"Apa maksud mu, dan dimana tatakrama mu? masuk ke ruangan seseorang secara tak di undang dan memaki-maki orang tersebut tampa penjelasan." Ucap pria berjas coklat itu dengan cepat dan menatap marah ke arah Ranti.
"Haruskah aku menjelaskan nya lagi padamu? bukankah kau orang yang paling tau tentang hal ini." Ucap Ranti cepat dan menatap lekat pria berjas coklat itu.
"Ranti." Panggil seseorang dengan cepat yang mana membuat Ranti sontak menatap ke arah orang itu.
"Ini tidak seperti yang kau bayangkan, Ranti." Ucap dokter wanita itu cepat dengan wajah panik nya yang terlihat jelas di kedua mata Ranti.
"Apa maksud mu, Dokter?" Tanya Ranti cepat dengan wajah bingung nya menatap lekat ke arah dokter wanita yang saat ini sedang panik itu.
Sontak saja terdengar suara kekehan kecil yang keluar dari mulut sosok pria berjas coklat itu ia pun berucap dengan cepat "Haha, cepat jelaskan kepada wanita bodoh itu.. agar ia tak meledak-meledak seperti tadi padaku." Ucap pria berjas coklat itu cepat dan tersenyum mengejek ke arah Ranti.
"Kenapa kau tertawa? disini tidak ada hal yang lucu untuk kau tertawakan, Pak." Ucap Ranti cepat dengan wajah kesal nya menatap ke arah sosok pria berjas coklat itu.
"Kau lah yang sangat lucu disini, wajah marah mu itu sangat lucu dan menarik untuk ku lihat." Ucap Pria berjas coklat itu cepat dan tersenyum miring ke arah Ranti.
"Cepat jelaskan kepada nya, Dokter.. kalau tidak cepat-cepat kau memberitahu nya maka nanti aku akan di makan oleh nya." Ucap pria berjas coklat itu cepat masih dengan senyuman mengejek nya ia perlihatkan ke arah Ranti.
Ranti sontak memutarkan kedua bola mata nya jengah akan sikap menyebalkan pria yang ada di hadapan nya itu, bagaimana bisa dunia ini begitu kecil sehingga ia dapat bertemu kembali dengan nya lagi.
"Ranti, aku tidak jadi di keluarkan.. aku masih di berikan kesempatan untuk berkerja di sini." Ucap dokter wanita itu dengan cepat dan menatap ke arah Ranti lekat ingin membuat Ranti percaya akan ucapan nya.
"Apa.. apa maksud mu, Dokter?" Tanya Ranti lirih dan menatap ke arah wanita seumuran nya itu dengan pandangan tak mengerti nya.
"Kau sudah dengar itu? ahh, siapa nama mu tadi.. Ranti? jadi sebaik kau meminta maaf kepada ku dengan segera atas prilaku buruk mu tadi yang memarahi ku tampa sebab yang jelas." Ucap sosok pria berjas coklat itu cepat dengan senyuman menejek nya ia perlihatkan kepada Ranti.
Ranti sontak menundukan pandangan nya ia merasa bersalah akan sosok pria yang ada di hadapannya itu, amarah dan rasa kesal yang pernah ia rasakan dulu terhadap pria itu kini telah menguasai ucapan dan dirinya "Maaf, aku minta maaf karna telah beburuk sangka kepada mu." Ucap Ranti cepat dan menatap sendu pria di hadapan nya itu.
"Apa? apa yang kau ucapkan, aku tak bisa mendengar nya." Ucap sosok pria berjas coklat itu cepat dan mengangkat kedua bahu nya acuh terhadap Ranti, Ranti yang saat ini merasa bersalah dan ingin menangis itu.
Ranti adalah sosok wanita yang tegar namun di sisi lain ia adalah sosok wanita yang bisa rapuh kapan pun. "Aku sudah meminta maaf padamu, Pak.. jika kau tak bisa mendengar nya maka periksakan telinga mu." Ucap Ranti cepat dan membuang muka nya ke sisi lain tak mau menatap sosok pria di hadapan nya itu.
“Hah, itu baru dirimu Ranti.” Gumam sosok pria berpakaian jas coklat itu lirih dan segera bangkit dari tempat duduk nya meninggalkan Ranti dan dokter wanita itu segera tampa sepatah kata pun.
Ranti sontak memutarkan tubuh nya dengan cepat melihat ke arah kepergihan sosok pria yang sangat Ranti hindari sejak dulu, ia pun berucap “Dia pergih begitu saja, apakah ia tak mengingat kejadian dulu?” Gumam Ranti lirih dan menatap dalam punggung sosok pria berjas itu.
“Ranti, kau tidak apa-apa? Kenapa terbengong seperti itu.” Ucap dokter wanita di samping Ranti itu dengan wajah khwatirnya menatap ke arah Ranti.
“Ahh, tidak.. tidak.. Ranti baik-baik saja, Dokter.” Ucap Ranti cepat dan segera menapik jauh-jauh pikiran nya yang masih penasaran akan sikap yang telah berubah pria berjas coklat itu.
“Syukurlah jika kamu baik-baik saja Ranti, terimakasih sudah mau membela ku Ranti.. kau benar-benar wanita pemberani yang pernah ku temui.” Ucap dokter wanita itu cepat dan tersenyum ramah ke arah Ranti.
“Sama-sama, Dokter.. kita hidup memang utuk saling membantu bukan.” Ucap Ranti cepat dan tersenyum lebar ke arah sosok wanita yang berwajah cantik itu.
“Ayo, kita lanjutkan bicara nya di luar saja.. ruangan ini benar-benar lebih menakutkan dari pada kamar jenazah.” Ucap dokter wanita itu cepat dengan wajah takut nya segera menuntun Ranti bergegas ke luar ruangan itu.
Semilir hembusan angin menerpa wajah Ranti, kini ia dan seorang dokter wanita sedang duduk di bangku taman. “Lebih tenang disini bukan?” Tanya seorang wanita berpakaian kemeja putih berpadu dengan celana kerja panjang berwarna hitam itu berucap kepada Ranti.
“Iya, tamam nya sangat indah.” Ucap Ranti cepat dan tersenyum lebar ke arah sosok wanita yang sedang duduk di samping nya itu.
“Nama ku, Rita.. jika sedang bersama ku, kau bisa memanggil ku dengan nama ku saja tidak dengan embel-embel Dokter.” Ucap wanita bernama Rita itu dengan cepat yang mana membuat Ranti sontak menatap ke arah nya.
“Bagaimana bisa Dokter Ranti memanggil nama Dokter dengan begitu saja.” Ucap Ranti cepat merasa segan jika ia memanggil nama pada dokter wanita yang saat ini sedang duduk di samping nya itu.
“Tentu saja bisa Ranti, bukan kah kita teman?” Tanya wanita bernama Rita itu cepat dengan wajah ramah nya tersenyum lebar ke arah Ranti.
“Teman?” Lirih Ranti kecil dan menatap ke arah Rita dengan lekat.
“Kau tidak mau menjadi teman ku?” Tanya Rita kembali dengan wajah sendu nya ia perlihatkan kepada Ranti.
Ranti sontak menggelengkan kepala nya dengan cepat dan berucap “Tidak.. tidak.. Ranti, mau kok hanya saja Ranti masih tak percaya jika Dokter Rita ingin menjadi teman Ranti.” Ucap Ranti pelan dan tersenyum kuda merasa malu akan ucapan nya sendiri.
“Bagus kalau begitu, mulai dari sekarang kita adalah teman yaa.. kita akan tetap menjadi teman bahkan sampai salah satu dari kita ada yang mengkhiyanati sekali pun.” Ucap wanita bernama Rita itu dengan cepat dan tersenyum lebar ke arah Ranti sambil mengangkat satu kelingking nya di hadapan Ranti.
“Janji?” Ucap Rita kembali dan mengarakan kelingking nya kepada kelingking Ranti sehingga membuat simbol ikatan perjanjian, mereka berdua pun sontak tertawa bersama-sama.
“Janji.” Ucap Ranti cepat dan tersenyum lebar kepada Rita.
Disisi lain, seorang pria tengah menghela napas nya panjang meratapi seseorang wanita yang saat ini tertidur koma di atas kasur. Ia tersenyum kecil sambil menyentuh lembut pipi kanan wanita yang sedang tertidur itu dengan penuh cinta.
“Kau sudah cukup lama tertidur, sayang.. mau sampai kapan kau membuat ku terus menunggu seperti ini?” Ucap pria itu cepat dan menitihkan air mata nya sedih memandang wanita yang sedang tertidur koma itu.
“Tuan, rapat anda akan berakhir dalam 30 menit lagi.. apakah anda akan kembali ke perusahaan atau tidak? Saya akan memberitahukan informasi nya pada seketaris, Tuan.” Ucap salah seirang pria yang kini berdiri tegap di belakang seseorang yang di panggil dengan sebutan Tuan itu.
“Tidak.. tidak perlu, aku akan menghadiri nya! Erik Fantony tidak akan pernah kalah oleh orang seburuk dia.” Ucap pria yang sedang memandangi wanita yang tertidur koma itu berucap dengan cepat.
“Baik, Tuan Erik.” Ucap pria yang sedang berdiri tegap itu dengan cepat.
“Yogi, ayo kita berangkat.. aku akan menujukan kepada mereka semua siapa yang berkuasa sebenarnya.” Ucap Erik tegas dan tersenyum miring sebelum mengecup kening sang wanita yang sedang tertidur koma itu.
Pria tegap yang bernama Yogi itu sontak memejam kan kedua mata nya dan membalikan badan nya dengan cepat saat ia melihat Tuan nya sedang mencium kening wanita yang sedang tertidur koma itu.
“Kenapa kau membalikan badan mu? Bukankah usia mu sudah cukup untuk melihat situasi tadi.” Ucap Erik cepat dan tertawa kecil saat melihat Yogi asisten nya yang membalikan badan saat ia mencium kening wanita pujaan nya itu.
“Tidak.. tidak.. apa-apa.” Ucap Yogi cepat dan segera menundukan pandangan nya dengan cepat.
“Kau ini aneh, yasudah kalau begitu ayo kita berangkat.” Ucap Erik cepat dan segera melangkah ke luar ruangan vvip.
Yogi menatap sekilas ke arah wanita yang sedang tertidur koma itu, ia pun menghela napas nya berat sebelum melangkah ke luar mengikuti langkah Tuan nya yang bernama Erik itu.
Kini sebuah mobil BMW tengah melaju keluar dari pakiran mobil bawah tanah menuju ke pintu keluar rumah sakit, Erik masih tenggelam akan pikiraan nya sendiri bahkan saat Yogi menanyakan berbagai pertanyaan mengenai rapat Erik tak menjawab sama sekali.
“Tuan, apakah anda baik-baik saja?” Tanya Yogi cepat sambil mengemudikan mobil BMW yang kini ia tumpangi bersama dengan Tuan nya itu.
“Apa.. apa yang kau ucapkan tadi?” Tanya Erik cepat saat kesadaran nya mulai kembali dan menatap ke arah Yogi dengan penuh tanda tanya.
Yogi terdiam sesaat ternyata benar, Tuan nya sedari tadi tak mendengarkan pertanyaan yang telah ia ajukan “Tuan, apakah Tuan masih memikirkan keadaan Nona Anatasya?” Tanya Yogi cepat berusaha mengumpulkan keberanian dirinya menanyakan hal yang sensitif kepada Tuan nya itu.
Erik sontak terserentak kaget, pertanyaan Yogi asisten nya benar-benar membuat nya bingung. Pasal nya bukan Anatasya yang ia pikirkan melainkan wanita lain yang kini swdang bersarang di pikiran Erik. Ranti, nama itu selalu menggema di telinga Erik dan wajah Ranti entah mengapa selalu membuat Erik terus mengingat nya tampa sadar. Bagaimana bisa, sosok wanita pemarah dan aneh itu terus mengusik pikiran nya padahal mereka baru saja bertemu bahkan belum beberapa jam atau pun hari.
“Tuan? Tuan, saya yakin Nona Anatasya akan baik-baik saja dan insyaallah akan segera sadar.” Ucap Yogi cepat dan menatap serius ke arah depan sambil mengemudikan mobil.
“Agh..” Gumam Erik cepat dan memukul-mukul pelan kepala nya agar Ranti segera keluar dari dalam pikiran nya itu.
Yogi sontak menghentikan laju mobil nya dengan cepat sehingga Erik dan Yogi hampir saja terpentuk badan mobil. Erik sontak menatap tajam ke arah Yogi ia pun berucap “Apa yang kau lakukan Yogi, kau ingin kita berdua celaka di sini?” Tanya Erik cepat dan menatap panik ke arah Yogi.
"Maaf, Tuan.. anda tadi berteriak dan saya refleks menginjak rem nya." Ucap Yogi cepat dan menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.
"Apa? Ihss.. wanita pemarah itu! entah dia ada atau tidak kenapa dia selalu membuat ku kesal saja." Gumam Erik cepat dan memejamkan kedua mata nya menahal rasa kesal akan sosok Ranti yang tak mau hilang dari pikiran nya itu.
"Ini adalah nasib sial ku, nasib sial ku selalu kambuh saat aku melihat atau pun bersama dengan nya." Ucap Erik kesal dan menatap tajam ke arah depan.
Tinn.. tinn.. bunyi suara klakson mobil terdengar nyaring di telinga Erik dan Yogi, dengan segera Yogi menjalankan kembali mobil nya dengan cepat dan sesekali memandang wajah Tuan nya yang saat ini terlihat sedang kesal itu.
"Ini bukan salah mu, Yogi." Ucap Erik cepat saat ia sudah merasa risih akan sikap Yogi yang terus sering kali mematapi wajah nya itu.
"Tuan, tau jika saya sedang melihat ke arah Tuan?" Tanya Yogi cepat merasa kikuk akan ucapan Tuan nya itu.
"Yaa, ini adalah salah wanita pemarah itu.. harus bagaiman mengeluarkan nya dari pikiran ku ini." Ucap Erik kesal dan mengacak-acak rambut nya frustasi akan pikiran nya yang selalu saja terbayang-bayang wajah marah Ranti yang entah kenapa membuat Erik merasakan rasa sakit di hati nya itu.
"Wanita pemarah? Maksud Tuan?" Tanya Yogi cepat merasa bingung akan ucapan Tuan nya itu dan entah mengapa Yogi juga merasakan aura dingin yang terpancarkan dari Erik yang tengah terduduk di kursi samping nya itu.
"Siapa lagi, jika bukan Suster aneh itu." Ucap Erik gamblang yang mana membuat Yogi langsung mengaggukan kepala nya tanda mengerti akan maksud Tuan nya itu.
Erik sontak menutup mulut nya dengan cepat dan menatap horor ke arah Yogi, ia pun berucap "Tutup mulut mu, oke? Kalau tidak.. aku akan memotong gaji mu sampai dua bulan kedepan." Ucap Erik cepat dengan nada mengancam ke arah Yogi, ia merasa malu saat keceplosan berbicara mengenai Ranti yang terus berada di pikiran nya itu.
"Baik, Tuan Erik.. saya pandai menjaga rahasia." Ucap Yogi cepat dan tertawa kecil tak kala melihat wajah Erik Tuan nya itu yang kini sedang menahan malu.
“Bagus kalau begitu, awas saja sampai hal inj bocor! Maka tamatlah riwayat mu, Yogi.” Ucap Erik cepat dan menghembuskan napas nya kasar lalu menatap ke luat jendela kaca mobil sambil merenungi kebodohan nya tadi.
“Yogi.” Panggil Erik cepat dengan nada tegas masih menatap ke luar kaca jendela yang memperlihatkan jalanan ibu kota yang kini sepi itu.
“Iya, Tuan.” Ucap Yogi cepat dan sesekali menatap ke arah Erik.
“Cari tau semua informasi mengenai wanita pemarah itu! Semua hal harus ada di meja kerja ku besok pagi.” Ucap Erik cepat dan tegas sebelum ia memejamkan kedua mata nya yang lelah akan hari panjang yang akan ia lalu ini.
“Baik, Tuan.” Ucap Yogi cepat dan segera melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang.