu perusahaan terbesar di negara nya itu. Sejauh mata memandang Ranti selalu saja terkesima oleh setiap sisi ornamen-ornamen yang ada di bagian lobi perusahan besar itu. Rendi mengajak Ranti melanglahkan kaki nya ke salah satu tempat menunggu yang ada di lobi itu. "Dek, tunggu disini ya.. Kakak akan cepat kembali setelah menyerahkan beberapa lembar dokumen kontrak ini." Ucap Rendi cepat dan tersenyum kecil ke arah Ranti, lalu mengusap gemas kepala Ranti sebelum ia pergih dan menaiki lift saat Ranti mengaggukan kepala nya tanda setuju akan printah Rendi sang kakak. Bruk.. suara beberapa map dan lembaran kertas bertebangan jatuh ke lantai yang dekat dengan Ranti yang saat ini lagi terduduk manis di sofa. Ranti pun segera bangkit dari duduk manis nya dan membantu pegawai yang sedang kesusahan merapihkan dan mengumpulkan lembaran-lembaran kertas yang saat ini berantakan di lantai. "Terimakasih." Ucap karyawan pria itu cepat saat melihat Ranti membantu nya mengumpulkan kertas dokumen yang saat ini berserakan di lantai. Ranti tersenyum kecil, ia segera mengambilkan satu kertas yang terakhir dan memberikan nya kepada karyawan pria itu dengan cepat. Ia pun berucap "Sama-sama." Ucap Ranti cepat dan tersenyum lebar ke arah pria yang baru saja ia bantu itu. Karyawan pria itu pun bebalik tersenyum ke arah Ranti sebelum ia pergi melanjutkan kembali perkerjaan nya. Ranti kembali lagi duduk manis di sofa ruang tunggu yang sangatlah nyaman untuk di singgahi itu. Tampa Ranti ketahui seseorang sedari tadi sudah menatap nya dengan sebuah senyuman misteri dari arah kejahuan sana. "Ranti, ayo.." Ucap Rendi cepat saat ia sudah menyelesaikan tugasnya dan meminta izin untuk keluar sebentar karna urusan yang mendesak yaitu Ranti sang adik yang akan ia antar kepulangan nya ke rumah. Ranti pun tersenyum kecil sebelum ikut melangkah bersama dengan Rendi meninggalkan lobi perusahaan yang super menabjupkan untuk Ranti orang awam yang baru pertama kali ini memasuki nya. "Siang, Pak Rendi." Sapa seseorang dengan cepat yang mana membuat langkah kaki Rendi dan Ranti terhenti seketika sebelum benar-benar meninggalkan lobi perusahan besar itu. Rendi dengan cepat memutarkan tubuh nya dan menatap ke arah belakang yang disana tengah berdiri sosok pria yang amat ia kenali itu. "Siang juga, Pak." Ucap Rendi cepat dan menundukan kepala nya dengan cepat. Ranti pun ikut melihat ke belakang dan membukan kedua mata nya terkejut atas seseorang yang sedang tersenyum simpul memandangi nya itu. "Kau ingin kemana?" Tanya sosok pria itu cepat dan tersenyum ramah. "Begini Pak, saya akan bertemu salah satu klien sebelum jam sebelas nanti di resto terdekat dari sini.. tapi sebelum itu saya ingin mengantar adik saya pulang terlebih dahulu ke rumah saya." Ucap Rendi cepat dan menjelaskan sejujur nya apa yang akan ia lakukan nanti nya. "Wah, kau bukan hanya pegawai yang cerdas namun juga kakak yang sangat baik.. Pak Rendi." Ucap Erik cepat dan tersenyum lebar ke arah Rendi dan Ranti. "Ah, Bos terlalu memuji saya." Ucap Rendi cepat dan merasa bangga akan diri nya yang di puji oleh seseorang pengusaha yang sangat ia kagumi sedari dulu yaitu sang bos nya adalah Erik. Ranti hanya bisa terdiam, melihat Erik dengan penuh senyuman simpul seperti itu membuat nya sedikit takut akan hal yang akan terjadi. Seperti nya Erik adalah bos dari Rendi kakak nya dan hal itu tambah membuat Ranti menahan rasa sesak di hati nya saat mengetahui hal itu. Erik menatap ke arah Ranti dengan cepat sebelum ia kembali berucap "Dan ini pasti adik mu, Pak Rendi?" Ucap Erik cepat sambil menunjuk ke arah Ranti dengan senyuman simpul di bibir nya. "Ada apa dengan nya? Apakah ia juga bermaksud untuk mendekati orang-orang yang berada di dekat ku untuk memojokan ku." Pikiran Ranti entah melayang kemana, Ia tak percaya bahwa Erik tak mengetahui kalau Rendi adalah kakak dari Ranti. "Benar, Pak.. kenalkan dia adalah Ranti Silvia adik ku satu-satu nya." Ucap Rendi cepat dengan senyuman tulus yang ia tunjukan ke arah Erik sang Bos yang sangat ia hormati itu. "Ohh, kalau begitu salam kenal.. Ranti, nama ku adalah Erik Fantony atasan Rendi kakak mu yang berkerja di perusahaan ku yang terbesar di negara ini." Ucap Erik cepat dan tersenyum penuh dengan aura kesombongan nya. Ranti terdiam melihat uluran jabatan tangan yang Erik layangkan kepada nya, bagaimana mungkin Erik lupa dengan Ranti secepat itu? Itu tidak lah wajar, Erik pasti sengaja berpura-pura tak mengenali dirinya. Ingin sekali Ranti membalas ucapan Erik yang super sombong Itu, namun di samping nya kini ada Rendi ia tak mungkin melakukan hal itu terlebih lagi Erik adalah Bos di tempat Rendi sang kakak nya berkerja itu. Tap.. Ranti dengan cepat menjabat uluran tangan Erik dengan senyuman terbaik nya ia berusaha tampilkan di depan Erik sang aktor yang pintar menaikan drama itu. Kenapa tidak? Ranti akan dengan polos mengikuti alur yang telah di ciptakan oleh tokoh utama nya itu. "Senang juga bisa berkenalan dengan pengusaha hebat seperti mu, Pak Erik." Ucap Ranti cepat dan tersenyum lebar seolah-olah tak ada beban yang ia tanggung saat ini. Erik menaikan sebelah alis mata nya dan tersenyum miring, ternyata benar Ranti tidak akan membuat masalah untuk kakak tercinta nya yang saat ini sedang berdiri di samping nya itu. "Baiklah, kalian bisa pergi.. selamat berkerja untuk mu Pak Rendi dan juga adik nya yang sangat ramah ini." Ucap Erik cepat terkesan ada sedikit kata yang menyinggung ke arah Ranti. "Baik, Pak." Ucap Rendi cepat dan segera menundukkan kepala nya dengan cepat sebelum Erik pergi melangkah ke arah yang sama yaitu keluar gedung perusahaan ternama itu. "Kak Rendi, apakah Pria tadi itu adalah Bos kakak?" Tanya Ranti cepat dengan wajah penasaran nya itu, ingin memastikan kembali apa yang telah ia lihat dan dengar tadi. Rendi sontak tersenyum dan segera menganggukan kepala nya kecil dengan cepat sebelum ia berucap "Iya, Dek.. kenapa? Kamu suka ya?" Tanya Rendi cepat tampa basa-basi yang mana membuat Ranti sontak membuka mulut nya lebar-lebar akan penuturan tak masuk akal kakak semata wayang nya itu. Bagaimana bisa Ranti menyukainya? Pria pemarah dan sombong itu? Hah.. lebih baik Ranti mencari pria lain yang lebih baik dari pada harus menyukai pria sombong seperti Erik itu. "Tidak! Ranti, tidak akan pernah menyukai nya." Ucap Ranti cepat langsung menolak yang mana membuat Rendi menaikan sebelah alis mata nya bingung memandang wajah kesal Ranti sang adik nya itu. Rendi sontak tertawa terbahak-bahak, satu kata sangat lucu bagi nya perkataan sang adik. Bagaimana bisa Ranti menolak begitu keras, terhadap seorang pria sesempurna bos nya itu. Apakah adik nya mempunyai kelainan? Pasal nya, Sang Bos nya itu hampir sama sekali tak mempunyai celah keburukan. "Kenapa kau menolak pria sesempurna itu, Ranti? Dia sangat cocok dengan mu berkerja keras dan penuh dengan ambisi." Ucap Rendi cepat dan tersenyum penuh kejahilan. Ranti menghela napas nya dengan panjang ada sedikit rasa tak rela baginya saat di samaka dengan sosok pria menyebalkan itu. Bagaimana bisa ia sama dengan pria arogan dan tak tau sopan santun itu. "Sudahlah Kak Rendi, Ranti saat ini hanya ingin pulang dan istirahat dengan tenang di rumah." Ucap Ranti cepat merasa tak akan habis-habis percakapan nya dengan sang kakak yang akan terus membela sang pria arogan itu. "Baiklah, kau boleh menghindar dari pertanyaan ku saat ini.. adik ku tersayang." Ucap Rendi cepat dan tersenyum penuh kejahilan ke arah Ranti sementara sang adik hanya bisa memutar kedua bola mata nya jengah melihat sang kakak yang terus saja menjahili nya itu. "Ranti, Kakak mau pergih ke luar kota lagi." Ucap Rendi pelan memecahkan keheningan suasana di dalam mobil itu. Ranti sontak menatap sang Kakak nya dengan serius dan berucap "Berapa lama? bukannya Kakak baru aja pulang ya." Protes Ranti cepat sambil mengembungkan kedua pipi nya. "Ada tugas mendadak." Balas Rendi cepat sambil menyetir mobil nya melewati jalanan ibu kota yang lumayan sepi itu. "Apa Bos Kakak itu yang terus-menerus meminta Kakak lakuin segala tugas nya?" Tanya Ranti cepat tampa pikir panjang akan ucapan nya yang baru saja ia ucapkan itu. Rendi sontak menatap ke arah Ranti dengan cepat dan mengerutkan kedua alisnya bingung melihat sikap Ranti yang agak kurang sopan mengenai sang Bos Rendi itu. tak seperti sosok Ranti yang lemah lembut yang ia kenal, dan kenapa Ranti sangat terlihat tak menyukai nya. "Stop Ranti, Kakak ngga pernah ya ajarin kamu ngomong kaya gitu apalagi ke orang yang lebih tua dari kamu.. dia itu Bos Kakak wajar jika dia nempatin perkerjaan Kakak dimana pun, kamu ngga boleh ikut campur urusan perkerjaan Kakak kaya gitu." Ucap Rendi cepat berusaha menasehati sang adik yang sudah menurutnya kelewatan berbicara itu. Deg, Ranti terdiam bukan maksud dirinya untuk berbicara tak sopan tentang Erik sang bos kakak nya itu. namun andai saja Rendi mengetahui seperti apa sifat sebenar nya dari Erik mungkin Kakak nya itu tidak akan menegur nya saat ini. Tapi apa yang harus ia katakan mengenai Erik? bahwa Erik lah yang telah menabrak motor Ranti, akan kah Kakak nya itu percaya akan ucapan nya nanti? 25 menit kemudian, Ranti segera melepas selt bet nya dengan cepat saat mobil Rendi sudah sampai ke depan rumah. "Sampaikan salam ku pada, Ibu." Ucap Rendi cepat sebelum Ranti menutup pintu mobil nya. Ranti menggelengkan kepala nya dengan cepat dan segera berucap "Kak Rendi emang ngga bisa ya istirahat sebentar terus temuin Ibu dulu." Ucap Ranti cepat merasa sang kakak sangat patuh akan jam kerjanya itu. "Ranti, sebentar lagi kakak mau ketemu klien." Ucap Rendi cepat sambil mengulaskan senyuman kecil nya ke arah sang adik. "Tapi kan, Kak Rendi mau pergih kerja di luar kota selama sebulan lagi." Ucap Ranti pelan dengan raut wajah sedih nya itu. "Insyaallah, Kakak bakal pulang ke rumah dulu sebelum berangkat." Ucap Rendi cepat dan berusaha tersenyum kecil kepada sang adik mencoba agar ia bisa memahami ke adaan nya itu. "Oke, hati-hati di jalan.. Ranti dan Ibu akan selalu menunggu kepulangan Kakak untuk berpamitan." Ucap Ranti cepat dan mencoba memaklumi sang kakak dan perkerjaan nya itu. Ranti menghela napas nya panjang. Setelah melihat laju mobil sang kakak nya pergih meninggalkan perkarangan rumah nya itu, Ranti dengan cepat membuka pintu pagar rumah nya dan masuk ke dalam bangunan rumah berukuran sederhana yang sedari dulu ia tempati itu. Tak begitu lama terdengar suara lantunan ayat suci al'Quran menggema di kedua telinga nya itu. Seorang wanita yang sedang mengaji dengan serius dan menenangkan hati tepat berada di hadapan Ranti saat ini. tidak lain dan tidak bukan itu adalah sang Ibu. Ranti perlahan-lahan mendekati Bu Windy dan ikut duduk di sofa yang dimana Bu Windy sedang mengaji disana. sekitar 10 menitan Bu Windy menyudahi membaca kitab suci al'quran lalu langsung menatap Ranti dengan pandangan bahagia. Ranti pun segera mengecup punggung tangan Bu Windy dengan penuh rasa hormat. "Sudah pulang, Ranti?" Ucap Bu Windy pelan dan tersenyum senang memandang putri tersayang nya yang saat ini sedang terduduk di samping nya itu. Ranti menganggukan kepala nya dengan cepat dan tersenyum lebar. Bu Windy pun dengan gemas segera mencubit pipi kanan Ranti dan tertawa kecil. Anak nya ini tidak pernah berubah sama sekali ia tetap menjadi anak yang manja dan penuh dengan kasih sayang. "Ya sudah, gantilah pakaian mu dulu abis itu turun ke bawah Ibu sudah memasak makanan ke sukaan mu loh." Ucap Bu Windy cepat dan tersenyum. "Terimakasih Ibu ku tersayang, anak mu Ranti ini akan segera mengganti pakaian nya dengan cepat." Ucap Ranti cepat dan tertawa kecil berbarengan dengan Bu Windy yang menggelengkan kepala nya merasa Ranti sangatlah kekanak-kanakan itu walau di usia nya yang sudah bukan lagi remaja. Dengan cepat Ranti menaiki anak tangga di rumahnya itu, melangkah menuju ke kamar nya yang sedari dulu ia singgahi itu. namun tak begitu lama saat Ranti meletakan ponsel nya di atas tempat tidur, ponsel itu pun langsung berbunyi dan bergetar satu notifikasi muncul di atas layar pipih itu. Ranti yang penasaran pun segera membuka pesan masuk dari nomer yang tidak ia kenal itu. "Berkerjalah dengan ku." Isi pesan yang tertera di layar ponsel Ranti. Ranti terdiam tak mengerti mengapa akhir-akhir ini ia sangat sering mendapatkan pesan aneh terlebih lagi baru kemarin ia mendapatkan kiriman paket aneh. Ada apa sebenarnya? apakah ada orang yang sedang iseng menjahili nya. tapi siapa? Ranti tak pernah mempunyai masalah dengan siapa pun, apakah ia harus mengganti nomer ponsel nya? karna tentu saja nomer ponsel yang Ranti gunakan ini adalah nomer ponsel yang sudah sangat lama ia gunakan sedari smp.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN