17. Rahasia

2046 Kata
Rendi sontak memeluk Bu Windy dengan cepat dan berusaha menjadi tempat sandara untuk Ibu kandung nya itu, sejak dulu Rendi sudah mengetahui mengenani hal ini. namun dulu ia hanya anak-anak yang tak mempunyai kekuatan untuk membela siapa pun atau berpendapat! tapi sekarang Rendi sudah dewasa ia akan menjadi tameng untuk Ibu dan Adik nya. Rendi tak akan membiarkan siapa pun menyakiti Ranti atau pun Bu Windy. Ranti membasuh wajah nya dengan cepat, ia segera menatap cermin yang ada di atas wastafel di dalam kamar mandi nya itu. Ada rasa aneh saat ia melihat wajah Bu Windy yang panik tampa sebab, Ranti tak mengerti mengapa Bu Windy sangat menkhwatirkan nya itu. Apakah semua Ibu itu seperti itu? ataukah ada hal lainnya yang tidak di ketahui oleh Ranti. Tok.. tok.. tok.. terdengar sebuah ketukan pintu kamar mandi menggema di telinga Ranti, Ranti sontak mematikan keran air nya. "Ranti, jika kau sudah selesai turunlah kebawah.. Ibu, sudah menyiapkan sarapan untuk mu." Terdengar suara berat dari Rendi. "Iya, Kak." Jawab Ranti cepat dan segera cepat-cepat mensudahi kegiatan membersihkan dirinya itu. Rendi sontak membalikan badan nya dengan cepat setelah mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, Rendi pun menatap ke arah Ranti dengan pandangan bingung. "Cepat sekali?" Ucap Rendi terheran saat melihat Ranti yang masih mengenakan pakaian yang sama saat keluar dari kamar mandi. "Hehe.. Ranti udah mandi disana sebelum pulang kerja, Kak.. jadi cuma cuci muka aja deh." Jawab Ranti cepat dan tersenyum lebar. Rendi sontak terkekeh kecil dan menghela napas nya panjang, ia pun berucap "Ya sudah, sana hampiri Ibu.. Kakak, mau lanjut urusin kerjaan." Ucap Rendi cepat setelah mengusap kepala Ranti dengan lembut ia pun segera melangkah ke arah kamar nya sendiri. Tap.. tap.. tap.. terdengar suara seseorang sedang melangkah kebawah menuruni satu persatu anak tangga, Bu Windy sontak saja menatap ke arah Ranti yang sedang berjalan menuju ke arah nya itu. "Ibu, sedang apa." Tanya Ranti cepat dan tersenyum kecil menghampiri Bu Windy yang tengah berada di dapur itu. "Ini, tadi Ibu dengar sebelum subuh ada tukang bubur ayam yang mangkal.. jadi Ibu beliin deh buat kamu juga Rendi." Ucap Bu Windy cepat. "Wah, kelihatan nya enak Bu." Ucap Ranti cepat berusaha menutupi bahwa dirinya sudah dua hari ini makan malam dengan bubur ayam di rumah sakit. "Iya dong, Pak Ahmad yang jual." Ucap Bu Windy cepat dan tersenyum kecil menanggapi ucapan putri nya itu. "Oh, Pak Ahmad jualan lagi toh." Ucap Ranti cepat beroh ria sebelum ia menyantap dengan lahab bubur ayam yang sudah di siapkan Ibu nya itu untuk dirinya. "Bu Windy sontak menganggukan kepala nya dengan cepat tanda mengiyakan ucapan Ranti itu. Ranti lagi dan lagi hanya beroh ria saja sebelum ia kembali berucap. "Tapi, kenapa? bukan nya Pak Ahmad itu udah pensiun ya jadi tukang bubur ayam." Ucap Ranti pelan merasa bingung akan kabar Pak Ahmad yang tiba-tiba melanjutkan dagang bubur ayam itu. "Iya sih, tapi takdir berkehendak lain.. anak nya yang terakhir mengalami kecelakan dan sekarang katanya di rawat di rumah sakit tempat kerja kamu." Ucap Bu Windy gamblang yang mana membuat Ranti terkejut. "Yang benar, Bu? kasihan sekali Pak Ahmad." Ucap Ranti lirih dan terlihat jelas wajah sedih Ranti saat ia baru saja mengetahui tentang musibah yang menimpa Pak Ahmad yaitu lengganan tukang bubur ayam nya saat ia dari kecil. "Iya, makanya kamu harus hati-hati kalo bawa kendaraan ya Ranti." Ucap Bu Windy cepat mengingatkan nasehat untuk Ranti anak nya itu. Ranti segera mengaggukan kepala nya dengan cepat ia pun berucap "Bu, boleh Ranti bertanya?" Ucap Ranti pelan dan menatap dalam ke arah Bu Windy. "Boleh dong, Ranti.. kamu mau nanya apa?" Jawab Bu Windy cepat. "Ibu.. kenapa Ibu terlihat sangat cemas? ada apa Bu." Ucap Ranti cepat dan menatap lekat ke arah Bu Windy ingin meminta penjelasan terhadap sikap Bu Windy yang sangat aneh itu. Keringat satu persatu terlihat di kening Bu Windy, Bu Windy sontak segera menyibukan diri nya sendiri tak mau menjawab atau pun bertatapan muka dengan Ranti. Hal itu pun membuat Ranti semakin curiga akan sikap Bu Windy yang penuh dengan tanda tanya itu. "Buu.." Panggil Ranti lirih namun seakan hanya suara siulan ucapan Ranti tak terdengar melainkan ucapan Rendi menggema di ruangan dapur sekaligus ruang makan itu. "Ibu, Ibu belum bilang apa pun sama Ranti?" Tanya Rendi cepat yang mana membuat Ranti menatap ke arah Rendi dengan pandangan bingung begitu pula Bu Windy yang sontak terkejut hingga menjatuhkan baskom yang ada di gengaman nya itu. "Rendi." Gumam Bu Windy lirih dan menggelengkan kepala nya tanda tak setuju akan ucapan putra nya itu. Akan kah rahasia nya terbongkar saat ini? tidak, Bu Windy ingin mengatakan nya sendiri pada Ranti tampa Ranti harus mendengarkan ucapan orang lain sekali pun Rendi putra nya itu. "Iya, Kak Rendi dari tadi Ibu juga gitu cuma diem aja bahkan ngga mau jawab pertanyaan Ranti." Ucap Ranti cepat dan menatap bingung ke arah Bu Windy yang saat ini masih bersih kukuh terdiam itu. Rendi terdiam sesaat sebelum ia kembali berucap "Ranti, Ibu ingin pergih pulang kampung pengen ketemu Mbah.. tapi, Ibu bingung dan cemas jika kita berdua tidak ada yang menjaga disini." Ucap Rendi cepat dan tersenyum kecil. Bu Windy pun sontak menatap lekat ke arah putra nya itu, ucapan Rendi membuat nya bingung namun ia merasa sedikit tenang akan kebohongan kecil yang Rendi katakan pada Ranti. Tapi apakah Bu Windy harus masuk kedalam kebohongan yang telah Rendi buat untuk nya itu agar Ranti tak merasa curiga terus kepada nya. "Benarkah itu, Bu?" Tanya Ranti cepat dan menatap lekat ke arah Bu Windy. "Benar Ranti, Ibu sedari tadi bingung mau bicara dari mana sama kamu, Nak." Ucap Bu Windy cepat dan tergugup akan akting yang ia buat agar Ranti percaya pada nya itu. Ranti menghela napas nya panjang ia pun berucap "Ibu, seharus nya Ibu bilang langsung aja ke Ranti Bu.. jadi Ranti ngga harus menebak-nebak terus kenapa Ibu terlihat cemas dan aneh sedari tadi." Ucap Ranti cepat dan segera berjalan ke arah Bu Windy dan memeluk nya dengan penuh cinta. "Ibu, Ranti ngga apa-apa kok kalau Ibu mau pulang kampung.. Ranti dan Kak Rendi janji bakalan baik-baik aja disini, Bu." Ucap Ranti cepat dan meneteskan air mata nya sedih akan berpisah pertama kali nya dengan Bu Windy sejak ia kecil. Bu Windy tak bisa menahan air mata nya kembali ia pun menangis haru bersama dengan Ranti putri kecil nya yang sangat ia lindungi itu. Bu Windy tak mengerti mengapa orang itu setelah sekian lama muncul kembali di kehidupan nya, bagaimana pun cara nya ia harus menjaga Ranti dengan baik dan ia tak akan mau kehilangan satu moment pun bersama dengan Ranti putri kecil nya itu. Rendi menatap pilu kedua wanita yang sangat ia sayangi kini tengah menangis di hadapan nya, Randi sendiri tau ia tidak akan bisa menjaga kedua wanita yang sangat ia sayangi di dunia ini hanya dengan seorang diri. Lawan nya tidaklah mudah, cepat atau lambat ia pasti akan muncul di kehiduapan mereka. Rendi secepat nya harus mencari bantuan, tapi siapa? Siapa yang mau membantu nya. Suara mobil terdengar melaju jauh semakin meninggalkan rumah kediaman Bu Windy, Rendi kini tengah melaju ke tempat nya berkerja yaitu perusahan ternama yang bergerak di segela bidang, properti, kesehatan, entertaimen, bahkan politik itu. Rendi memilih perusahan itu karna ia bisa dengan mudah menemukan seseorang yang ia cari sejak dulu, Rendi tak akan membiarkan orang itu mendekati keluarga nya bahkan sampai 1000 kilometer pun. Tok.. tok.. tok.. terdengar suara ketukan pintu kamar Ranti terdengar pelan. Ranti yang baru saja selesai sholat dhuha pun segera membuka pintu kamar nya dengan cepat. "Ranti, ini Kakak mu Rendi membelikan baju untuk mu." Ucap Bu Windy cepat setelah masuk ke dalam kamar Ranti putri nya itu sambil menunjukan paperbag berwarna coklat kepada Ranti. "Wah, bagus banget Bu.. kok Kak Rendi ngga langsung kasih aja ke Ranti, Bu?" Tanya Ranti cepat dan menatap Bu Windy dengan penuh tanda tanya. "Ohh, mungkin dia lupa.. biasakan Rendi kalau sudah kerja lupa sama hal yang lain." Ucap Bu Windy cepat dan tersenyum kecil bagaikan angin lalu kesedihan nya tadi kian sudah mulai mereda saat melihat senyuman putrinya itu. "Ibu, juga tau nya paperbag ini masih berdiri cantik di ruang Tv.. jadi nya Ibu langsung kasih aja ke kamu." Ucap Bu Windy cepat tersenyum lebar. "Ohh gitu, ya Bu." Ucap Ranti cepat dan menganggukan kepala nya tanda mengerti. "Cobalah, Ibu ingin lihat." Ucap Bu Windy kembali dan menyuruh Ranti segera mencoba pakaian yang telah di belikan oleh kakak nya Rendi itu. Ranti tersenyum simpul dan segera pergih ke ruangan ganti untuk mencoba gaun putih gading berukuran selutut nya itu, dan benar saja gaun warna putih gading itu sangat terlihat pas dan serasi dengan warna kulit Ranti yang putih itu. "Wah, Ranti cantik kan, Bu?" Tanya Ranti cepat dan tersenyum lebar sambil memamerkan gaun memberian kakak nya itu. Bu Windy mengulaskan senyuman nya dan menganggukan kepala nya dengan cepat ia pun berucap "Kakak mu Rendi, sangat pintar memilih gaun untuk mu Ranti." Ucap Bu Windy cepat. "Tapi kenapa ya, Bu.. seinget Ranti model gaun ini sama kaya model gaun warna biru Ranti yang waktu itu ketumpahan minuman pas lagi di bioskop." Ucap Ranti cepat dan segera ikut duduk di samping Bu Windy yang tengah duduk di pinggiran tempat tidur Ranti itu. Bu Windy segera menatap ke arah gaun Ranti dengan cepat dan memperhatikan setiap detail gaun putih gading yang sedang Ranti pakai itu. Dan benar saja, gaun itu ada sedikit kemiripan dengan gaun yang dulu ia beli kan untuk Ranti. "Hm, mungkin Kakak mu Rendi sengaja membelikan gaun yang mirip sebagai ganti gaun mu yang ternoda itu." Ucap Bu Windy cepat dan tersenyum lebar. Ranti sontak beroh ria dengan cepat dan tersenyum lebar, suasana hati nya saat ini sangatlah bahagia bahkan ia sampai takut akan akan merasakan kesedihan yang teramat sangkin ia senang nya hari ini. Detik berganti menit dan kembali berganti jam, pukul 17:14 menit Ranti sudah bersiap-siap untuk pergih kembali berkerja di rumah sakit paling ternama di kota nya. Dengan beberkalan makanan dari Ibu Windy untuk Ranti makan malam disana membuat Ranti tambah bersemangat berkerja dan melayani setiap pasien nya yang membutuhkan perawatan nya. "Assalamualaikum, Bu." Ucap Ranti cepat sambil mengecup punggung tangan Bu Windy dengan penuh hormat. "Waalaikumsalam, hati-hati di jalan ya nak." Ucap Bu Windy cepat dan tersenyum kecil mengatar keberangkatan kerja Ranti putri nya itu di depan gerbang rumah nya. "Iya, Bu." Ucap Ranti cepat dan segera melajukan sepedah motor metic nya setelah ia menggunakan helm, bagi Ranti keselamatan dalam berkendara itu sangatlah penting tidak pernah sekali pun Ranti abai akan tata tertib lalu lintas. Tak begitu lama Ranti berkendara, semilir angin kian lama menerpa sebagian lengan tangan Ranti yang tidak tertutup oleh sweater rajut berwarna pink itu. Cuaca yang cukup meresahkan bagi Ranti saat ini, karna suara menggema petir bertebrangan di setiap laju motor nya yang menandakan akan datang nya hujan di malam hari ini. Ranti pun segera menepikan motor metic nya di depan salah satu pertokoan di pinggir jalan dengan maksud hati ia ingin berhenti sejenak ingin menggunakan jas hujan yang sudah ia bawa di dalam jok motor nya itu. Lebih baik mencegah dari pada harus mengobati bukan? Itu lah prinsip hidup Ranti yang selalu ia pegang teguh di setiap langkah nya itu. Namun naas, kejadian yang tak di sangka-sangka membuat Ranti sontak terkejut akan pristiwa yang tak mengenakan yang terjadi tepat di depan kedua mata nya sendiri. Sebuah mobil BMW berwarna putih dengan ceroboh menyenggol body motor metic milik Ranti sehingga motor Ranti terjatuh miring dengan sangat cepat. Mobil BMW itu pun tepat terhenti di samping motor metic Ranti setelah kejadian yang baru saja terjadi itu, dengan cepat Ranti segera mengetuk kaca mobil itu tampa sabaran. Pasalnya ia sudah memakirkan motor nya dengan sebaik mungkin bagaimana bisa sebuah mobil menabrak nya? Walau alasan tak melihat sekali pun Ranti tak akan pernah percaya. "Pak, hello.. turun, tanggung jawab dong." Ucap Ranti cepat dengan terus mengetuk kaca mobil BMW itu berusaha mengendalikan amarah nya akan motor kesayangan nya itu yang kini lecet mencium aspal. Kaca mobil itu kian lama kelamaan terbuka dan menampilkan sosok seseorang yang sedang mengemudikan mobil itu. Ranti melototkan kedua mata nya terkejut melihat siapa si pemilik mobil yang dengan sengaja menabrak motor kesayangan nya itu. Tak habis pikir, Ranti di buat melongo dan terheran-heran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN