"Ranti." Suara panggilan seseorang yang mana membuat Ranti sontak menatap ke arah asal suara itu dengan cepat.
"Kau dari mana saja?" Ucap seseorang itu kembali yang amat Ranti hindari kehadiran nya di rumah sakit itu.
Ranti menundukan pandangan nya dengan cepat merasa risih di perhatikan dari atas sampai bawah oleh seorang pria yang kini tersenyum penuh maksud kepada nya, ia pun berucap "Maaf, Ranti sedang sibuk.. kita akan berbicara lagi nanti." Ucap Ranti cepat merasa tak nyaman jika ia berdekatan dengan sosok pria yang kini memandangi nya itu.
"Ayolah, kau kan baru masuk kerja hari ini bahkan ini sudah hampir selesai jam kerja mu Ranti.. bukankah sebaik nya kita berdua saling mengobrol untuk lebih saling mengenal?" Ucap pria itu cepat dengan wajah tersenyum nya ia berusaha menarik simpati Ranti.
"Maaf Dokter Zura, Ranti berada di sini untuk berkerja dengan baik dan jujur.. Ranti, sedang sibuk Ranti mohon Dokter Zura tak bersikap berlebihan seperti ini lagi pada Ranti." Ucap Ranti cepat dan segera ingin melangkah pergih namun naas lengan tangan nya sontak saja di genggam oleh tangan Zura.
"Kenapa kau begitu aneh Ranti? aku tidak ingin berniat jahat padamu loh.. tapi kenapa kau bersikap dingin dan acuh terhadap ku? apa kah aku mempunyai salah padamu, hm." Ucap Zura cepat dengan memasang wajah sedih nya ia perlihatkan kepada Ranti masih ingin membuat Ranti bersimpati kepada nya.
"Iya, Dokter Zura salah.. dengan bersikap seenak nya pada Ranti seperti ini menujukan bahwa Dokter Zura adalah pria yang tak mempunyai etika." Ucap Ranti cepat dan segera melepaskan tangan nya dari genggaman tangan Zura dengan cepat.
"Apa? kau bilang aku tidak mempunyai etika? hah.. kau itu siapa hah? hanya suster baru yang berkerja sehari disini dan kau sudah berani mengolok-olok diriku, apa kau tau aku bahkan bisa dengan cepat membuat mu di pecat dari sini segera!" Ucap dokter pria bernama Zura itu cepat dan terlihat sekali perkataan Ranti mampu membuat nya marah.
Ranti sontak membulatkan kedua mata nya dan menatap nanar sosok pria bernama Zura itu dengan lekat, apa maksud pria itu apakah rumah sakit ini milik nya sehingga ia bisa dengan mudah membuat orang lain dicepat dengan seenak nya tampa masalah.
"Tapi, kau tau bukan.. aku tidak akan pernah bisa melakukan itu padamu, Ranti.. asalkan kau mau menjadi wanita ku." Ucap Zura cepat seketika wajah nya berubah menjadi wajah penggoda dan menatap Ranti dengan senyuman aneh nya itu.
Ranti sontak bergidik ngeri akan ucapan yang baru saja menggeman di telinga nya itu, menjadi wanita nya? wanita pria penggoda itu? yang benar saja! walau pun di dunia ini hanya tersisa satu orang pria saja maka Ranti akan tetap tak akan mau memilih Zura, Ranti pun dengan cepat memberanikan dirinya kembali dan berucap "Aku tidak mau! kau bisa mencari wanita lain untuk dirimu, Dokter Zura." Ucap Ranti cepat dan segera melangkah pergih dengan secepat nya menjahui sosok pria bernama Zura itu.
"Hahaha.. mungkin bukan sekarang waktu nya Ranti, tapi akan terjadi kau pasti akan memohon padaku untuk menjadi wanita ku.. akan ku pastikan bahwa kau akan memohon kepadaku untuk hal ini." Gumam Zura cepat dan tersenyum miring merasa kesal akan sikap keras kepala Ranti yang tidak mau menjadi wanita nya itu.
"Apa-apaan dia.. seenak nya saja dalam berucap! dasar tidak tau malu, huh.. masih ada aja orang bodoh seperti nya." Gerutu Ranti kesal sambil melangkah memasuki ruangan pasien yang sudah di jadwalkan untuk di cek kondisi nya itu.
"Halo.. selamat sore." Ucap Ranti cepat menyapa sosok pria kecil yang saat ini sedang terduduk di kasur nya dengan sebuah bingkai foto yang ia genggam di kedua tangan nya itu.
"Selamat sore, juga." Ucap anak kecil pria itu dengan cepat dan tersirat sebuah senyuman manis yang terlihat di sudut bibir nya itu.
Ranti sontak menatap samping kasur rumah sakit milik anak kecil itu dan melihat sebuah nama tanda pengenal pasien yang tertera jelas di kasur rumah sakit itu "Nama mu pasti, Raden yaa?" Tanya Ranti cepat dan tersenyum ramah ke arah anak kecil pria yang masih tersenyum manis ke arah nya itu.
"Iya, Suster." Ucap pria kecil itu cepat dan terlihat jejeran gigi s**u kecil milik nya yang terlihat menggemaskan itu di mata Ranti.
"Raden, sekaran minum obat yaa.. sini buka mulut nya." Ucap Ranti cepat dan ingin menitihkan air mata nya sedih saat melihat sosok pria kecil yang masih menyunggingkan senyuman manis nya itu kepada Ranti walah ia sendiri memiliki keterbatasan yaitu tak bisa melihat.
Raden dengan lahap menelan obat yang di berikan dari Ranti itu tampa banyak mengeluh atau pun menolak karna rasa nya pahit. Walau usia Raden sangatlah terbilang masih kecil namun ia sama sekali tidak protes tentang mengapa ia harus secara rutin meminum obat yang rasa nya pahit itu.
"Sudah selesai." Ucap Ranti cepat dan mengusap pipi gembul milik pria kecil yang bernama Raden itu dengan gemas.
"Benarkah? apakah jika Raden terus meminum obat Raden akan sembuh dengan cepat Suster?" Tanya anak kecil bernama Raden itu dengan cepat yang mana membuat hati kecil Ranti terasa perih seketika.
Ranti sontak menitihkan air mata nya dengan pelan dan berusaha untuk menahan isak tangis nya akan pertanyan pria kecil yang ada di hadapan nya itu, ingin sekali Ranti bertanya pada yang maha kuasa. mengapa mahluk kecil seperti nya diberikan cobaan yang begitu besar seperti ini? bahkan Ranti saja mungkin tidak akan sanggup menerima cobaan yang sedang di jalani oleh Raden anak kecil yang punya keterbatasan tak bisa melihat dan sekarang ia di vonis memiliki kanker stadium 1, betapa hancur nya hati anak kecil bernama Raden itu jika ia mengetahui tentang apa penyakitnya.
"Iya, tentu saja Raden.. maka dari itu Raden harus terus semangat dan tidak lupa selalu berdoa ya, meminta kepada Allah agar Raden diberikan nikmat kesehatan." Ucap Ranti pelan dan tersenyum lebar kearah anak kecil yang kini tersenyum lebat tampa mengetahui penyakit apa yang sedang ia derita.
"Suster, apakah Suster baru disini?" Tanya Raden dengan cepat berusaha mencari tau di mana keberadaan Ranti berada.
Seulas senyuman terbit di bibir Ranti ia pun berucap "Bagaimana kau tau, Raden? iya aku baru berkerja di sini hari ini namaku Ranti." Ucap Ranti cepat dan menatap ke arah anak kecil itu dengan dalam.
"Karna hanya Suster baru yang mau menyapa dan berbicara pada, Raden." Ucap anak kecil bernama Raden itu dengan cepat yang mana membuat Ranti sontak membulatkan kedua mata nya terkejut atas ucapan anak kecil itu.
Ranti sontak terdiam dan berpikir keras bagaimana mungkin anak kecil seperti nya mendapatkan perlakuan dikucilkan seperti ini hanya karna ia memiliki keterbatasan saja.
"Kenapa, para Suster tidak mau berbicara dengan mu.. Raden?" Tanya Ranti pelan berusaha ingin mencari tau sebab nya namun Ranti tak ingin menyinggung perasaan milik anak laki-laki bernama Raden itu yang sangat telihat tampan di usia nya yang masih terbilan anak-anak itu.
"Itu karna aku." Ucap seseorang dengan lantang yang baru saja memasuki kamar pasien.
Ranti sontak menatap ke arah nya dengan cepat, wanita berperawakan tubuh yang terbilang tinggi yaitu 167 cm itu tengah berdiri di hadapan Ranti dengan pakaian kantoran plus wajah kesal nya yang ia perlihatkan kepada Ranti. entah mengapa dan sebab nya Ranti juga tak mengerti mengapa wanita itu menatap tajam ke arah nya.
"Kalau kau sudah selesai melakukan tugas mu, segeralah keluar dari kamar ini.. membuatku penat saja melihat mu tetap disini." Ucap wanita itu gamblang yang mana membuat Ranti sontak mengerutkan kedua alis nya menatap bingung ke arah wanita itu.
"Siapa kau, dan apa hubungan mu dengan anak ini ?" Tanya Ranti ramah merasa tak nyaman jika ia harus meninggalkan anak sekecil Raden sendirian bersama dengan seorang wanita yang bertutur kata pedas itu.
Wanita itu sontak tersenyum mengejek ke arah Ranti dan berucap "Untuk apa aku memberitahu mu, Suster? tugas mu hanya merawat dan mengecek keadaan pasien saja tidak lebih dari itu." Jawab wanita itu cepat dengan nada tak suka nya ia berbicara kepada Ranti.
"Tugas ku memang hanya merawat pasien tapi, aku punya hak untuk menanyakan siapa anda? karna melindungi pasien dari orang yang tak di kenal itu juga termasuk dalam tugas ku." Ucap Ranti cepat penuh dengan kejujuran dan rasa sayang yang tinggi terhadap pasien anak kecil yang bernama Raden walau Ranti sendiri baru mengenal nya beberapa saat saja.
Wanita itu sontak memijit pangkal hidung nya dengan cepat dan berucap "Aku adalah Ibu nya." Ucap wanita itu cepat dan segera mendudukan dirinya disofa yang memang saat ini berada dekat dengan nya.
"Benarkah itu, Raden?" Tanya Ranti pelan busaha mencari kebenaran akan ucapan wanita yang baru saja mengaku sebagai ibu nya itu, Ranti pun menatap ke arah Raden dengan cepat.
Sontak saja wanita yang sedang duduk di sofa itu segera berdiri dan menarik Ranti agar menjauh dari pasien anak kecil yang bernama Raden itu. ia pun berucap "Apa kau ingin merendahkan nya? karna dia memiliki keterbatasan dalam melihat, hah." Ucap wanita itu cepat dan menatap marah ke arah Ranti.
"Tidak.. tidak, kau salah mengira." Ucap Ranti cepat berusaha menjelaskan maksud nya mengapa ia menanyakan hal itu pada Raden pasien kecil yang kini sedang terdiam mendengarkan perdebatan itu.
"Sudah cukup! jangan berusaha bersimpati kepada putra ku, Suster.. anak ku akan baik-baik saja, silahkan keluar dari kamar ini." Ucap wanita itu cepat dan menujukan jari nya ke arah pintu berisyarat bahwa Rantu harus segera keluar dari ruangan rawat inap itu.
Ranti menundukan pandangan ia tidak mengira bahwa sikap nya yang ingin memastikan Raden pasien kecil itu agar aman dari orang luar malam menjadi bumerang kepada nya. Ranti ternyata telah salah sangka kepada sosok wanita yang bermulut pedas itu, kini Ranti mengetahui bahwa wanita itu benarlah ibu kandung dari Raden.
"Tunggu, Suster." Ucap Raden cepat yang mana sontak membuat Ranti menghentikan langkah nya untuk keluar dari ruangan itu.
"Raden!" Ucap wanita asing yang ternyata itu adalah ibu kandung nya Raden pun kini menatap bingung ke arah anak nya itu.
"Suster Ranti, baik Mama." Ucap anak kecil bernama Raden itu cepat dan tersenyum lebar menunjukan jejeran gigi putih nya yang kecil nan menggemaskan itu.
"Sayang, nak.. kau belum mengerti mengenai siapa yang baik dan jahat." Ucap wanita di samping Raden itu dengan cepat dan mengelus kedua pipi Raden dengan lembut dan terlihat sebuah ketulusan yang terpancarkan dari kedua mata nya yang terlihat oleh Ranti.
Raden sontak menggelengkan kepala nya dengan cepat dan berucap "Suter, Ranti baik sama Raden.. bahkan jika Mama tidak ada di samping Raden." Ucap Raden cepat dan tersenyum lebar bak ia sama sekali tak merasakan kesakitan apa pun.
Sontak saja wanita yang Raden panggil dengan sebutan Mama itu memeluk tubuh kecil Raden dengan penuh cinta ia pun menitihkan air mata nya. Ranti yang tak sanggup melihat kejadian itu pun akhirnya memutuskan untuk pergih dari sana namun langkah Ranti sontak terhenti kembali oleh ucapan seseorang.
"Nama mu, Suster Ranti bukan? maafkan ucapan dan tindakan buruk ku tadi." Ucap seorang wanita dengan cepat yang kini sekarang Ranti sudah mengetahui siapa dia sebenar nya.
"Iya, tidak masalah.. aku juga sudah kelewatan dan berperasangka buruk kepada Ibu tadi." Ucap Ranti cepat dan tersenyum ramah ke arah wanita itu.
"Nama ku Via, kau bisa memanggil ku dengan nama saja tidak usah memanggil ku Ibu karna aku akan terlihat terlalu tua." Ucap wanita itu cepat dan tersenyum kecil ke arah Ranti.
"Baiklah," Ucap Ranti cepat dan tersenyum ramah ke arah Via wanita yang tadi sempat ia curigai itu.
"Terimakasih, karna kau bersikap baik kepada putra ku tampa pamri atau pun mengingkan balasan, Suster Ranti." Ucap Wanita bernama Via itu cepat.
"Ini memang sudah tugas ku, dan kebetulan aku sangat dekat dengan anak kecil." Ucap Ranti cepat dan tersenyum tulus menatap ke arah Raden.
"Kau benar, maaf tadi aku sempat marah kepada mu karna beranggapan bahwa kau hanya ingin baik kepada putra ku jika hanya ada aku saja." Ucap Via cepat dan menitihkan air mata nya sendu.
"Tidak.. tidak, apa-apa itu bukan sepenuh nya salah mu." Ucap Ranti cepat merasa sedih saat mendengar cerita dari Via mengenani Raden si pasien kecil keterbatasan itu.
Disisi lain, seseorang tengah terduduk angkuh di kursi kebesaran nya itu. ia memutar-mutarkan pulpen nya dengan pelan dan suara ketukan pintu pun menggema di telinga nya, ia dengan cepat menyuruh masuk seseorang yang sangat ia tunggu-tunggu kedatangan nya itu.
"Tuan, ada kabar terbaru.. saham lawan seketika anjlok saat Tuan memulai serangan awal ini, tersiar kabar bahwa mereka akan bangkrut dalam kurun waktu dua hari." Ucap salah seorang wanita yang berpakaian minim itu cepat.
"Benarkah? hah.. aku bahkan belum memulai semua nya namun hanya dengan satu serangan saja mereka sudah berantakan, mudah sekali." Ucap pria itu cepat dan kini ia tersenyum penuh misteri.