16. Zura

2112 Kata
Zura dengan cepat segera menutup luka yang cukup panjang dan dalam itu dengan 8 jahitan di lengan pasien wanita yang sedang tak sadarkan diri itu. Zura dan Ranti menghela napas nya panjang setelah mendengar dan melihat di layar monitor Elektrokardiograf detak jantung sang pasien yang sudah kembali normal, begitu pula dengan sang ayah dari pasien yang langsung terduduk lemas di lantai rumah sakit itu. Zura sontak saja langsung menatap ke arah Ranti dengan intens seolah-olah mengisyaratkan ada sesuatu yang ingin ia bicarakan dengan Ranti berdua saja. "Panggilkan perawat yang lain Ranti, kalian harus memindahkan pasien ke ruangan lain dan menggantikan pakaian serta kasur nya." Ucap Zura cepat menatap ke arah Ranti dengan lekat sambil melirik sekilas ke arah kasur rumah sakit yang terkena bercak darah pasien itu. "Baik, Dokter." Ucap Ranti cepat dan segera meninggalkan ruangan kamar pasien itu dengan segera setelah mendapatkan printah dari Zura. "Katakan yang sebenar nya." Ucap Zura dingin dan memandang lekat ke arah sosok pria yang tengah terduduk lesu di lantai itu yang tak lain dan tak bukan adalah ayah sang pasien wanita. "Apa.. apa yang kau maksud, Dokter?" Ucap pria tua itu gugup dengan raut wajah panik nya yang mulai terlihat di kedua mata Zura. "Kau mungkin bisa membodohi Suster yang baru saja menolong mu itu, tapi tidak dengan ku." Ucap Zura cepat. Zura sontak menunjukan satu jarinya ke arah sebuah remot yang berada di atas meja pasien dan sangat terlihat jelas di depan mata nya itu "Kau pasti sudah di beritahukan bukan, jika terjadi sesuatu terhadap pasien maka kau bisa langsung menekan remot itu dengan mudah nya.. dan kami pasti akan segera mendengarkan panggilan darurat yang kau kirimkan itu." Ucap Zura kembali dengan wajah datar nya ia tersenyum miring ke arah sosok pria tua yang sedang terteguh mendengarkan ucapan nya itu. "Saya.. saya tidak tau!" Bantah pria tua itu cepat dengan segera memalingkan muka nya tak mau menatap ke arah Zura. "Benarkah? Katakan saja yang sebenar nya, perilaku mu tadi bisa saja membahayakan kehidupan pasien!" Ucap Zura cepat dengan lantang menatap kesal ke arah sosok pria tua di hadapan nya itu. "Sudah saya bilang kalau saya tidak tau! Saya adalah ayah nya bagaimana bisa saya membahayakan nyawa putri saya sendiri." Ucap pria itu cepat dengan wajah menolak keras akan tuduhan yang di berikan oleh Zura itu. "Lalu apa yang terjadi? apakah kau yang.." Ucapan Zura terpotong langsung oleh ucapan pria tua yang langsung menyela nya itu. "Tidak! aku tidak melakukan apa pun, aku tidak tau jika akhirnya menjadi seperti ini.." Ucap pria tua itu cepat ia pun langsung menangis sedih dan menggelengkan kepala nya dengan cepat seakan-akan menolak kejadian yang baru saja terjadi itu. "Akhirnya? apa maksud Bapak dengan akhirnya seperti ini?" Tanya Zura cepat dengan pandangan intens ia menatap lekat ke arah sosok pria tua yang tengah menangis itu. "Ya, ini memang salah saya.." Ucap pak tua itu cepat. "Salah saya memaksakan kehendak saya kepada putri saya, saya meminta ia menerima pernikahan kedua saya dengan wanita yang sama sekali ia tak kenal.. putri saya marah dan menentang nya dengan keras! saya, pun sama.. akhirnya saya memutuskan untuk menenangkan diri dengan keluar dari ruangan ini, tapi.. saat saya kembali lagi kesini putri saya sudah menggores lengan tangan nya sendiri." Ucap pak tua itu pelan dan menangis hebat menyesali perbuatan dan keegoisan nya itu. "Kau pasti pernah menjadi seorang anak bukan, Pak? bagaimana perasan mu jika tau ayah mu akan menikah kembali dan membangun kehidupan rumah tangga dengan orang lain? tak terima? marah? benci? tapi kau masih memaksakan ego mu pada anak kecil ini yang di umurnya seperti ini ia sangatlah masih butuh dan haus kasih sayang orang tua! kau pantas di salahkan atas ke egoisan mu itu." Ucap Zura cepat dan menatap marah ke arah pria tua yang kini sedang tertunduk menyesali perbuatan nya itu. Cklek.. suara pintu ruangan terbuka, Ranti sontak terpaku melihat sang ayah dari pasien yang baru saja ia tangani tadi sedang tertunduk dan menangis meraung-raung seolah-olah ia telah kehilangan sesuatu yang paling berharga. "Masuklah Ranti, dan rawat pasien ini dengan sangat baik." Ucap Zura cepat dan tegas, tak ada embel-embel menggoda serta memandang rendah Ranti yang selalu saja ia lakukan setiap kali bertemu dengan Ranti itu, ada apa dengan Zura. "Baik, Dokter." Ucap Ranti cepat dan segera memasuki ruangan kamar pasien dengan para suster yang lain nya itu. Zura menatap sekilas ke arah pasien wanita yang sedang terbaring lemah dengan wajah pucat pasih nya itu, ada sedikit rasa nyeri di relung hati Zura. Zura pun segera melangkah kembali dan melangkah keluar kamar rungan rawat inap itu. Ranti dan suster lainnya dengan cekatan menggantikan serta memakaikann baju pasien. tak berapa lama kemudian setelah Ranti memeriksa kembali ke adaan pasien ia pun keluar dan melihat sang ayah pasien yang sedang menunggu dan terduduk lemas di luar ruangan. "Pak, kami sudah menyelesaikan tugas kami.. Bapak silahkan bisa kembali lagi masuk ke dalam rungan nya." Ucap Ranti cepat dengan ramah berbicara pada pria tua yang terlihat sangat putus asa itu. "Terimakasih, Suster.. jika bukan karna Suster mungkin anak saya tak bisa terselamat kan." Ucap pak tua itu cepat dan menundukan kepala nya kepada Ranti sang penyelamat kehidupan putri nya itu. "Ah.. ini memang sudah kewajiban dan tugas saya, Pak.. tolong jaga anak Bapak dengan baik karna penyesalan selalu terjadi di akhir." Ucap Ranti cepat dan berusaha tetap tersenyum kecil untuk menguatkan sosok seorang ayah yang tengah rapuh di hadapan nya itu. Setelah mengatakan hal yang Rantu perlu katakan, Ranti pun segera melangkah kembali menuju ke ruangan istirahat pegawai rumah sakit dan ia berusaha menenangkan dirinya nya sambil mengingat kembali ucapan Zura yang masih menggema di telinga nya sesaat sebelum Ranti memasuki rungan pasien untuk ia bersihkan itu. "Tidak seperti biasa nya, apakah aku yang telah salah menilai Dokter Zura?" Gumam Ranti lirih dan merasa tabjub sekaligus terharu saat tak sengaja mendengarkan perkatan Zura itu. Tap.. satu tepukan mendarat di pundak Ranti dengan cepat ia pun menengok ke arah belakang dan ada seseorang yang tengah tersenyum lebar ke arah nya itu. "Ada apa? Kenapa kau melamun." Ucap Rita cepat kepada Ranti. "Tidak ada apa-apa Dokter Rita." Ucap Ranti cepat dan berusaha tersenyum lebar menutupi kebohongan nya itu. "Benarkah? bukankah seseorang akan melamun jika ia memiliki pikiran yang rumit dan tak terselesaikan?" Ucap Dokter Rita dengan cepat dan tersenyum ramah ke arah Ranti. "Ah.. benar juga ya." Ucap Ranti lirih dan menggaruk dahi nya yang tak gatal itu. "Katakanlah, aku siap mendengarkan cerita mu." Ucap Dokter Rita cepat dengan tersenyum. "Apa tidak apa-apa jika aku menceritakan orang lain kepada, Dokter Rita?" Tanya Ranti pelan dan berbisik-bisik. Wanita bernama Rita itu sontak tertawa dan berucap dengan lantang "Tentu saja! sedikit bocoran, aku sangat suka gibah.. haha." Ucap Dokter Rita cepat dan tertawa lebar. Ranti pun tersenyum terpaksa ia tak menyangka bahwa Dokter Rita berpikiran bahwa Ranti ingin menggibah, Ranti pun segera berucap "Bagaimana pendapat Dokter Rita, tentang Dokter Zura?" Tanya Ranti lirih dan menatap penuh rasa penasaran kepada wanita bernama Rita itu. "Kenapa kau menanyakan hal ini, Ranti? Apakah kau mencintai Dokter Zura?" Tanya Rita cepat dengan wajah terkejut nya itu. Ranti sontak menggelengkan kepala nya dengan cepat dan berucap "Tidak! Ranti tidak menyukai Dokter Zura, hanya saja Ranti merasa aneh sikap Dokter Zura berubah total menjadi sangat serius saat Ranti berucap ada pasien yang terluka." Ucap Ranti cepat dan menolak keras akan pertanyaan yang Dokter Rita tanyakan kepada nya itu. "Hah, syukurlah.. aku kira kau menyukai nya." Ucap Rita cepat dan menghela napas nya lega. "Satau ku, bisa di bilang Dokter Zura sangat kompeten dalam melaksanakan tugas nya sebagai seorang Dokter di balik dengan sikap absurd nya yang suka menggoda setiap perawat maupun pasien yang ia anggap cantik." Ucap Rita cepat dan tersenyum kecil ke arah Ranti. "Apa kau juga di ganggu oleh nya?" Tanya Rita kembali dengan pendangan serius nya ia menatap ke arah Ranti. "Ya, sedikit." Ucap Ranti jujur. "Hah, abaikanlah dia.. nanti juga dia akan bosan dan mencari seseorang untuk ia ganggu." Ucap Rita cepat. "Ranti, jangan mendekati nya hanya karna kau mengaggap ia baik.. kau harus jaga jarak dengan nya, sebisa mungkin." Ucap Rita cepat memperingati. "Memang nya kenapa? Dokter Rita." Ucap Ranti cepat. "Dokter Zura, lebih dari apa yang kau bayangkan Ranti.. dia bisa saja bebuat baik kepada mu dan, bisa sebalik nya juga.. menjauhlah jika ia mendekati mu dan sebisa mungkin hindari dia." Ucap Rita cepat dengan wajah serius nya menatap ke arah Ranti. "Ranti tidak pernah takut, Dokter Rita tenang saja." Ucap Ranti cepat dan berusaha menampilkan senyuman nya untuk Rita yang saat ini menatap nya dengan pandangan cemas nya itu. "Ranti, ini adalah rahasia.. tapi yang ku dengar desas-desus nya kabar nya Dokter Zura akan segera menikahi anak Direktur rumah sakit ini dalam waktu dekat." Ucap Rita pelan setengah berbisik pada telinga Ranti. "Jadi, kau menjauhlah darinya sebisa mungkin.. aku tak mau kau jadi terkena masalah hanya karna sikap absurt Dokter Zura yang sering kelewatan batas itu." Ucap Rita cepat dengan wajah kesal yang tak bisa ia kendalikan terlihat jelas di wajah tirus nya. "Ranti, akan sebisa mungkin menghindari nya.. tapi, kenapa ia masih saja suka mengaggu jika sudah memiliki pasangan?" Ucap Ranti gamblang merasa bingung akan sikap Zura. "Ranti, pikiran pria jauh lebih sulit di pahami." Ucap Rita cepat dan terseyum kecil. "Ohh, waktu ku istirahat ku telah selesai.. aku harus kembali berkerja." Ucap Dokter Rita cepat dan segera melangkah kan kaki nya keluar ruangan istirahat meninggalkan Ranti sendirian yang masih duduk dan menikmati jam istirahat nya yang cukup singkat itu. Redup-redup cahaya mentari mulai malu-malu menampakkan sinar nya, setelah menunaikan ibadah sholat pukul 05:00 Ranti kini sudah mengendarai sepedah motor metic nya dengan kecepatan sedang. Hawa dingin di pagi hari sangat terasa di setiap inci tubuh Ranti, saat ini Ranti hanya memakai kaos lengan panjang dengan sweater tipis berwarna coklat yang melekat di tubuh nya yang berpaduan dengan rok sepan berwarna hitam yang ia kenakan sedari ia berangkat kerja. Glak.. glak.. suara pagar rumah sederhana kian terbuka cukup lebar untuk Ranti masuki dengan motor metic nya itu, Ranti segera melepas helm nya dan membuka sepatu kerja nya sebelum ia memasuki rumah kediaman nya sedari ia kecil itu. "Assallamualikum," Ucap Ranti cepat mengucapkan salam setelah ia menutup kembali pintu rumahnya setelah ia masuki. "Waalikumsalam, sudah pulang toh." Ucap Bu Windy cepat dan segera menghampiri Ranti walau saat ini ia sedang memakai mukena. "Hati-hati Bu, nanti Ibu bisa saja terjatuh." Ucap Ranti khwatir saat melihat Bu Windy berlarian kearah nya. "Dari tadi Ibu punya pikiran engga enak soal kamu, Dek." Ucap seorang pria yang tak lain dan tak bukan adalah Rendi kakak Ranti yang saat ini sedang melepas peci hitam nya. "Oh, gitu toh.. tapi Ranti baik-baik aja kok Bu.. Ranti, sudah besar dan bisa melindungi diri Ranti sendiri jadi Ibu tenang aja ya." Ucap Ranti cepat dan segera mencium punggung tangan Bu Windy dengan penuh rasa hormat. "Kan, Rendi bilang apa Bu.. Ibu ini terlalu khwatir tak jelas sama Ranti." Ucap Rendi cepat dan menghela napas nya lega. Bu Windy pun ikut menghela napas lega ia pun segera berucap "Syukurlah, kamu udah pulang Nak.. Ibu sudah tenang, sana kamu bersihin diri dulu." Ucap Bu Windy cepat sambil mengusap-usap lengan Ranti dengan lembut. "Iya, Bu." Ucap Ranti cepat dan tersenyum kecil. Satu persatu lantai tangga Ranti pijaki hingga ia sudah sampai ke lantai dua rumah sederhana milik nya itu, Bu Windy menatap punggu kecil Ranti dengan pandangan sendu. "Bu, tenang aja.. dia gak mungkin bisa mengambil Ranti dari kita." Ucap Rendi cepat dan mengusap punggung Bu Windy dengan penuh perhatian. "Tapi, bagaimana Rendi.. itu semua ngga mungkin Nak, dia sedari dulu tak pernah tau tentang Ranti.. tapi mengapa ia mengirimkan surat jika dia ingin menemui Ranti? apakah ia sudah mengetahui semua nya mengenai Ranti adik mu?" Ucap Bu Windy cepat dengan penuh rasa cemas. "Bu, tenang.. Ranti bisa tau jika Ibu terus saja bersikap cemas seperti ini, Ibu tenang saja biar Rendi yang akan urus tentang hal ini.. dia sudah lama pergih jauh dan ngga bakal Randi izinin jika ia sekarang berusaha mengusik kehidupan kita apa lagi Ranti." Ucap Rendi cepat dan menatap tajam ke arah lain. "Ibu, takut Rendi.. Ibu takut kehilangan Ranti." Ucap Bu Windy cepat dan menitihkan air mata nya sedih meratapi nasib nya. Rendi sontak memeluk Bu Windy dengan cepat dan berusaha menjadi tempat sandara untuk Ibu kandung nya itu, sejak dulu Rendi sudah mengetahui mengenani hal ini. namun dulu ia hanya anak-anak yang tak mempunyai kekuatan untuk membela siapa pun atau berpendapat! tapi sekarang Rendi sudah dewasa ia akan menjadi tameng untuk Ibu dan Adik nya. Rendi tak akan membiarkan siapa pun menyakiti Ranti atau pun Bu Windy.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN