Pagi hari menyapa, sinar mentari kini dengan semangat mengusik tidur lelap nya Ranti. Ranti mengerjapkan kedua mata nya dengan perlahan-lahan dan menatap ke arah jam dinding yang kini menunjukan pukul 10:00 WIB, ia menghela napas nya dengan panjang kemari malam ia pulang pukul 5 lewat 25 menit karna ada pasien gawat darurat yang baru saja mengalami kecelakan sehingga Ranti harus memperpanjang masa kerja nya.
"Aku masih mempunyai waktu sebelum jam 6 sore nanti.. haruskan aku tidur lagi." Gumam Ranti lirih di sela-sela kedua mata nya yang masih betah untuk tertutup dan tertidur kembali.
Tok.. tok.. tok.. terdengar suara ketukan pintu di telinga Ranti, Ranti sudah menduga jika itu pasti Ibu nya dengan cepat Ranti sontak membuka kedua mata nya dan berucap "Masuk aja, Buu." Ucap Ranti cepat dan segera berusaha mendudukan dirinya terlebih dahulu sebelum terbangun secara sempurna di pagi hari menjelang siang hari ini.
"Baru bangun? apakah secape itu berkerja di Rumah Sakit, Nak?" Tanya Bu Windy cepat dengan pandangan khwatir nya yang kini menatap putri nya yang terlihat sangat kelelahan itu.
"Tidak, Bu.. ini karna baru sehari Ranti berkerja disana, tapi sekarang Ranti sudah kebagian shift kerja kok.. Ranti, akan masuk kembali jam 6 sore nanti.. Ranti kebagian shift malam." Ucap Ranti cepat dan mengulas senyuman terbaik nya di hadapan Windy sang ibu yang melahirkan Ranti dengan susah payah dan penuh perjuangan itu.
"Bagus kalau begitu, Ranti.. mau Ibu buatkan sarapan apa?" Ucap Bu Windy cepat dan tersenyum kecil menatap wajah putri nya yang kini terlihat lelah namun tak ingin menunjukan nya itu.
"Nasi goreng spesial pedas ala Ibu Windy yang sangat mantul dan enak." Ucap Ranti cepat dan tersenyum lebar.
Sontak saja Bu Windy tertawa lebar akan penuturan putri nya itu yang sangat lucu menurut nya "Baiklah, Ibu akan segera membuatkan nya untuk mu.. Ranti." Ucap Bu Windy cepat dan segera beranjak dari tempat tidur Ranti dan melangkah keluar kamar Ranti.
Ranti sontak tersenyum bahagia, tak pernah sekali pun ia kekurangan cinta kasih seorang ibu kepada anak nya dari Windy. Windy selalu menuruti apa pun yang ia minta asalkan hal itu tak berdampak buruk kepada Ranti.
"Kau salah Ayah, hidup kami jauh lebih baik tampa mu.. tapi akan lebih sempurna jika kau ada disini, Ayah." Gumam Ranti lirih dan tersenyum getir saat mengingat kenangan dulu dimana ia dan ibu nya di tinggalkan oleh sosok pria yang sangat Ranti nanti-nantikan kasih sayang seorang Ayah dari nya.
Ranti segera bergegas mengambil handuk sebelum ia pergih melangkah keluar kamar untuk pergih ke kamar mandi dan membersihkan dirinya itu.
"Assalamualaikum, Bu.." Terdengar suara seseorang memanggil Bu Windy, dengan cepat Bu Windy segera mengalihkan perhatian nya menatap ke arah orang yang sudah memanggil nya itu.
"Rendi? kenapa kau pulang lagi, nak.. adakah barang yang tertinggal." Tanya Bu Windy cepat merasa bingung saat putra nya itu telah kembali ke rumah nya sebelum jam pulang kerja.
Sontak saja pria yang sedang di hadapan Bu Windy langsung mengaggukan kepala nya dengan cepat tanda mengiyakan akan ucapan Ibu nya itu, ia pun berucap "Iya, Bu.. Rendi kelupaan bawa Map kerja." Ucap sosok pria tegap bernama Rendi itu cepat dan segera pergih menaiki anak tangga.
"Rendi.. Rendi, ada-ada aja kamu." Ucap Bu Windy pelan dan menggelengkan kepala nya terheran-heran akan kecerobohan anak nya itu.
Tap.. tap.. tap.. terdengar suara langkah kaki satu persatu menuruni anak tangga, Bu Windy dengan cepat segera berucap "Sudah ketemu Map nya?" Ucap Bu Windy dengan cepat tampa melihat ke arah tangga.
"Map? Map apa Bu?" Ucap Ranti cepat dan seketika terdiam tak melanjutkan langkah nya kembali untuk menuruni anak tangga.
"Loh, Ranti toh.. Ibu, kira Rendi." Ucap Bu Windy cepat dan langsung menepuk jidat nya dengan pelan.
"Oh iya, tadi Ranti ketemu Kak Rendi di atas.. bukan nya Kak Rendi itu jam kerja nya masuk pagi ya, Bu?" Tanya Ranti cepat dan segera membuka kulkas dan mengambil air minum disana.
"Iya, tapi dia balik lagi karna kelupaan bawa Map kerja nya." Jawab Bu Windy cepat sambil menyalakan api kompor untuk ia memasak sarapan Ranti itu.
"Mm, gitu.. tapi setau Ranti Kak Rendi itu orang yang teliti deh, mana mungkin Kak Rendi bisa lupa bawa Map doang." Ucap Ranti cepat dan segera menggeser bangku meja makan untuk ia duduki disana.
"Nama nya juga manusia, Ranti.. banyak salah, makannya kita tuh harus banyak berdoa meminta ampun sama yang maha kuasa, Nak." Ucap Bu Windy cepat sambil tersenyum kecil saat memberi nasihat pada anak perempuan nya itu.
"Tapi, kenapa ya Bu? ada orang yang sangat angkuh dan berlagak sombong di dunia ini hanya karna mempunyai uang dan jabatan." Ucap Ranti cepat dengan wajah kesal nya ia mengingat kembali sosok Erik pria terangkuh yang pernah Ranti temui semasa hidup nya itu.
"Ranti, sifat manusia juga ada rasa sombong dan dengki, Nak.. dan sifat itu tak akan bisa terlepas dari kita, manusia yang tak mempunyai rasa kepuasan akan sesuatu." Ucap Bu Windy pelan dan menundukan pandangan nya kebawah terfokus akan sarapan yang ia buat.
Ranti menatap intens ke arah Bu Windy ada suatu hal yang tidak ia ketahui, tapi yang pasti hal itu yang saat ini membuat Bu Windy sedih. Ranti ingin berucap kembali namun saat ia ingin berucap terdengar suara Rendi yang ingin berpamitan pergih kerja kembali.
"Bu, Rendi pergih kerja dulu." Ucap Rendi cepat dan segera menghampiri Bu Windy yang tengah di dapur sedang memasak itu, tak lupa Rendi mencium punggung tangan Bu Windy dengan penuh hormat.
"Sudah ketemu Map nya, Rendi?" Tanya Bu Windy cepat dan menatap dangak ke arah wajah Rendi yang tinggi nya melebihi tinggi Bu Windy itu.
Rendi sontak menganggukan kepala nya dengan pelan dan berucap "Sudah, Bu." Ucap. Rendi cepat dan tersenyum kecil ke arah Bu Windy.
"Kak Rendi, ngga kaya biasa nya? Kak Rendi kan orang yang teliti dan disiplin kok bisa kelupaan bawa Map kerja." Ucap Ranti cepat dan menatap dalam ke arah sosok pria tegap yang kini memandangi nya itu.
"Kakak, juga ngga tau Ranti.. seharus nya Map ini di perlukan untuk rencana marketing perusahan dan lusa baru di bahas, tapi Bos Kakak minta Map ini sekarang." Ucap Rendi cepat ia pun menghela napas nya panjang.
"Untung saja, Kakak sudah menyelesaikan nya semalam.. kalau tidak, entah hari ini apa yang akan terjadi pada perkerjaan Kakak." Ucap Rendi
cepat dan mehela napas nya lega.
"Allhamduliah, kalau begitu Nak.. Ibu, yakin jika usaha mu ini tidak akan mengkhiyanati mu Nak." Ucap Bu Windy cepat dan mengusap lengan kiri milik Rendi dengan rasa bangga.
"Iya, Bu.. ini semua juga berkat doa Ibu, yang selalu berdoa agar Rendi bisa sukses dan membahagiakan Ibu." Ucap Rendi cepat dan tersenyum lebar ke arah Bu Windy.
"Ranti, juga loh Kak Rendi.. selalu berdoa agar Kak Rendi mendapatkan perkerjaan yang cocok dengan keinginan Kakak." Ucap Ranti cepat dan tersenyum kuda.
"Iya.. iya, pulang kerja nanti Kakak bawain martabak manis spesial buat kamu." Ucap Rendi cepat dan tertawa kecil melihat sikap manja nya adik satu-satu nya itu.
"Yeah.. makasih, Kak." Ucap Ranti cepat dan bersorak gembira.
"Adik mu itu selalu saja suka makanan yang manis-manis seperti itu, Rendi." Ucap Bu Windy cepat dan tertawa kecil melihat reaksi senang Ranti saat ia akan di belikan makanan oleh Kakak nya itu.
"Ngga apa-apa Bu, asalkan jangan minta barang-barang mahal saja Rendi pasti akan langsung tolak mentah-mentah kok." Ucap Rendi cepat dan tertawa kecil.
"Buat apa beli yang mahal kalau yang murah ada." Sahut Ranti cepat dengan tersenyum lebar.
"Yasudah, kamu pergih berangkat kerja sana.. hari sudah semakin siang, nanti kamu malah dapat masalah kalau berlama-lama disini." Ucap Bu Windy cepat dan tersenyum kecil ke arah Rendi.
"Iya, Bu.. Rendi berangkat dulu ya, Assalamualaikum." Ucap Rendi cepat dan segera melangkah pergih meninggalkan Ranti dan Bu Windy.
"Waalaikumsalam." Jawab Ranti dan Bu Windy berbarengan menjawab salam yang telah di ucapakan Rendi itu.
"Ini nasi goreng mu, Ranti.. sarapan terlebih dahulu sebelum beraktifitas." Ucap Bu Windy cepat dan segera menaruh satu piring yang berisi nasi goreng di atas meja makan.
"Terimakasih, Bu.. Mm, wangi nya aja udah enak apa lagi rasanya." Ucap Ranti cepat dan langsung menyuapi diri nya dengan sendiri dengan lahap.
"Hati-hati makan nya, Ranti.. nanti kamu tersedak Nak." Ucap Bu Windy cepat dan menggelengkan kepala nya terheran-heran akan cara makan Ranti yang cepat itu.
Ranti hanya bisa mengulas senyuman dan makan dengan lahap menghabiskan sepiring nasi goreng yang sangat enak itu.
30 menit kemudian, disisi lain. Erik tengah tertawa lebar akan sebuah rencana yang telah ia pikirkan sedari tadi pagi itu. Saat Erik membaca tentang riwayat serta kehidupan sehari-hari Ranti yang telah di selidiki oleh Yogi Asisten nya, Erik menemukan sesuatu yang tak di sangka-sangka oleh dirinya ternyata Ranti adalah salah seorang adik dari karyawan terpercaya dan yang sangat patuh akan ucapan Erik itu.
"Ternyata benar apa kata orang, dunia ini begitu kecil.. bahkan kejadian tak terduga seperti ini pun bisa terjadi." Gumam Erik cepat dan tertawa lebar seketika.
Tok.. tok.. tok.. terdengar suara ketukan pintu ruangan yang kini terdengar menggema di telinga Erik. Dengan cepat Erik segera memberi perintah agar orang tersebut segera masuk ke ruangan nya.
"Permisi, Pak.. ini data-data yang Bapak perlukan." Ucap seorang pria bertubuh tegap dengan segera ia menyerahkan Map berwarna hitam itu di atas meja sang Bos nya.
"Kau sudah menyelesaikan nya?" Tanya Erik cepat dengan sebelah alis mata nya yang terangkat menatap karyawan pria yang ada di hadapan nya itu dengan tatapan mengintimindasi.
"Sudah, Pak." Ucap karyawan pria itu dengan cepat dan sigap.
"Baiklah, kalau begitu aku akan memeriksa nya nanti.. kau bisa kembali ketempat mu." Ucap Erik cepat dengan kedua tangan di atas meja yang ia gunakan untuk menopang dagu nya itu terlihat sekali aura karismatik yang terpancarkan dari dalam dirinya.
"Baik, Pak." Ucap karyawan pria itu dengan cepat dan segera pergi berlalu dari ruangan Erik dengan hormat.
Erik terdiam sesaat dan dengan gerakan cepat ia segera memencet nomer panggilan telpon yang langsung terhubung ke asisten nya itu. dengan cepat Erik segera berucap "Keruangan ku segera." Ucap Erik tegas dan menatap ke depan dengan pandangan serius.
Dengan cepat Yogi segera berjalan menuju ke ruangan sang bos nya dengan cepat. Tak butuh waktu lama terdengar kembali suara ketukan pintu menggema di telinga Erik, dengan cepat Erik segera menyuruh Yogi untuk masuk ke dalam ruangan nya.
"Yogi, apa kau ada cara?" Tanya Erik cepat yang mana membuat Yogi memiringkan kepala nya bingung menatap ke arah sang bos nya itu.
"Maksud, Tuan?" Tanya Yogi balik tak mengerti akan pertanyaan Tuan nya itu.
"Aku ingin membuat Rencana agar wanita itu tak lagi memandang rendah padaku." Ucap Erik cepat dan tersenyum penuh maksud.
"Maksud Tuan, Tuan akan memecat Rendi karna masalah adik nya dengan Tuan? bukan kah itu tak adil nama nya." Ucap Yogi gamblang yang mana membuat Erik sontak menatap ke arah nya dengan menyipitkan kedua mata nya.
"Tentu saja tidak, Yogi.. Rendi adalah salah satu karyawan yang loyal pada perusahan dan juga padaku aku tak mungkin memecat nya hanya karna sikap keras kepala adik nya itu." Ucap Erik cepat.
"Aku mungkin hanya akan menggunakan Rendi sebagai tameng rencana ku saja, dan aku akan pastikan Ranti tidak akan pernah memandang atau pun melawan ucapan ku kembali." Ucap Erik cepat dengan senyuman kesombongan nya itu.
"Mengapa Tuan sangat tertarik akan wanita yang bernama Ranti itu? ini tidak seperti diri, Tuan." Ucap Yogi gamblang tampa berpikir ulang dan ia pun segera menutup mulut nya dengan cepat saat Erik menatap nya dalam diam.
"Maaf, Tuan." Ucap Yogi cepat dan segera menundukan pandangan mya merasa bersalah akan ucapan nya yang tak bisa ia kontrol itu.
Erik sontak saja berjalan menghampiri Yogi asisten nya itu dan meninggalkan kursi mahal nya hanya untuk bisa berdiri di hadapan Yogi, ia pun berucap "Kau benar, Yogi.. mengapa aku bisa begitu tertarik kepada nya? aku sendiri pun tidak tau mengapa? setiap kali aku melihat nya maka aku akan terus kepikiran tentang wanita keras kepala itu.. ada apa dengan ku." Ucap Erik pelan dan memandang Yogi dengan pandangan aneh yang sama sekali belum pernah ia lihat walau Yogi sendiri sudah sedari dulu ia berkerja dengan Erik sang Bos nya itu.
"Maksud.. maksud Tuan apa? Apakah Tuan tidak marah kepada saya karna telah berbicara sembarangan seperti tadi?" Tanya Yogi pelan gelagapan takut-takut akan sikap bos nya yang sejak bertemu dengan Ranti mulai berubah tak seperti yang ia kenal.
Erik sontak menggelengkan kepala nya dengan cepat dan berucap "Tidak." Ucap Erik cepat dan segera melangkah kembali menuju ke arah singgasana nya itu.
Yogi segera menghela napas nya panjang dan berucap "Baguslah." Ucap Yogi lirih dan mengelus d**a bidang nya dengan pelan.
"Kau bisa kembali lagi ke tempat mu untuk berkerja, Yogi.. dan bawa semua ini saat kau keluar ruangan ku, Yogi.. aku tak mau lagi mendengar atau pun melihat apa pun yang masih bersangkutan dengan wanita itu." Ucap Erik cepat dan segera menyerahkan sebuah Map yang berisi tentang data-data riwayat milik Ranti kepada Yogi sang Asisten nya itu.
"Baik, Tuan." Ucap Yogi cepat dan segera mengambil Map yang ada di atas meja itu dengan cepat lalu segera pergih meninggalkan ruangan Erik dengan hormat.
Terdengar suara pintu yang tertutup Erik menghela napas nya panjang, bagaimana bisa ia begitu terobsesi akan kehidupan wanita yang keras kepala itu. Erik sendiri bingung mengapa wajah dan setiap perkataan Ranti selalu terputar jelas di pikiran nya yang akhirnya Erik selalu memikirkan Ranti. "Ada apa dengan mu Erik?" Gumam Erik pelan dan segera memijit dahi nya yang pening itu.