18. Tuan Sombong

2155 Kata
Kaca mobil itu kian lama kelamaan terbuka dan menampilkan sosok seseorang yang sedang mengemudikan mobil itu. Ranti melototkan kedua mata nya terkejut melihat siapa si pemilik mobil yang dengan sengaja menabrak motor kesayangan nya itu. Tak habis pikir, Ranti di buat melongo dan terheran-heran. "Kau?" Pekik Ranti cepat dan menatap kesal ke arah sosok pria yang kini menatap datar kepada Ranti yang sedang kesal itu. "Maaf." Hanya satu kata yang terucap dari pria berwajah datar itu, dan apa itu? Permintaan maaf memang mudah di ucapkan tapi tidak bagi si penerima permintaan maaf itu. Bagaimana bisa seseorang mengucapkan kata maaf semudah membalikan telapak tangan nya. "Cepatlah kita sudah terlambat, Yogi." Ucap seorang pria lain nya yang duduk di kursi samping pengemudi dengan suara acuh nya yang tak lain dan tak bukan adalah Erik. "Hah? Apa kau sengaja melakukan ini pada ku, Erik si Tuan yang sombong." Ucap Ranti cepat dan memaki kesal pada pria yang sedang menatap ke arah nya dengan pandangan tajam itu. "Apa? Kau mengatakan apa, hah?" Ucap Yogi cepat dengan nada dingin nya ia berbicara pada Ranti yang mana membuat Ranti sontak bergidik ngeri dibuat nya. "Ah, sudahlah.. Yogi, lanjutkan saja perjalanan nya dan untuk wanita cerewet itu berikan saja ia beberapa ratus dollar agar ia terdiam dan tidak memaki-maki." Ucap Erik cepat dan segera menutup kedua mata nya acuh terhadap Ranti yang saat ini semakin memanas saat melihat sikap acuh Erik dan juga Asisten nya itu. Yogi segera mengambil beberapa lembaran ratusan dollar yang entah mengapa tergeletak begitu saja di dekat bagian stir mobil. Apakah dunia akan segera runtuh? Mengapa mereka berdua begitu meremehkan uang. Ahh.. tidak-tidak, Ranti tak boleh memikirkan itu sekarang yang perlu Ranti perhatikan saat ini adalah kedua pria itu bertanggung jawab atas motor metic nya yang terjatuh dan lecet itu. "Ini, 300 dollar.. cukup bukan?" Tanya pria berwajah datar itu cepat sambil menyerahkan uang ke arah Ranti yang tak lain dan tak bukan adalah sang Asisten Erik. Ranti tercengang, 300 dollar untuk perbaikan motor metic nya? Are you kidding? hah, itu bahkan senilai dengan gaji nya sebulan di rumah sakit. "Hey, jangan hanya segitu.. aku tak mau berurusan panjang dengan wanita cerewet itu, berikan ia 500 dollar saja." Ucap Erik cepat dan segera menambahkan kembali pecahan dollar ke tangan Yogi sang asisten. Ranti hampir kehabisan napas, tak percaya akan pendengaran nya itu. Mereka berdua membuang uang 500 dollar begitu saja? Itu bahkan hampir senilai dengan setengah harga motor metic kesayangan nya itu, Ranti tak percaya! Bagaimana bisa mereka berdua semudah itu memberikan ganti rugi, atau kah mereka berdua sengaja ingin membuat seolah-olah Ranti meminta-minta uang pada mereka. "Ini ambilah." Ucap Asisten Erik kembali sambil menyodorkan uang kepada Ranti. Ranti menarik napas dan membuang napas nya dengan perlahan-lahan, detak jantung nya tak karuan saat ini ingin sekali ia marah dan mencakar wajah tak berdosa milik Erik si tuan sombong itu. Namun hal itu hanya membuat Ranti menambah dosa saja! Akhir nya pun Ranti dengan cepat memutuskan sikap apa yang seharus nya ia gunakan di depan sosok tuan sombong itu. Ranti berusaha menampilkan sebuah senyuman semanis mungkin yang ada di dalam diri nya di hadapan Erik dan juga Asisten nya itu, Ranti pun berucap "Tidak, terimakasih.. aku tak membutuhkan ganti rugi dengan uang kotor mu itu Tuan sombong, aku hanya menuntut agar Tuan sombong mau mengucapkan permintaan maaf kepada motor ku ini yang telah di tabrak oleh mobil mewah mu ini." Ucap Ranti cepat dan tersenyum penuh kepalsuan. "Apa?" Pekik Erik cepat dan menatap tak percaya ke arah Ranti yang saat ini sedang berdiri di luar mobil nya itu. Perlu di garis bawahi Erik tak pernah meminta maaf kepada siapa pun! dan ini? ia harus meminta maaf pada barang rongsokan itu terlebih lagi itu adalah milik Ranti wanita yang sangan cerewet dan menyebalkan itu. tidak! Erik tidak akan mau membuang ego tinggi nya hanya karna Ranti wanita menyebalkan itu. Erik segera membuka pintu mobil nya dengan cepat dan berjalan mengitari mobil nya untuk sampai di hadapan Ranti ia pun berucap dengan nada ketus nya "Apa kau sedang bercanda dengan ku?" Ucap Erik cepat menatap kesal ke arah Ranti. "Tidak! bukan kah kau yang sudah memulai perdebatan ini dengan ku, Tuan Sombong." Ucap Ranti cepat dengan nada tak kalah gentar nya dari Erik. "Apa kau tau siapa aku, Hah? dan kau meminta ku untuk meminta maaf pada barang rongsokan seperti ini?" Ucap Erik cepat merasa kesal akan sikap melawan Ranti yang terus saja di perlihatkan kepada nya. "Barang Rongsokan? kau menyebut motor kesayangan ku dengan barang rongsokan?" Pekik Ranti lirih dan menatap marah ke arah Erik. "Kenapa kau marah? bukankah memang nyata nya seperti itu?" Ucap Erik cepat dan mengangkat kedua bahu nya acuh saat melihat wajah Ranti yang kian memerah padam akan setiap perkatan Erik. Ranti tersenyum miring ia pun tertawa remeh sebelum kembali berucap "Haha, ya benar.. ini adalah rongsokan, cepat meminta maaf pada barang rongsokan ini." Ucap Ranti cepat dan menatap lekat ke arah wajah Erik yang kembali mengerutkan kedua alis nya itu saat mendengar ucapan Ranti tadi. "Susah berbicara pada wanita keras kepala seperti mu." Ucap Erik cepat dan segera kembali menunju ke arah mobil nya dan masuk ke dalam mobil meninggalkan Ranti sendirian di luar dengan rintik-rintik hujan yang kian lama berjatuhan ke bawah. Mobil BMW putih milik Erik pun segera melaju dan meninggalkan Ranti sendirian dalam keheningan air hujan yang berjatuhan ke tubuh nya, mungkin orang-orang tak menyadari bahwa saat ini Ranti tengah menangis berbarengan dengan air hujan yang turun itu. Ini lah yang di takutkan Ranti, setiap ia merasa senang maka pasti akan ada seseuatu hal yang membuat nya bersedih dan terluka. Dengan hati-hati Ranti mendirikan sepedah motor nya kembali dan menyeka air mata nya dengan cepat sebelum kedua mata nya membengkak sehabis menangis. Nasi sudah menjadi bubur, pakaian Ranti kini sudah basah semua terkena air hujan. karna saat ia ingin memakai jas hujan Erik sudah menabrak motor nya terlebih dahulu sebelum Ranti sempat mengambil jas ujan di dalam jok motor nya itu. "Haruskah aku ke toko kue dahulu?" Gumam Ranti lirih dan segera melajukan motor nya dengan kecepatan sedang agar sampai ke toko lebih awal sebelum jam masuk kerja nya itu. "Ranti!" Pekik Filda cepat saat melihat Ranti dari atas kepala hingga ujung sepatu nya yang basah kuyup terkena hujan itu. "Hai." Sapa Ranti cepat dengan sebuah senyuman lebar nya itu. "Why?" Ucap Joy cepat berlarian ke arah Filda saat mendengar Filda memanggil nama Ranti itu. "Ada apa dengan mu, kenapa bisa basah kuyup seperti ini?" Tanya Filda cepat dan segera menghampiri Ranti yang kini sedang berdiri di ambang pintu masuk toko nya itu. Ranti tersenyum canggung dan ia pun segera berucap "Hujan datang nya tiba-tiba, Filda dan aku tak sempat memakai jas hujan." Ucap Ranti cepat dan segera memasuki toko kue yang kosong tak ada satu pun pembeli. "Wah, ramai sekali." Ledek Ranti cepat dan tertawa geli seketika memandang ke adaan toko yanh sepi pembeli itu. "Ck, jangan mencibir ini karna sudah sore dan langit nya pun gelap.. Ranti." Ucap Filda cepat membalas ledekan Ranti mengenai toko kue nya yang sepi itu. "Baiklah, aku kesini mau meminjam baju mu Filda.. jarak ke rumah ku cukup jauh dan jam terus saja berputar, boleh ya.. pinjamkan baju mu untuk ku." Ucap Ranti cepat memohon seperti anak kecil di hadapan Filda yang kini memutar kedua bola mata nya jengah itu melihat rengekan Ranti yang di buat-buat. Filda menghela napas nya berat ia pun segera berucap "Kalau tidak ku pinjamlan kau pasti akan mengambil nya sendiri bukan?" Ucap Filda cepat dan tersenyum kecil. Ranti sontak tertawa kecil dan menganggukan kepala nya dengan cepat tanda mengiyakan ucapan Filda, ia pun berucap "Correct." Ucap Ranti cepat dan tersenyum lebar. "Ayo, naiklah ke lantai atas Ranti.. pililah pakaian sesuka mu disana." Ucap Filda cepat dan segera mengajak Ranti melangkah ke lantai dua toko kue nya meninggalkan Joy sendirian yang termerenung akan genangan air yang bertebaran di setiap langkah Ranti. "Hah, haruskah aku mengepel nya lagi?" Gumam Joy lirih dan memijit kening nya merasa pusing. Dengan cepat Ranti mengganti baju nya, ia pun segera bergegas kembali turun ke lantai bawah toko kue dan memakai jas hujan sebelum ia pergih berangkat ke rumah sakit. "Aku pamit dulu, Filda.. Joy." Ucap Ranti cepat dan segera berlalu berjalan ke luar toko setelah berpamitan dengan Filda dan juga Joy. "Hati-hati, Ranti.. pelan-pelan saja bawa motor nya, di luar hujan deras." Ucap Filda cepat dan melambai-lambaikan satu tangan nya ke arah Ranti yang saat ini sudah berada di lahan parkir di depan toko nya itu. "Iya, terimakasih Filda.. sampai jumpa." Teriak Ranti kencang dan mengendarai sepedah motor nya dengan perlahan-lahan meninggalkan toko. "Sudah?" Tanya Joy cepat sambil menatap ke arah Filda dengan pandangan yang sulit untuk di artikan. "Apa maksud mu, Joy?" Tanya Filda balik dengan pandangan bingung nya itu. Joy pun menghela napas nya kasar ia pun berucap "Kau belum membalas perasaan ku, Filda." Ucap Joy lirih dan menatap ke arah Filda dengan penuh harap. "Joy, aku.. aku.." Ucapan Filda terpotong saat Joy mulai kembali bersuara. "Tidak apa, jika tidak kau jawab sekarang Filda.. aku akan tetap menunggu jawaban mu itu." Ucap Joy cepat dan tersenyum lebar sebelum ia berjalan menuju ke arah dapur dan memeriksa perlengkapan alat pembuatan kue itu. Filda menghela napas nya panjang, ingin sekali ia mengatakan bahwa ia belum sanggup untuk menjalin cinta dengan Joy. Filda sendiri ingin tetap fokus terlebih dahulu mengembangkan usaha nya, bukan berarti Filda menggantungkan perasaan Joy. Namun Filda hanya tak ingin melihat wajah sedih Joy saat ia mengatakan perasaan yang sebenar nya nanti. Pukul jam 18:00 pas Ranti kini sudah tiba di halaman parkir motor gedung rumah sakit tempat nya berkerja itu. Dengan cekatan Ranti melepas jas hujan nya di samping bangunan gedung rumah sakit dan setelah ia selesai melepas jas hujan nya Ranti segera melangkah masuk ke dalam bangunan rumah sakit itu. Tak terasa sudah 4 jam berlalu dari kejadian itu, Ranti kini sedang terduduk menyendiri di tempat istirahat perawat dengan memegangi sebotol minyak angin untuk ia hisap dengan hidung nya yang mampet itu dan mendengarkan lagu dari ponsel milik nya itu. Fisik Ranti sangatlah lemah, terkena air hujan yang tak begitu lama saja sudah membuat nya flu dan tak enak badan seperti ini. Ranti terus saja menggosokan kedua tanganya dengan cepat sembari mengoleskan miyak angin di bagian kening nya itu. Suara pintu ruangan istirahat terbuka secara lebar-lebar, samar-smaar terdengar suara orang yang kini ada kedua suster yang sedang memasuki rungan itu dengan canda tawa mereka. Ranti yang tak mengenal mereka berdua pun hanya bisa terdiam dan duduk sendiri sambil mengoleskan minyak angin ke seluruh telapak tangan nya dan menyambungkan lagu di ponsel nya dengan headset sambil mengatur volume rendah untuk musik yang ia akan dengarkan itu. "Hey, kau dengar tidak! Ada berita terbaru." Ucap salah seorang perawat yang masih berdiri dengan kokoh di depan pintu rungan istirahat bersama teman satu nya itu. "Wah, gosip apa?" Tanya salah seorang lain nya yang kini mau tidak mau Ranti pun bisa mendengarkan ucapan mereka berdua dari dalam ruangan. "Itu loh, katanya pemilik rumah sakit ini akan melangsungkan acara pertunangan." Ucap salah seorang perawat dengan cepat memekik hebat yang mana membuat Ranti sontak menutup kedua telinga nya itu. "Benarkah! Pria dingin itu akan segera menikah? Wah, ini berita yang besar.. tapi bukan kah rumor yanh terdengar sedari dulu ia menyukai wanita yang koma itu?" Ucap salah seorang lain nya bergosip ria dengan kawan nya itu. Ranti terdiam, entah mengapa gosip yang mereka berdua bicarakan sangat membuat Ranti di buat penasaran jadi nya. Bruk.. Ranti sontak menolehkan kepala nya ke arah samping kanan dan melihat satu orang suster kini tengah terjatuh di lantai. "Kau tidak apa-apa?" Tanya Ranti cepat dan segera menghampiri sang suster yang terjatuh itu. "Ah, iya.. aku kira disini tidak ada orang." Ucap suster yang terjatuh itu gelagapan dan segera bangkit berdiri dari lantai itu. "Ah, aku sedang duduk disana." Ucap Ranti cepat dan segera menunjuk bangku yang paling berada di pojok ruangan itu. "Apa kau mendengar nya sedari tadi?" Tanya slaah seorang perawat lain nya yang mana membuat Ranti tersenyum kecil mengerti arah pembicaraan nya itu. "Dengar apa? aku dari tadi menyetel musik dan munggunakan headset jadi tak mendengar apa pun." Ucap Ranti cepat yang mana membuat kedua suster itu menatap ke arah atas meja yang berada di paling pojok yang terlihat sebuah ponsel serta headset dan sebotol minyak angin tergeletak disana. "Oh, begitu.. baiklah nikmati waktu istirahat mu." Ucap salah seorang suster lain nya itu cepat dan segera mengajak teman nya untuk duduk dan mengambil makanan di lemari persedian makana itu. Ranti kembali ke arah kursi duduk nya itu, ia mengerti mengapa kedua perawat itu sangat takut saat mengetahui Ranti berada di sana. Karna sejak penandatanganan kontrak kerja di rumah sakit cahya delapan ini, semua dokter termaksud perawat tidak boleh bergosip apa lagi membicarakan tentang rumah sakit atau pemilik rumah sakit dengan leluasa mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN