Terdengar suara pintu yang tertutup Erik menghela napas nya panjang, bagaimana bisa ia begitu terobsesi akan kehidupan wanita yang keras kepala itu. Erik sendiri bingung mengapa wajah dan setiap perkataan Ranti selalu terputar jelas di pikiran nya yang akhirnya Erik selalu memikirkan Ranti. "Ada apa dengan mu Erik?" Gumam Erik pelan dan segera memijit dahi nya yang pening itu.
Ranti membuka dengan perlahan-lahan mukena yang baru saja ia gunakan untuk menunaikan ibadah sholat yang di wajibkan untuk setiap umat muslim. Ranti pun segera melipat rapih mukena nya dan juga menaruh nya kembali ke tempat semula.
"Ranti.." Terdengar suara Bu Windy yang sedang manggil Ranti itu.
"Iya, Bu." Sahut Ranti cepat dan segera pergih melangkah ke luar kamar menuju tempat dimana Bu Windy berada itu.
"Nak, coba lihat itu ke luar seperti nya ada tukang paket yang nyasar deh.. sana kamu bantuin gih kali aja tampat yang dia tuju kamu tau kasihan dia, Ibu mau sholat zuhur dulu soal nya." Ucap Bu Windy cepat dan tersenyum kecil sambil menunjuk sepedah motor yang terpakir di depan pintu gerbang rumah itu.
Ranti sontak menganggukan kepala nya dengan cepat dan berucap "Iya, Bu." Sahut Ranti cepat dan segera melangkah ke luar.
"Permisi Pak, mungkin saya bisa bantu.. Bapak lagi kebingungan nyari alamatkan?" Ucap Ranti cepat dan tersenyum kecil ke arah seorang pria dewasa yang kini sedang sibuk memainkan ponsel nya itu.
"Iya, apa benar ini rumah no.32? dan Mba ini yang bernama Ranti?" Tanya pria pengatar paket itu dengan cepat pada Ranti yang mana membuat Ranti sontak terdiam sesaat.
"Benar, saya Ranti dan ini memang benar rumah bernomer 32." Ucap Ranti cepat dan dengan pandangan bingung ia menatap ke arah pria tukang paket itu dengan intens.
"Oh baik kalau begitu, ini ada paket atas nama Mba Ranti soal nya." Ucap pria pengantar paket itu cepat dan segera menyerahkan sebuah kotak besar berwana coklat pada Ranti.
"Mba, bisa tanda tangani bukti penerimaan paket di bawah tanda tangan terakhir disini ya Mba." Ucap pria pengatar paket itu dengan cepat dan segera menyodorkan kembali note buku yang di dalam nya berisi tanda tangan.
"Maaf, Pak.. saya seperti nya tidak memesan paket, mungkin ada kesalahan di alamat pesanan nya." Ucap Ranti pelan merasa bingung akan sekotak paket besar yang ia terima sekarang ini, padahal Ranti ingat diri nya tidak memesan paket apa pun.
"Oh iya Mba, ini memang bukan paket pesanan tapi paket yang di kirimkan langsung ke Mba.. ini Mba silahkan tanda tangan untuk bukti penerimaan nya." Ucap pria pengatar paket itu cepat dan tersenyum ramah kepada Ranti, Ranti pun mau tidak mau terpaksa menerima paket itu dan menandatangani bukti penerimaan paket itu.
"Pak, boleh saya bertanya.. kira-kira siapa yang kirim paket ini ke saya?" Tanya Ranti cepat dengan segudang Rasa penasaran nya itu.
"Maaf, Mba.. saya kurang tau, saya cuma bertugas mengatarkan paket saja.. mungkin nanti saat Mba buka paket nya Mba bisa tau sendiri siapa yang kirim." Ucap pria pengatar paket itu cepat dan tersenyum kecil ke arah Ranti.
"Permisi, Mba." Ucap pria pengatar paket itu kembali saat ia sudah melajukan motor nya meninggalkan kediaman Ranti.
"Siapa ya, yang kirim? kok aneh rasa nya." Gumam Ranti lirih dan segera masuk kedalam rumah nya dengan segudang rasa penasaran akan isi di dalam paket aneh yang baru saja ia terima itu.
"Ranti, sudah kamu bantu tukang paket nyasar itu?" Ucap Bu Windy cepat masih terfokus dengan rajutan nya yang baru ia sambung kembali selesai sholat itu.
Tak mendapat jawaban dari Ranti sontak saja Bu Windy langsung menatap ke arah Ranti yang sedang berjalan ke arah nya dengan pandangan mata yang tertuju di sebuah kotak besar berwarna coklat itu.
"Loh, apa itu Ranti?" Tanya Bu Windy cepat dan menatap lekat ke arah Ranti sontak saja Ranti segera tersadar dari lamunan nya.
"Ngga tau Bu, Ranti juga bingung." Ucap Ranti pelan dan segera menaruh kotak besar itu di atas meja dekat dengan Bu Windy dan Ranti yang saat ini sedang duduk di ruangan santai itu.
"Memang nya kamu pesan paket? tapi kok ngga kasih tau Ibu." Ucap Bu Windy cepat dan menatap dalam ke arah Ranti putri kecil nya itu.
"Ranti, ngga pernah pesan paket Bu.. lebih baik kalau Ranti mau beli barang, langsung ke pasar aja biar bisa tau bahan dan kualitas barang nya bagus atau ngga." Ucap Ranti cepat dan menghela napas nya berat memandang kotak coklat aneh yang ada di hadapan nya itu.
"Yasudah kalau begitu segera di buka saja, Ranti.. Ibu juga jadi kebawa penasaran sama isi di dalam nya." Ucap Bu Windy cepat dan mengetuk-etuk kotak berwarna coklat itu dengan hati-hati.
"Iya, Ranti buka sekarang." Ucap Ranti cepat dan segera mengambil gunting yang berada di satu set perlengkapan merajut Bu Windy dan membuka plastik kotak itu dengan cepat.
"Loh, isi nya bunga mawar biru dan secarik kertas doang?" Ucap Bu Windy gamblang yang mana membuat Ranti sontak menatap ke arah Bu Windy dengan dalam.
"Ibu." Pekik Ranti cepat merasa sebal akan ucapan sang ibu yang malah lebih terfokus akan isi paket aneh itu ketimbang mencari tau siapa pengirim kotak aneh itu.
"Maaf, Ranti.. Ibu hanya bingung kenapa bunga nya di masukan ke dalam kotak? kan nanti jadi layu." Ucap Bu Windy cepat dan tersenyum kecil ke arah Ranti.
"Ibu, isi di dalam paket ini tidak lah penting.. melainkan mencari tau siapa pengirim paket ini itu jauh lebih penting." Ucap Ranti pelan dan menggelengkan kepala nya terheran-heran akan sikap Ibu nya itu.
Dengan cepat Ranti segera membaca secarik kertas yang ada di dalam kotak itu, Ranti pun terdiam dan menatap bingung akan isi secarik kertas yang telah ia baca itu.
"Congratulations to you, we will meet soon.. I will watch the day it will happen to us." Ucap Ranti cepat yang mana membuat Bu Windy sontak terdiam seketika saat mendengarkan Ranti membaca isi secarik kertas itu.
"Apa maksud nya? bukankah dia bisa langsung menemui ku saja, dia kan sudah tau alamat rumah ku." Ucap Ranti pelan dan menatap lekat serta membaca ulang kembali isi secarik kertas yang sedang ia gengam itu.
If our love was a fairy tale.
I would charge in and rescue you.
On a yacht baby we would sail.
To an island where we’d say I do.
And if we had babies they would look like you.
It’d be so beautiful if that came true.
You don’t even know how very special you are.
Terdengar nada panggilan ponsel milik Ranti menggema di telinga nya dan juga Bu Windy, Ranti pun sontak segera mencari keberadaan ponsel nya yang terdengar dari ruangan dapur itu. Dengan cepat ia segera mengangkat panggilan telpon itu.
"Hallo." Ucap Ranti cepat.
"Hallo, Assalamualaikum." Terdengar suara seseorang di sebrang telpon yang sangat familiar di telinga Ranti.
"Waalaikumsalam," Jawab Ranti cepat dan mengulaskan senyuman bahagia nya itu saat mendengar kembali suara yang terdengar dari dalam ponsel milik nya itu.
"Selamat atas perkerjaan baru mu di rumah sakit paling terkenal di kota ini, Ranti." Ucap seseorang di sebrang telpon terdengar gembira, Ranti pun hanya bisa tertawa kecil menanggapi ucapan selamat yang telah ia terima itu.
"Ranti, apakah kau bisa mampir ke toko kue sebelum berangkat ke rumah sakit?" Terdengar suara di sebrang telpon yang menggema di telinga Ranti.
"Tentu saja bisa, Filda.. aku dapat shif malam untuk seminggu kedepan, jadi aku akan ke toko kue mungkin jam 5 an." Ucap Ranti cepat dan tersenyum lebar.
"Baguslah kalau begitu, aku dan Joy akan menunggu mu disini.. Ranti, aku tutup telpon nya yaa, ada banyak pelanggan hari ini dan sampai jumpa nanti sore." Ucap Filda cepat di sebrang telpon sana.
"Baiklah, sampai jumpa." Ucap Ranti cepat dan segera mengakhiri panggilan telpon nya itu.
Ranti menghela napas nya cepat merasa rindu dengan sahabat nya itu. Bagaimana pun Filda adalah teman seperjuangan nya, dengan langkah cepat Ranti segera melangkah kembali menuju ruang santai dan disana sudah ada Bu Windy yang sedari tadi menunggu nya itu.
"Ranti, kau sudah selesai mengangkat telpon nya.. dari siapa itu?" Tanya Bu Windy cepat terlihat sekali di wajah nya saat ini ia sedang gelisah.
"Dari Filda Bu, Filda ingin Ranti ke toko kue sebelum berangkat kerja nanti sore." Ucap Ranti cepat dan merasa aneh melihat wajah cemas milik Bu Windy itu.
"Ada apa Bu, kok Ibu kaya lagi cemas gitu?" Tanya Ranti pelan dan segera menghampiri Bu Windy dengan cepat.
"Ng.. ngga kok, Ibu cuma merasa pusing aja." Ucap Bu Windy cepat terkesan sedang menutup-nutupi sesuatu itu.
"Pusing? memang nya Ibu belum minum obat." Ucap Ranti cepat merasa aneh akan sikap sang Ibu yang tak seperti biasa nya itu.
Bu Windy tak menjawab ia hanya terdiam yang mana membuat Ranti sontak berpikir dengan keras.Tak mungkin jika Ibu nya terlambat atau pun melewatkan jam minum obat nya, karna Bu Windy juga sangat tau jika penyakit lambung dan tensi nya akan tinggi jika kelewatan jam minum obat.
"Bu, ayo katakan aja sama Ranti ada apa? Ranti, sudah besar Bu.. Ranti bisa kok jadi teman curhat Ibu." Ucap Ranti cepat dan memandang lekat ke arah sang Ibu.
"Ranti, Nak.. Ibu takut dengan kotak aneh ini.. terlebih lagi kita ngga tau siapa pengirim nya, Ibu takut kamu nanti kenapa-kenapa.. kamu buang aja ya, Nak." Ucap Bu Windy pelan dan menunjuk sebuah kotak yang di dalam nya berisi bunga mawar biru dengan secarik kertas yang masih menjadi tanda tanya bagi Ranti.
Ranti terdiam dan sontak menghela napas nya ringan ia pun berucap "Ibu, cuma karna hal ini aja Ibu sampai berbohong merasa pusing sama Ranti? Ibu, kalau Ibu bilang dari awal Ibu takut juga pasti bakalan Ranti langsung buang jauh-jauh kok kotak nya." Ucap Ranti cepat dan menggelengkan kepala nya terheran-heran akan sikap sang Ibu yang lucu menurut nya.
"Kamu bakalan buangkan?" Tanya Bu Windy kembali dengan wajah cemas nya itu.
"Iya, apa pun permintaan Ibu bakalan Ranti turutin.. lagian Ranti juga merasa aneh sama isi surat itu, jadi buat apa Ranti simpan dan malahan nanti jadi di bawa pikiran." Ucap Ranti cepat dan tersenyum kecil.
"Allhamdulilah, kalau gitu.. yaudah Ibu yang buang aja." Ucap Bu Windy cepat dan segera membawa kotak aneh itu keluar dari rumah nya.
"Setakut itu ya, Ibu sama kotak aneh itu?" Gumam Ranti pelan yang terbengong saat melihat Bu Windy langsung segera membuang kotak aneh itu ke tempat sampah.
Cahaya matahari yang menyengat pada siang hari kini telah perlahan-lahan melemah dan mulai memudar, pukul 17:30 menit. Ranti sudah tiba di depan pakiran toko kue yang sedari dulu menjadi salah satu tempat bersejarah di hidup nya.
"Ranti.." Terdengar suara seseorang yang tengah memanggil nama Ranti dengan penuh rasa rindu itu.
"Filda.." Ucap Ranti cepat dan segera berhamburan pergih ke arah Filda dan terjadilah mereka berdua berpelukan untuk melepas rasa rindu padahal baru sehari mereka berdua tidak bertemu.
"Aku merindukan mu." Ucap Filda lirih dan sedikit mengeluarkan air mata nya itu sedih.
"Benarkah? bukan nya kau lebih bahagia jika aku tak ada di toko dan yang terus membuat mu pusing akan tingkah ku ini." Ucap Ranti cepat dan tersenyum lebar.
"Lah, di cariin di dapur malah pada kumpul disini? hey, toko masih belum di tutup loh." Ucap Joy cepat dengan wajah jahil nya itu.
"Kau saja yang tutup, Joy.. aku dan Ranti akan masuk ke dalam oke." Ucap Filda. cepat dan segera mengusir ke luar Joy yang berdiri di depan pintu toko mengalangi Ranti dan Filda yang kini mau memasuki toko itu.
Joy menghela napas nya pasrah, inilah sebab nya dia sedari dulu tak suka mempunyai bos wanita yang benar-benar bersikap tak adil pada nya "Ck.. untung kau sangat manis, Filda." Gumam Joy lirih dan segera masuk kembali ke dalam toko.
"Ranti, aku sudah membuatkan kue kesukaan mu loh." Ucap Filda cepat dan tersenyum lebar sambil menuntun Ranti berjalan mengarah ke dapur.
"Black Forest?" Pekik Ranti cepat dengan wajah terkejut nya itu.
"Benar, surprise!!" Jawab Filda cepat dan segera menujuk ke arah kue black forest berbentuk persegi yang sudah tertata apik di atas meja itu.
Ranti sontak menitihkan air mata nya terharu akan kejutan yang tak pernah ia kira ini, Ranti dan Filda sudah bersahabat sedari mereka mengijakkan kaki nya di bangku smp. Sedari itu Ranti dan Filda tak bisa di pisahkan, walau sering bertengkar karna berbeda pendapat namun Ranti dan Filda akan segera kembali berbaikan dan pertengkatan itu semakin mengeratkan hubungan persahabatan mereka berdua.