Ranti kembali ke arah kursi duduk nya itu, ia mengerti mengapa kedua perawat itu sangat takut saat mengetahui Ranti berada di sana. Karna sejak penandatanganan kontrak kerja di rumah sakit cahya delapan ini, semua dokter termaksud perawat tidak boleh bergosip apa lagi membicarakan tentang rumah sakit atau pemilik rumah sakit dengan leluasa mereka.
Jam istirahat Ranti pun telah usai, kini ia harus kembali memeriksa beberapa pasien dengan salah satu dokter yang baru ia ketahui nama nya itu. Namun sosok nya? entahlah Ranti sendiri tidak pernah melihat atau pun berpapasan muka dengan dokter itu. Tak berselang lama Ranti keluar dari ruangan istirahat di perjalanan menuju ke ruangan sang dokter yang akan Ranti temani untuk memeriksa pasien, seorang dokter wanita pun tersenyum kearah nya.
"Suster Ranti, nama mu Ranti bukan?" Ucap salah seorang wanita yang berjubah putih panjang menandakan seorang dokter itu dengan cepat menatap ke arah Ranti.
Ranti tersenyum kecil dan menganggukan kepala nya dengan cepat ia pun berucap "Iya, saya Ranti.. apakah anda Dokter Linda?" Tanya Ranti cepat dengan sebuah senyuman ramah yang terukir di bibir nya itu.
"Benar, ayo.. tugas kita masih sangatlah menumpuk dan pasien mungkin akan tertidur lebih dahulu sebelum kita datang." Ucap Dokter Linda itu cepat dengan tertawa kecil.
Ranti hanya bisa tersenyum, sosok wanita di hadapan nya ini sangatlah cantik. Bagaimana bisa ada wanita secantik itu di dunia ini? sungguh kuasa allah maha besar, satu persatu kamar rawat pasien Ranti datangi bersama dengan dokter Linda menjalankan tugas mereka masing-masing sebagai seorang dokter dan perawat.
Hari sudah semakin larut, namun suhu tubuh Ranti tak kunjung menurun. Walau ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk tetap sadar dari demam nya itu, namun tetap saja gagal. Ranti menyenderkan tubuh nya di dinding lorong, berulang kali mata nya hampir terpejam karna tubuh nya saat ini sedang deman ia pun merasa gatal di hidung nya. Berjalan beberapa langkah Ranti menemukan bangku tunggu, ia pun segera mendudukan diri nya disana merasa tak kuat bila ia harus berjalan ke ruangan obat karna secara tak sengaja ia lupa meminum obat terlebih dahulu sebelum kembali berkerja. Miris bukan? seorang perawat lupa sendiri meminum obat nya, sungguh contoh yang tak baik bagi seluruh pasien nya.
Lorong rumah sakit terlihat hening dan tak ada satu pun yang lewat, tentu saja! saat ini Ranti tengah berada di lorong pasien Vip yang tak banyak perawat serta dokter berlalu lalang disana. Karna sangat menjaga kenyamanan pasien dan keluarga pasien, hanya dengan tombol pemanggil darurat barulah para dokter dan perawat berdatangan kesana. Dan secara bersamaan Ranti baru saja selesai memeriksa salah satu pasien Vip, sehingga dirinya bisa berada disitu.
"Apakah ada orang?" Lirih Ranti pelan berteriak memanggil seseorang.
Bau parfum yang sudah tak asing bagi Ranti menyeruak di hidung nya, samar-samar Ranti melihat bayangan hitam yang semakin lama semakin mendekati diri nya. Namun seakan kehabisan energi Ranti tak kuasa lagi menahan suhu tubuh nya yang terus saja meninggi Ranti pun menutup kedua mata nya secara tak sadar.
Sinar mentari pagi menyapa malu-malu wajah Ranti yang kini sedang terpejam, Ranti pun mengerjap-erjapkan kedua mata nya bingung melihat dirinya yang kini malah terbaring di kamar pasien. Kenapa bisa ia ada disini? siapa yang sudah menolong nya semalam? Ranti tak bisa mengingat dengan jelas wajah orang itu, karna demam nya semalam benar-benar cukup parah. Ranti pun segera bangkit dari kasur rumah sakit dan berjalan keluar ruangan karna merasa suhu tubuh dan dirinya sudah tak demam lagi.
"Apa kau langsung pergih begitu saja tampa mengucapkan terimakasih pada orang yang telah menolong mu?" Ucap seseorang dengan nada berat itu berhasil menghentikan langkah kaki Ranti.
"Kau?" Ucap Ranti lirih dan menatap tak percaya sosok yang ada dihadapan nya kini.
Erik segera menutup telepon nya saat melihat Ranti keluar dari kamar pasien, Erik pun tersenyum miring sebelum ia berucap "Apakah pergi secara diam-diam seperti ini menurut mu baik, nona Ranti?" Ucap Erik cepat dengan nada menyidirnya itu ia layangkan kepada Ranti.
Ranti pun teringat sesuatu, yaitu aroma khas milik Erik! ya, sebelum Ranti pingsan ia mengingat dan mencium aroma parfum khas yang saat ini menyeruak di penciuman nya Ranti karna Erik semakin berjalan mendekati nya. Ranti menundukan kepala nya dengan cepat, entah ini takdir atau kah kebetulan semata. Erik selalu saja hadir di kehidupan nya dan mengusik hidup Ranti secara lelusa, haruskah mulai sekarang Ranti menghindar dari Erik? tapi bagaimana caranya.
Tak.. tak.. tak.. tiga jentikan jari Erik di depan wajah Ranti berhasil membuat Ranti kembali tersadar dan menatap nya kembali dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Kau sedang apa, hah? melamun? heh, wanita cerewet seperti mu sangat aneh jika terlihat seolah-olah berpikir kau tau." Ucap Erik cepat dan tertawa geli melihat Ranti yang saat ini hilang pokus itu.
Ranti menggeleng dengan cepat, dan ia pun langsung menundukan padangan nya sebelum berucap "Maaf, dan terimakasih." Ucap Ranti cepat dan segera berlalu menjauh dari Erik.
Erik terdiam, melihat Ranti yang langsung menghindarinya sebelum beradu pendapat dengan nya entah mengapa membuat Erik kesal tampa alasan. Erik dengan kesal menendang bangku tunggu yang berada di dekat nya untuk meluapkan kekesala nya itu sebelum ia menghela napas nya kasar dan berjalan melawan arah dari langkah Ranti.
Tak terasa air mata Ranti mengalir keluar semakin ia melangkahkan kedua kaki nya menjauh dari Erik. Hinaan Erik kemarin sore masih membekas di hati dan juga pikiran nya, bagaimana bisa ia lagi dan lagi harus menundukan kepala nya kepada Erik? saat itu karna ia membutuhkan uang dan ini, saat ia tau Erik adalah salah satu orang yang berkuasa di rumah sakit tempat nya berkerja. Bagaimana bisa Ranti melawan nya? Takdir ini sangat kejam, kenapa Ranti bagaikan di dalam drama yang tak membolehkan nya menang walau sesaat saja? mengapa? Ranti, tau sifat Erik yang semena-mena tidak akan pernah berubah walau sudah bertahun-tahun lama nya.
Brak.. pintu ruangan mewah yang saat ini ingin Erik masuki di buka dengan cukup keras oleh Erik sangking ia merasa kesal karna di abaikan oleh Ranti. Yogi, yang saat itu berada di dalam sambil memeriksa ponsel kerja nya itu bahkan terserentak berdiri terkejut oleh Erik yang baru saja memasuki ruangan dalam ke adaan marah.
"Tuan?" Ucap Yogi cepat saat melihat Erik berjalan dengan amarah ke arah sofa.
"Bawakan semua berkas riwayat tentang Ranti, Yogi." Ucap Erik cepat dan tegas.
Yogi mengedipkan kedua mata nya terkrjut sekaligus merasa aneh akan sikap tuan nya itu, kemarin Erik pernah bilang untuk menyingkirkan semua hal mebgenai Ranti tapi sekarang Erik sang tuan nya itu meminta kembali semua berkas-berkas riwayat hidup seorang wanita yang bernama Ranti Silvia? Ada apa dengan tuan nya itu, mengapa ia bisa begitu tertarik akan seseorang wanita yang bahkan hanya baru beberapa saat bertemu.
"Yogi, kau tak mendengar printah ku!" Ucap Erik cepat dan menatap tajam ke arah Yogi yang saat ini terdiam takut-takut itu.
"Baik, Tuan." Ucap Yogi cepat dan segera pamit untuk keluar dari ruangan singgah Erik di rumah sakit itu.
"Kau akan merasakan akibat nya, jika mengabaikan ku.. Ranti." Gumam Erik cepat dan menatap kosong ke arah depan.
Disisi lain, Ranti terus saja bersin bagian hidung nya entah mengapa terus saja gatal sedari tadi. Jam sudah menunjukan pukul 09:13 pagi, dengan cepat Ranti segera berlari menuju ke arah pakiran motor nya dan melajukan sepedah motor nya keluar dari bangunan rumah sakit tempat nya berkerja itu.
Tsk.. motor metic nya tiba-tiba saja berhenti di tengah-tengah jalan bahkan ini belum separuh jalan untuk menuju ke rumah nya. Ranti memijit pangkal hidung nya pening, ia lupa untuk memeriksa motor nya sebelum pulang dari rumah sakit. Motor metic berwarna putih itu sudah cukup berumur tua karna Ranti mendapatkan saat ia berusia 17 th, terlebih lagi motor itu kehujaan dan tersenggol mobil Erik kemarin.
"Hah, bagaimana ini." Gumam Ranti bingung dan menatap lelah ke arah motor metic kesayangan nya itu.
"Kenapa hari ku sangat sial seperti ini." Rengek Ranti frustasi dan berusaha meluapkan rasa sesak di d**a nya kepada sebuah sepedah motor yang saat ini sedang mogok itu.
Tin.. bunyi klakson mobil membuat perhatian Ranti teralihkan dan menatap sebuah mobil yang sangat amat ia kenal sedang berhenti tepat di sebelah sepedah motor Ranti itu.
Clak.. pintu mobil pun terbuka dengan sangat cepat menampilkan sesosok pria yang membuat Ranti sontak tersenyum bahagia saat melihat nya itu.
"Kak Rendi." Ucap Ranti cepat dan segera bangkit dari terotoar jalanan ibu kota itu.
"Ngapain disini?" Tanya Rendi cepat merasa bingung melihat dari jauh sepedah motor Ranti menepi di terotoar jalanan yang bisa terbilang sepi dari para pedagang.
"Motor nya mogok, Kak Rendi." Ucap Ranti cepat dan mengeuluhkan kepada Rendi sang kakak nya itu.
Rendi sontak mengangkat satu alis nya terkejut, ia pun berucap "Loh kok bisa? Bukan nya baru minggu kemarin di servis ya, Dek." Ucap Rendi cepat dan segera memeriksa setiap sudut bagian motor Ranti dengan teliti.
"Cerita nya panjang, Kak Rendi." Jawab Ranti cepat merasa bingung dan khwatir jika ia menceritakan kejadian kemarin kepada Rendi sang kakak terbaik nya itu.
"Hah? Yaudah Kakak sewain mobil derek dulu dan bawa kebengkel.. kamu masuk gih ke mobil cuaca nya lagi panas banget." Ucap Rendi cepat dan segera menyuruh Ranti masuk ke dalam mobil nya.
Ranti dengan patuh masuk ke dalam mobil Rendi sang kakak dengan perasaan lega di hati nya, Ranti sendiri masih terbayang-bayang akan ucapan Erik dan sikap Erik yang sangat membuat hati Ranti terluka itu. Bagaimana bisa seorang pria begitu kejam kepada wanita? Hah, lagi dan lagi Ranti berperang pada diri nya sendiri. Erik bukan lah pria biasa, wajar saja ia begitu mudah melakukan apa pun tampa merasa bersalah sama sekali.
"Dek, sebelum kak Rendi antar pulang ke rumah kita mampir dulu ke tempat kerja perusahaan kakak yaa?" Ucap Rendi cepat dan segera memakai seat belt nya sebelum melajukan mobil nya setelah melihat motor metic Ranti telah di bawa oleh mobil derek yang ia pesan.
Renti hanya bisa menganggukan kepala nya dengan cepat dan tersenyum lebar menyetujui ucapan Rendi yang akan mengajak nya ke tempat perusahaan kakak nya itu. Tak berselang lama Rendi kembali berucap.
"Apa kamu mau beli motor baru aja, Dek" Tanya Rendi cepat dan sesekali menatap ke arah Ranti yang kini sedang duduk disamping kursi mengemudi itu.
Ranti sontak menggelengkan kepala nya dengan cepat, ia pun berucap "Ngga deh Kak, lagi pula baru beberapa kali aja kok motor nya mogok kaya gitu." Ucap Ranti cepat tak mau merepotkan kaka nya Rendi akan setiap masalah yang Ranti hadapi.
"Hm, oke.. tapi gimana kalau mogok nya pas malem-malem dan ada orang jahat yang melihat peluang dan samperin kamu, apa kamu ngga takut nanti?" Ucap Rendi cepat sambil mengemudikan laju mobil yang yang kini mengambil arah ke kanan persimpangan jalan.
Ranti sontak tertawa kecil, ia bahkan tak memikirkan hal itu akan terjadi. Tapi mengapa Rendi bisa terpikiran kesana? sungguh Rendi adalah kakak terbaik yang akan selalu Ranti sayangi dan hormati.
"Ranti, ngga kepikiran hal itu kak.. dan kalau pun terjadi maka Ranti akan menelpon kakak sesegera mungkin dan berlari menjahui penjahat itu." Jawab Ranti cepat dan tersenyum lebar ke arah Rendi.
Rendi pun terkekeh kecil dan satu tangan nya mengusap gemas kepala Ranti sang adik yang selalu bersikap tegar dan tak mau merepotkan dirinya. namun dibalik itu semua Ranti adalah seseorang yang sangat amat membutuhkan perhatian nya dan bantuan nya.
"Baiklah." Ucap Rendi cepat dan tersenyum kecil.
Laju mobil Rendi pun berhenti tepat di sebuah parkiran luar gedung pencakar langit yang amat menyilaukan sejauh mata memandang itu. Ranti menurunkan kaca mobil di samping nya dengan cepat dan melihat ke luar, merasa tabjub sekaligus terharu karna bisa melihat dari dekat sebuah perusahaan besar dan ternama di negara nya itu.
"Wah, perusahan kakak emang kelihatan sangat besar ya." Ucap Ranti lirih dan tersenyum lebar melihat sebuah bangunan pencakar langit yang menyilaukan kedua mata nya itu.
Rendi terkekeh kecil ia pun berucap "Perusahaan Bos kakak, Dek.. Kakak mah cuma kerja disana." Ucap Rendi cepat dan segera membuka pintu mobil nya.
"Ayo, mau ikut masuk ngga sekalian lihat bagian dalam nya seperti apa?" Ucap Rendi cepat dan segera membukakan pintu mobil untuk Ranti.
"Boleh?" Ucap Ranti lirih.
Rendi mengaggukan kepala nya dengan cepat tanda setuju akan ucapan Ranti adik nya itu. Ranti pun segera melepas seat belt nya dan keluar dari mobil Rendi untuk segera melangkah berbarengan dengan Rendi menuju arah pintu masuk ke salah satu perusahaan terbesar di negara nya itu.