Ranti sontak menitihkan air mata nya terharu akan kejutan yang tak pernah ia kira ini, Ranti dan Filda sudah bersahabat sedari mereka mengijakkan kaki nya di bangku smp. Sedari itu Ranti dan Filda tak bisa di pisahkan, walau sering bertengkar karna berbeda pendapat namun Ranti dan Filda akan segera kembali berbaikan dan pertengkatan itu semakin mengeratkan hubungan persahabatan mereka berdua, ya itulah yang dinamakan sahabat setidak nya itulah yang di pikirkan Ranti sedari dulu waktu dan masa-masa remaja yang ia lewati bersama Filda sahabat nya itu tak akan pernah ia lupakan, jika saja waktu bisa terulang kembali maka Ranti ingin sekali mengulang masa remaja nya yang penuh dengan kenangan indah dan konyol bersama sahabat nya Filda itu.
"Terimakasih, Filda." Ucap Ranti pelan dan memeluk Filda kembali dengan rasa bahagia.
"Sama-sama, Ranti.. selamat untuk perkerjaan baru mu itu." Ucap Filda cepat dan tersenyum lebar.
"Kapan kau akan meneraktir kami?" Tanya seseorang dengan cepat dan langsung membuat Ranti dan Filda sontak menatap ke arah nya.
"JOY!" Teriak Filda cepat merasa geram akan ucapan Joy yang baru saja ia dengar itu.
"Apa? aku hanya bertanya saja, Filda ku.. yang manis." Ucap Joy cepat dan segera mengedipkan satu mata nya ke arah Filda dan tersenyum dengan penuh menggoda.
Ranti sontak terbengong akan tindakan yang baru saja di lakukan oleh Joy kepada Filda itu, namun beda hal nya dengan Ranti. Ranti sontak memutar bola mata nya malas menanggapi kejahilan Joy itu.
"Ada apa dengan mata mu, hah? memalukan sekali." Ucap Filda cepat dan menatap jengah ke arah Joy.
"Tidak ada, hanya terkagum saja dengan sosok wanita yang sangat manis di hadapan ku ini." Ucap Joy gamblang yang mana langsung mendapatkan pukulan di bahu nya oleh Filda.
"What? jangan bilang kalau kalian berdua sedang.." Ucap Ranti pelan dan menatap ke arah Filda dan Joy secara bergantian dengan menyipitkan kedua mata nya berusaha mencari informasi yang terlambat ia ketahui.
"Iya." Ucap Joy singkat dan yang mana membuat Ranti sontak menatap ke arah Filda dengan tatapan tak percaya.
"Tidak! apa maksud mu dengan iya? Joy." Ucap Filda cepat dengan melototkan kedua mata nya ke arah Joy yang kini sedang tersenyum penuh kejahilan itu.
"Tidak? Filda, apa yang kau maksud dengan kata tidak? coba kau beritahukan pada Ranti sahabat mu dan juga diriku, aku tak mengerti mengapa kau mengatakan tidak." Ucap Joy cepat dengan senyuman lebar khas menyebalkan milik Joy yang kini membuat Filda naik pitam menahan malu di buat nya.
"Mengapa kalian berdua saling melempar kata yang tidak ku mengerti seperti ini? dan kau Joy, jika kau menyukai Filda maka langsung saja datang kerumah nya dan melamar nya! aku tidak akan membiarkan kau mendekati Filda hanya untuk bermain-main saja." Ucap Ranti cepat dan menatap tajam ke arah Joy.
Joy sontak menelan savilah nya kuat-kuat, hawa dingin serta tatapan tajam dari Ranti kepada nya membuat sekujur tubuh Joy terasa kaku takut untuk bergerak. Ia pun segera berucap "Tentu saja, Ranti.. aku tidak hanya mau bermain-main dengan wanita semanis Filda." Ucap Joy cepat dan tersenyum penuh kejahilan.
"Hentikan! memalukan sekali kau ini." Ucap Filda cepat dan menutupi wajah nya dengan kedua tangan kecil nya berusaha menahan rasa malu akibat tingkah tak tau malu nya Joy.
"Baguslah kalau begitu, aku pamit pergi.. kalian berdua urusi dulu masalah kalian, dan kalau sudah aku tunggu kabar baik nya.. oke." Ucap Ranti cepat dan mengedipkan sebelah mata nya menggoda Filda sahabat nya yang sedang terbalut rasa malu itu.
Ranti melangkahkan kaki nya ingin menuju ke luar toko, namun langkah kaki nya terhenti saat Filda memanggil nama nya itu. "Ranti." Panggil Filda cepat.
"Ini kue mu bawalah, kau melupakan kue kesukaan mu? yang telah menyita waktu ku untuk membuat nya sespesial mungkin untuk mu, Ranti." Ucap Filda cepat dan segera menyodorkan paper bag berisi kue kesukan Ranti dengan raut wajah cemberut nya itu.
Ranti sontak tersenyum kecil dan berucap "Oh iya lupa, terimakasih Filda.. ngomong-ngomong aku tak perlu membayar nya bukan?" Ucap Ranti cepat dan segera mengambil paper bag berisi kue itu dari tangan Filda.
Filda sontak langsung menggelengkan kepala nya dengan cepat dan berucap "Tidak, kau hanya perlu mentrasfer saja ke Atm ku." Ucap Filda cepat dengan tawa jahil nya itu.
Sontak saja ucapan Filda barusan membuat Ranti ikut tertawa geli di buat nya, Filda masih tetap dirinya yang dulu selalu bisa membuat Ranti tertawa dan melupakan semua masalah nya juga tak jarang Filda pun selalu membatu Ranti ketika dalam kesulitan. Bisa dibilang Filda adalah sahabat terbaik yang tak akan pernah Ranti lupakan seumur hidup nya.
"Sudah sana pergilah, nanti kau akan semakin terlambat jika tetap berada disini dan terus meladeni ku, Ranti." Ucap Filda cepat dan segera melambaikan satu tangan nya ke arah Ranti.
Ranti tertawa kecil dan segera menaiki sepedah motor nya lalu melambaikan satu tangan nya ke arah Filda sebelum melajukan motor metic kesayangan nya itu.
Tak begitu lama laju motor matic Ranti terhenti di sebuah bangunan besar yang sudah menjadi tempat kerja baru nya itu. Ranti memakirkan motor nya dengan rapih dan sempurna di pakiran motor rumah sakit yang berada di sebelah kiri bangunan gedung rumah sakit terbesar di kota itu.
"Ranti." Panggil seseorang kepada Ranti dengan suara yang cukup keras yang mana membuat Ranti terkaget di buat nya.
"Dokter Rita." Ucap Ranti pelan dan tersenyum hangat menatap ke arah wanita yang sudah ia kenal itu.
"Apa kau juga shift malam seminggu kedepan?" Tanya wanita yang bernama Rita itu dengan cepat menatap ke arah Ranti.
"Ah.. iya, Dokter Rita." Jawab Ranti cepat dan tersenyum lebar.
"Baguslah kalau begitu, berarti malam ini ada yang menemani ku berjaga." Ucap wanita bernama Rita itu cepat dan tersenyum penuh kegembiraan.
"Bukan nya, Dokter Rita itu shift di pagi hari ya?" Tanya Ranti cepat dengan wajah bingung nya menatap ke arah wanita bernama Rita itu.
Wanita bernama Rita itu sontak saja menatap ke arah Ranti dengan cepat dan tersenyum lebar "Memang, tapi aku menggantikan shift malam teman ku yang saat ini sedang ada keperluan mendesak sehingga ia tak bisa pergih berkerja malam ini." Ucap wanita bernama Rita itu cepat.
Setelah mendengarkan ucapan dokter Rita, Ranti hanya bisa berohria dan menganggukan kepala nya dengan cepat tanda mengerti. Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan nya ke arah ruangan kerja masing-masing, tepat di sebuah pintu berawarna coklat yang tertuliskan dokter spesialis penyakit dalam.
"Selamat berkerja, Suster Ranti." Ucap dokter wanita bernama Rita itu dengan cepat dan tersenyum ramah.
Ranti pun ikut tersenyum dan berucap "Selamat berkerja juga untuk, Dokter Rita." Ucap Ranti cepat dan segera melangkah kembali menuju ke arah ruangan ganti setelah pintu ruangan dokter Rita tertutup.
Sesampai nya Ranti di ruangan ganti pakaian, Ranti mulai mengganti baju nya dengan seragam baju suster rumah sakit cahya delapan, tak membutuhkan waktu yang lama kini Ranti telah siap untuk segera melaksanakan tugas nya sebagai seorang suster di rumah sakit yang paling terkenal di kotanya itu. Dengan menyandang sebuah papan yang berisi data-data riwayat penyakit pasien yang akan ia cek keadaan nya malam hari ini, Ranti segera melangkah ke kamar rawat inap pasien yang akan ia cek kondisi nya itu.
"Hallo." Ucap Ranti cepat dan tersenyum ramah memandang pasien wanita yang saat ini bisa terbilang sudah lanjut usia itu.
Pasien wanita lanjut usia itu hanya bisa menganggukan kepala nya dengan perlahan-lahan dan berusaha tersenyum ke arah Ranti.
"Ibu, ibu di cek suhu nya dulu yaa." Ucap Ranti cepat dan segera mengeluarkan termometer alat pengukur suhu badan dan meletakan nya di bawah lengan pasien wanita lanjut usia itu selama 3 menit hingga berbunyi dan menampakan hasil suhu tubuh pasien lanjut usia itu.
"36,5 derajat celcius." Ucap Ranti cepat dan segera menulis hasil suhu tubuh pasien wanita lanjut usia itu di bagian kertas cek rutin yang ia bawa itu.
"Allhamdulilah," Ucap seorang wanita remaja yang sedari tadi terdiam saat Ranti memeriksa wanita lanjut usia itu.
"Nenek, berarti sudah turun demam nya, Suster?" Tanya wanita remaja itu dengan cepat menatap ke arah Ranti dengan pandangan mata bersinar kebahagia itu.
Ranti menganggukan kepalanya dengan cepat dan berucap "Iya, demam nya sudah terlewati.. dan untuk malam ini, sebaik nya pasien tidur lebih awal dari jam biasanya." Ucap Ranti cepat dan tersenyum tulus menatap wanita lanjut usia yang kini tengah terbaring sakit itu ada rasa kasihan dan sedih yang kini Ranti rasakan, Ranti pun terhanyut dalam pikiran nya bagaimana nasib tua nya nanti? akankah ada yang akan merawat nya jika Ranti sakit? satu demi satu kian bermunculan akan banyak nya pertanyaan dimasa mendatang kelak.
"Allhamdulilah kalau begitu, Suster.. Nenek dengarkan harus tidur lebih awal malam ini." Ucap seorang wanita remaja dengan cepat dengan wajah bahagia nya mengetahui sang nenek telah turun demam nya itu.
Ranti sontak terharu menatap sosok wanita remaja yang masih amat peduli terhadap orang tua, di jaman yang sudah banyak berubah seperti ini sangatlah jarang bisa bertemu dengan anak remaja yang masih tetap peduli pada lingkungan sekitar nya, apa lagi dengan yang sedang primadona saat ini yaitu ponsel genggam mereka sendiri yang membuat mereka lupa bahkan melupakan bahwa waktu terus berjalan tampa mereka sadari. Dan sayang nya penyesalan selalu terjadi di akhir yang mana akan membuat mereka sangat menyesali karna telah menyiayiakan waktu yang berharga dengan orang terkasih mereka sendiri dan lebih asik dengan benda pipih yang semakin banyak menyita waktu mereka tampa mereka sadari.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dahulu." Ucap Ranti cepat dan tersenyum tulus sebelum melangkah ke luar ruangan kamar rawat inap pasien wanita lanjut usia itu setelah menyelesaikan tugas nya sebagai perawat.
Tap.. tap.. tap.. langkah kaki seseorang dengan cepat terdengar berjalan ke arah Ranti yang saat ini sedang menyusuri koridor rumah sakit ingin pergih ke ruangan pasien yang lainnya untuk ia periksa keadan pasien rawat inap yang memang sudah menjadi tugas nya itu.
"Suster, tolong anak saya Suster." Triak seorang pria di hadapan Ranti dengan baju yang pria itu kenakan ada bercak merah darah dan tercium bau anyir darah segar yang menyeruak di penciuman hidung Ranti saat berdekatan dengan sosok pria itu.
Ranti sontak terkejut akan penuturan pria yang ada di hadapan nya kini, dengan sigap Ranti segera berucap "Saya akan memanggilkan Dokter sesegera mungkin Pak, dimana ruangan anak Bapak." Ucap Ranti cepat menatap sosok pria yang ada dihadapan nya kini dengan lekat.
Sosok pria itu segera menunjuk ke arah ruangan kamar pasien yang berada tak jauh dari tempat Ranti saat ini berdiri "Disana, kamar 5B.. cepatlah Suster, tolong panggilkan Dokter atau siapa pun dengan segera.. tolong selamatkan anak saya." Ucap sosok pria itu cepat dan ia pun segera berlarian kembali menuju ke ruangan yang ia tunjukan kepada Ranti.
Ranti dengan cepat segera berlarian secepat mungkin ke luar koridor rumah sakit ingin memanggil seorang dokter untuk menangani pasien yang sedang membutuhkan pertolongan itu "Aww." Pekik Ranti lirih saat ia terjatuh ke lantai rumah sakit karna kehilangan keseimbangan yang mengakibatkan kedua lutut nya memar kemerahan itu.
"Ranti, kau tidak apa-apa?" Tanya seseorang kepada Ranti dengan cepat dan segera membantu Ranti kembali berdiri.
"Tidak apa-apa, Dokter Zura tolong ikut Ranti segera.. ada keadaan darurat." Ucap Rantu cepat dengan kedua bola mata serius nya itu menatap ke arah sosok pria yang sedang tersenyum tipis kepada nya itu.
"Keadaan darurat apa? apakah kau sudah berubah pikiran Ranti, dan sekarang dengan terburu-buru ingin mengajak ku makan bersama." Ucap pria bernama Zura itu dengan cepat menatap ke arah Ranti dengan penuh pandangan mengoda nya itu.
"Tidak! ada pasien yang terluka.. kumohon Dokter Zura tolong ikut dengan Ranti." Ucap Ranti cepat dengan wajah cemas nya itu.
Wajah Zura yang tadinya menggoda Ranti pun kian berubah menjadi serius menatap lekat ke arah Ranti, ia pun berucap "Dimana ruangan nya?" Tanya Zura cepat.
"Kamar 5B, tepat nya di bagian kiri koridor rumah sakit." Jawab Ranti dengan cepat.
"Baiklah, aku akan kesana duluan.. kau segera ambilkan alat-alat pertolongan pertama yang di perlukan." Ucap Zura cepat dan segera berlari dengan cepat menyelusuri koridor rumah sakit dan meninggalkan Ranti sendirian.
Ranti sontak saja berlari menuju ke arah tempat persediaan obat-obatan, ia segera mengambil semua alat yang ia perlukan dan menaruh nya di nampan yang sudah ia sterilkan terlebih dahulu. Rak besar yang ada dihadapan Rantisaat ini di penuhi oleh kotak-kotak putih yang berisi berbagai macam obat, antiseptik, kapas, kain kasa dan alat-alat medis lain nya yang sudah tersimpan rapih di setiap tempat nya. Dengan sigap Ranti segera mengembalikan kotak-kotak putih yang sudah ia keluarkan dari tempat nya itu kembali ketempat asal nya semula.
Tak membutuhkan waktu yang lama kini Ranti telah tiba di rungan yang di dalam nya sangat tercium bau anyir itu. Dengan cepat Ranti segera membantu Dokter Zura yang saat ini sedang menangani pasien yang terluka di bagian pergelangan tangan nya itu.
"Ck, Ranti.. ambilkan aku jarum dan benang." Ucap Zura cepat dengan sedikit mendenguskan napas nya itu.
"Apakah luka nya sangat dalam? sehingga harus di jahit." Ucap seorang pria tua dengan cepat menatap ke arah Zura dengan lekat.
"Apakah kau tak bersedia saya menjahit luka putri mu?" Tanya balik Zura dan menatap tajam ke arah sosok pria yang notaben nya adalah ayah sang anak yang sedang ia tangani kondisi nya itu.
"Ah, tidak bukan begitu.. lakukan saja yang terbaik untuk putri ku." Ucap sosok pria itu cepat dengan wajah cemas bercampur wajah sedih nya itu ia terus saja berjalan bolak-balik tak tenang melihat kondisi sang putri kesayangan nya itu.
Zura dengan cepat segera menutup luka yang cukup panjang dan dalam itu dengan 8 jahitan di lengan pasien wanita yang tak sadarkan diri itu. Zura dan Ranti menghela napas nya panjang setelah mendengar detak jantung sang pasien yang sudah kembali normal, begitu pula dengan sang ayah dari pasien yang langsung terduduk lemas di lantai rumah sakit itu. Zura sontak saja langsung menatap ke arah Ranti dengan intens seolah-olah mengisyaratkan ada sesuatu yang ingin ia bicarakan dengan Ranti berdua saja.