Terdengar samar-samar suara monitor Elektrokardiograf berbunyi dengan teratur menandakan keadaan pasien mulai membaik seperti sedia kala, sang dokter wanita itu pun menghela napas nya lega begitu pula dengan Ranti. Dokter wanita itu pun menatap ke arah Ranti dengan cepat dan berucap "Terimakasih karna kau sudah mau membantu ku, suster." Ucap sang dokter wanita itu cepat dan tersenyum ramah ke arah Ranti.
"Sama-sama Dokter, itu sudah tugas ku membantu dokter untuk merawat pasien." Ucap Ranti cepat dan membalas senyuman sang dokter wanita itu dengan tulus.
"Ahh.. jika saja mereka di luaran sana jaga sama cara berpikirnya dengan mu maka rumah sakit ini pasti akan lebih berjaya." Ucap sang dokter wanita itu cepat dan menatap sendu para suster yang ketakuan sedang berdiri di luar rungan vvip itu.
Ranti dan sang dokter wanita itu segera melangkah keluar ruangan setelah memeriksa kembali kondisi pasien yang baru saja mengalami kejang-kejang itu. Sang dokter wanita itu segera terduduk lemas di kursi tunggu yang berada di depan rungan vvip itu.
"Seharus nya kau tak masuk ke dalam ruangan ini Ranti, nanti kau dan aku pasti akan dapat masalah." Ucap sang dokter wanita itu kembali dengan wajah sendu nya menatap ke arah Ranti.
"Tidak apa-apa Dokter, Ranti tidak masalah jika harus di keluarkan oleh rumah sakit ini.. yang ada di pikiran Ranti saat ini adalah menyelamatkan pasien itu sangat penting." Ucap Ranti cepat dan tersenyum kecil ke arah sang dokter wanita yang sepantaran dengan dirinya itu.
"Kamu masih baru disini?" Tanya sang dokter wanita itu kembali dan menatap serius ke arah Ranti.
Ranti sontak menganggukan kepala nya dengan cepat dan berucap "Iya, baru hari ini Ranti masuk berkerja." Ucap Ranti cepat dan tersenyum lebar seolah-olah tak terjadi apa pun.
Sang dokter wanita itu sontak terdiam dan tersenyum kecil ia pun berucap "Aku juga, baru seminggu aku berkerja disini namun takdir akan segera menghentikan langkah ku untuk menjadi dokter yang sukses di rumah sakit ini." Ucap Sang dokter wanita itu cepat tersenyum getir akan nasib nya yang akan datang nanti.
"Jangan menyalahkan takdir, Dokter.. yang salah disini adalah orang yang selalu berbuat seenak nya hanya karna ia mempunyai uang!" Ucap Ranti cepat terlihat sekali di wajah nya ia sedang menahan amarah yang bergejolak.
"Nama mu Ranti bukan? dan ini adalah hari pertama mu berkerja di sini, jadi kau tidak tau seperti apa pemilik rumah sakit ini." Ucap Dokter wanita itu cepat dengan wajah sendu nya menatap ke arah Ranti.
Ranti sontak menggelengkan kepala nya dengan cepat dan berucap "Aku memang tidak mengetahui siapa pemilik rumah sakit ini, tapi dia pasti benar-benar sombong dan tidak waras! bagaimana bisa dia memecat dokter dan suster begitu saja karna di anggap lalai tampa tau duduk permasalahan nya? Ranti, benar-benar tak habis pikir.. dimana hati dan perasaan nya? sampai-sampai ia berbuat seenak nya tampa memikirkan orang lain di dunia ini." Ucap Ranti cepat meluapkan segala kemarahan nya.
"Itulah takdir Ranti, yang kaya dan yang mempunyai uang akan selalu berkuasa di dunia ini.. dan yang tak mempunyai uang akan selama nya tertindas! selama sebulan aku berkerja disini aku sudah sering menyaksikan banyak dari teman-teman ku yang harus kehilangan perkerjaan nya bahkan merelakan mimpi nya hanya karna di anggap lalai dalam menjaga pasien yang sedang koma di dalam ruangan itu." Ucap dokter wanita itu cepat dan menitihkan air mata nya saat mengingat kembali hari-hari yang lalu saat kedua teman dan rekan kerja nya yang harus di keluarkan dengan sepihak oleh rumah sakit.
"Kau mungkin sudah tau bukan? bahwa jika seorang dokter atau suster keluar dari rumah sakit ini maka ia tidak akan bisa berkerja di rumah sakit mana pun!" Ucap dokter wanita itu kembali ia tetap berusaha mengatur napas nya di sela-sela tangisan nya itu.
Ranti terdiam sesaat dan menatap kosong ke arah pintu ruangan vvip yang kini sedang terbaring seseorang yang kesadaran nya sangat penting bahkan sangat di tunggu-tunggu agar ketidak adilan tidak akan terjadi bahkan mungkin tidak akan terulang.
Sebuah mobil BMW kini tengah berhenti di sebuah bangunan rumah sakit terbesar di tengah-tengah kota, seorang pria berjas coklat yang mempesona pun mengijakan kaki nya ke lantai rumah sakit dengan pandangan kilat amarah nya yang tak bisa ia tutupi itu. setiap orang yang berlalu lalang di dekat nya akan berhenti dan mengbungkukan badan nya dengan hormat pada pria berjas coklat itu, kharisma serta aura dingin nya dapat membekukan setiap pegawai rumah sakit yang berpapasan dengan langkah nya.
"Bawa dokter tidak becus itu ke ruangan ku." Ucap pria berjas coklat itu cepat tampa basa-basi ia segera menaiki lift menuju lantai teratas di gedung bertingkat 20 lantai itu.
Pria yang sudah berada di belakang nya pun menganggukan kepala nya tanda setuju dan membungkukan badan nya sebelum ia pergih menjalani tugas yang sudah di perintahkan oleh atasan nya itu.
"Apa kau dokter yang bertugas merawat pasien hijau minggu ini?" Tanya seorang pria berjas hitam itu dengan cepat menatap ke arah dokter wanita yang saat itu sedang duduk bersama dengan Ranti di kursi tunggu.
Dokter wanita yang berada di samping Ranti pun sontak menganggukan kepala nya dengan cepat dan berucap "Iya, saya dokter yang bertanggung jawab untuk pasien ruangan VVIP hijau." Ucap sang dokter wanita itu cepat dan tegas seolah-olah ingin menanggung semua beban sendirian.
"Ikuti aku, kau harus memberikan pernyataan mu atas insiden yang baru saja terjadi." Ucap seorang pria berjas hitam itu cepat dengan tegas.
"Baik." Ucap sang dokter wanita itu cepat dan segera ingin melangkah kan kaki nya pergih namun suara Ranti menghentikan langkah nya.
"Aku juga bertanggung jawab atas kejadian yang baru saja terjadi." Ucap Ranti gamblang yang mana membuat dokter wanita serta pria berjas hitam itu berbarengan melihat ke arah Ranti.
"Ranti." Lirih dokter wanita itu cepat dengan kedua mata yang membulat sempurna.
"Kau perawat di rumah sakit ini bukan? kesaksian mu juga di perlukan, ikuti aku." Ucap seorang pria berjas coklat itu cepat setelah melihat keseluruh tubuh Ranti dari ujung rambut hingga kaki nya yang saat ini sedang mengenakan seragam perawat itu.
"Tidak! dia tidak bersalah.. kesaksian ku saja sudah lebih dari cukup." Ucap dokter wanita itu cepat dan menatap marah ke arah Ranti atas ucapan gamblang nya yang tak berpikir panjang mengenai hal yang akan terjadi ke depan nya.
"Ranti, juga ikut dalam ambil adil atas kejadian yang baru saja terjadi, dokter.. tolong jangan menanggung beban ini seorang diri." Ucap Ranti cepat berusahan menampilkan senyuman kecil nya kepada dokter wanita yang sedang sedih itu.
"Cukup, tidak ada di antara kalian yang dapat memutuskan siapa yang bersalah dan tidak! ikut dengan ku sebelum aku membawa paksa kalian berdua." Ucap pria berjas hitam itu tegas dengan nada mengancam nya menatap ke arah Ranti juga dokter wanita di sebelah Ranti dengan tajam.
Ranti dan dokter wanita itu sontak terdiam serentak setelah mendengarkan ucapan pria berjas hitam itu mereka pun dengan terpaksa mengikuti printah pria berjas hitam itu.
"Kalian jalan duluan menuju ke lift." Ucap pria berjas hitam itu cepat yang mana membuat Ranti dan dokter wanita itu segera melangkah maju menuju lift. Pria berjas hitam itu melirik sekilas ke arah rungan vvip sebelum ia melangkah ke arah lift bersama Ranti dan seorang dokter wanita.
Langkah kaki Ranti sontak terhenti tak kala mencium wangi khas yang sangat ia kenal dan hindari itu, kedua mata Ranti sontak membulat sempurna saat melihat sosok pria yang sedang terduduk angkuh di hadapan nya itu.
"Ranti, kau bisa mundur sekarang.. aku tak mau kau kehilangan mimpi mu hanya karna diriku." Ucap dokter wanita itu lirih dan menatap ke arah Ranti dengan pandangan tak enak nya itu.
"Ranti, tidak akan lagi mundur oleh orang yang tak memiliki perasaan seperti nya." Ucap Ranti cepat mengepalkan kedua tangan nya menahan amarah yang saat ini berejolak di hati nya.
Suara kekehan tawa kecil kian menghiasi ruangan mewah bercat putih itu dengan, pria berjas coklat itu menatap sinis ke arah Ranti dan sebuah senyuman miring tercetak di wajah pria dingin itu.
"Bagaimana bisa, seorang pembuat kue malah beralih profesi menjadi seorang perawat?" Sindir pria berjas coklat itu ketus dan menatap tajam ke arah Ranti.
"Setidak nya aku adalah orang yang mempunyai bakat dan otak yang cerdas sehingga bisa sampai ke titik ini, tidak seperti mu.. yang hanya bisa duduk dengan angkuh dan menindas orang yang lemah." Ucap Ranti cepat dengan gamblang nya Ranti menjawab sindiran pria berjas coklat itu.
"Kau selalu saja memiliki kata untuk terus melawan ucapan ku, dan bakat itulah yang kurasa sangat mampu kau lakukan." Ucap pria berjas coklat itu cepat dengan wajah mengejek nya ia tampilkan ke arah Ranti.
"Kau.." Ucapan Ranti terhenti tak kala pria berjas coklat itu menyela ucapan nya.
"Bawa wanita berisik itu keluar dari rungan ini, Yogi.. aku hanya akan merasa pusing jika terus berhadapan dengan nya! lagi pula aku hanya membutuhkan seseorang yang paling bertanggung jawab atas hal yang baru saja terjadi." Ucap pria
"Apa? tidak, tidak.." Pekik Ranti cepat saat salah satu lengan tangan nya uang terus di tarik paksa untuk ia ikut melangkah ke luar ruangan.
"Aku tidak tau bagaimana bisa dokter seperti mu melakukan kecerobohan saat menjaga pasien ruangan hijau! berikan kesaksian mu dengan sebaik-baik nya, mungkin aku akan memaafkan kesalahan mu ini." Ucap pria berjas coklat itu cepat dengan wajah datar nya menatap ke arah seorang wanita berseragam putih yang kini sedang berdiri dengan bergemetaran hebat itu.
Di luar ruangan Ranti selalu mondar mandi berusaha memasuki rungan besar yang ada di hadapan nya namun ia tetap tidak bisa karna ada seorang pria yang terus memperhatikan setiap gerak-gerik nya itu.
"Apa kau orang yang waktu itu, pembuat kue?" Ucap pria berjas hitam yang saat ini Ranti sudah di ketahui nama nya adalah Yogi.
"Kalau iya memang nya kenapa?" Balas Ranti ketus dan menatap marah ke arah sosok pria bernama Yogi itu.
"Kue buatan mu sangat enak." Ucap pria bernama Yogi itu gamblang yang mana membuat Ranti sontak menatap ke arah nya.
"Asisten dan Bos sama saja! dasar ia juga ingin meledek ku, apa salah jika aku mengembangkan hobi ku." Ucap Ranti cepat dan menghela napas nya pajang sambil memegangi kening nya yang terus berkedut.
"Ternyata memang benar, kau sangat berisik." Ucap Yogi cepat, singkat, padat dan jelas yang mana membuat Ranti sontak membulatkan kedua mata nya lebar-lebar menatap ke arah Yogi yang berwajah datar itu.
"Untuk apa aku berbicara pada orang seperti mu, kau sama saja dengan pria angkuh itu yang saat ini berada di dalam sana.. tidak memikirkan perasaan orang lain! dan hanya bertindak sesuka hati nya sendiri." Ucap Ranti cepat dan menatap kesal kearah pria bernama Yogi itu yang berwajah datar.
"Tolong jaga cara berbicara mu, suster.. yang kau olok-olok adalah atasan ku." Ucap Yogi tegas dan kini wajah yang datar itu berubah menjadi wajah yang mengintimindasi ke arah Ranti.
"Bagimana mungkin, kau sanggup berkerja pada orang angkuh sepertinya?" Tanya Ranti lirih dan menatap tak percaya akan pria bernama Yogi yang bahkan tahan akan sikap angkuh snag bos nya itu.
"Terkadang yang terlihat baik belum tentu baik, dan yang terlihat buruk belum tentu benar-benar buruk." Balas Yogi cepat, singkat dan jelas yang mana membuat Ranti sontak terdiam dan menundukan pandangan nya merenungi ucapan Yogi yang baru saja ia dengar itu.
Cklek.. suara pintu ruangan terbuka, Ranti pun segera menatap ke arah pintu yang kini terlihat seseorang wanita sedang keluar dari ruangan mewah itu.
"Dokter." Lirih Ranti cepat dan segera menghampiri seorang dokter wanita yang ia kenal itu.
"Dokter, tidak apa-apa? apakah dia bersikap seenak nya pada, Dokter?" Tanya Ranti cepat dengan wakah khwatir nya itu menatap ke arah dokter wanita yang kini telah terisak tangis dan wajah yang telah di banjiri oleh air mata yang terus merangkak keluar.
Hanya isakan tangis yang Ranti dengar dari sosok wanita yang saat ini sedang bersedih itu, Ranti sontak mengepalkan kedua tangan nya kesal dan segera melangkah masuk ke dalam ruangan yang amat ia tidak sukai itu. "Kau, benar-benar orang yang tidak berperasan.. bagimana bisa kau berbuat sesuka mu dengan alih-alih kau mempunyai banyak uang! kau pasti akan mendapatkan karma nya, dasar tuan angkuh." Ucap Ranti cepat dan menatap marah ke arah sosok pria berjas coklat yang amat ia kenal dan hindari sedari dulu.
"Apa maksud mu, dan dimana tatakrama mu? masuk ke ruangan seseorang secara tak di undang dan memaki-maki orang tersebut tampa penjelasan." Ucap pria berjas coklat itu dengan cepat dan menatap marah ke arah Ranti.