Ranti menatap pantulan dirinya di cermin, seragam Suster yang baru saja ia terima itu dan ia kenakan itu terlihat sangat pas dan bagus di tubuh nya. Ranti sontak tersenyum kecil dan segera keluar dari ruangan ganti itu dengan cepat.
"Seragam itu sangat cocok untuk mu, Ranti." Ucap Suster Nita cepat dan tersenyum ramah ke arah Ranti.
Ranti sontak tersipu malu dan berucap "Terimkasih, Suster Nita.. Ranti, memang sangat cocok mengenakan baju apa pun." Ucap Ranti bergurau dan tertawa kecil seketika yang mana membuat Suster Nita di hadapan nya itu pun ikut tertawa.
"Hari ini tidak terlalu banyak pasien darurat, jadi untuk hari ini kau bertugas mengantarkan obat-obatan untuk pasien dan mengatarkan makanan serta minuman.. apa kau bersedia, Ranti?" Ucap Suster Nita cepat selaku berjabatan Kepala Suster di Rumah Sakit Cahya Delapan itu.
"Tentu saja, Suster Nita.. Ranti, mau melakukan nya." Ucap Ranti cepat dan mengulas senyuman manis di bibir nya itu dengan cepat.
"Baiklah, ambil obat-obatan pasien di Apotik yang berada di ujung kanan sana.. di nampan itu pasti sudah tertera nama serta nomer ruangan berbagai pasien di Rumah Sakit ini." Ucap Suster Nita cepat.
"Baik, Suster Kepala." Ucap Ranti cepat dan segera berlalu dari hadapan Nita itu.
Ranti dengan hati-hati melangkah dan mengantarkan obat-obatan serta makanan minuman untuk para pasien di Rumah Sakit Cahya Delapan itu, dengan seulas senyuman ramah nya satu persatu kamar pasien Ranti datangi untuk meletakan obat dan makanan minuman itu. Langkah kaki Ranti kian berhenti melangkah tak kala mendengar gosip simpang siur mengenai ruangan VIP di lantai 12 yang menjadi primadona di Rumah Sakit Cahya Delapan itu, jantung Ranti kian berdetak kencang tak kala mendengar sudah 15 orang Suster yang di keluarkan dari Rumah Sakit karna di anggap lalai akan tugas merawat Pasien koma itu.
Ranti langsung menapik pikiran nya jauh-jauh dan segera berjalan kembali menuju lorong apotik untuk mengantarkan nampan yang sudah ia pinjam itu.
"Ranti, apa kau sudah selesai dengan tugas mu tadi?" Tanya Suster kepala Nita itu dengan cepat.
"Sudah, Suster Nita." Ucap Ranti cepat dan tersenyum kecil ke arah Nita Suster Kepala itu.
"Apa kau mau berjaga di kamar VIP?" Tanya Suster Nita kembali cepat dengan wajah pucat nya itu.
Ranti sontak terdiam sesaat dan ia pun berucap "Ruangan VIP? bukankan itu ruangan di lantai 12?" Ucap Ranti cepat dan segera menaruh nampan pengantar obat kosong itu di atas meja apoteker.
"Kau sudah tau? hah.. kurasa memang benar gosip lebih cepat beredar dari mulut ke mulut ketimbang mencari tau kebenaran nya terlebih dahulu." Ucap Suster kepala Nita itu cepat dan menghela napas nya berat.
"Memang nya kenapa para Suster lain nya tak mau menjaga ruangan VIP itu?" Tanya Ranti pelan dan menatap lekat ke arah Suster Nita itu.
Suster kepala Nita sontak menghela napas nya berat dan menatap intens ke arah Ranti sebelum ia mulai berucap "Ranti, Pasien yang di rawat disana dalam keadaan koma.. namun sewaktu-waktu ia sering kejang-kejang dan detak jantung nya tak menentu yang mana membuat para Dokter dan Suster Rumah Sakit itu takut untuk merawat nya! aku sudah sering kali menekankan kepada semua Suster Rumah Sakit ini agar menjaga Pasien itu lebih intensif lagi.. tapi, karna kejadian kemarin salah satu Suster di bagian timur kehilangan perkerjaan nya karna di anggap lalai tak menjaga Pasien itu." Ucap Suster Nita cepat dan menundukan kepala nya sendu.
"Jadi, kenapa aku yang di pilih untuk menjaga Pasien di Ruangan VIP itu?" Tanya Ranti cepat dan memandang lekat ke arah Suster Kepala yang bernama Nita itu dengan lekat.
"Maafkan aku, Ranti.. aku malah memilih mu untuk merawat Pasien itu padahal belum sehari kamu berkerja di Rumah Sakit ini." Ucap Suster Nita pelan dan menundukan kepala nya merasa bersalah.
"Benar! aku sangat mudah menjadi tameng untuk Suster Pengganti yang mungkin akan langsung di keluarkan jika membuat kesalahan di ruangan VIP itu bukan? hah.. aku terima! aku akan merawat Pasien itu dengan sangat hati-hati dalam menjaga nya, aku permisi terlebih dahulu.. Suster Kepala." Ucap Ranti cepat dan segera pergih berlalu dari hadapan Nita.
"Maafkan aku, Ranti." Gumam Suster Nita lirih dan menatap bersalah ke arah Ranti yang saat itu sedang berjalan menjahuinya itu.
"Bodoh! kenapa kau menangis Ranti.. sudahlah, kau pasti bisa menjalani semua nya." Ucap Ranti cepat dan segera berjalan entah kemana langkah kaki nya melangkah saat ini hati nya sedang merasa kecewa.
Disisi lain, Erik tengah berjalan dengan angkuh melewati setiap ruangan yang ada di perusahan nya itu! dengan wajah dingin dan tatapan tajam nya. Ia pun berucap "Siapa pun yang ingin memakan uang perusahaan harus tau akibat nya! kejadian hari ini adalah pelajaran untuk kalian semua, jika ada yang berniat untuk menyusul pak tua itu ke balik jeruji besi maka silahkan! tapi ingat satu hal ini, bukan hanya kalian yang menderita tapi keluarga bahkan sampai ke cucu kalian sekalipun akan ku buat menderita!" Ucap Erik cepat dan dengan kuat ia menggebrak meja salah satu karyawan yang saat ini wajah nya sudah pucat pasih itu.
"Mengerti?" Tanya Erik tagas dan menatap ke arah karyawan nya dengan intens.
"Mengerti, Bos!" Ucap para karyawan dengan cepat serentak dan terdengar patuh akan sosok pria tegas di hadapan mereka itu.
"Kembali berkerja! dan pastikan tidak ada kesahalan hari ini dan seminggu kedepan, kalau tidak.. maka kalian semua harus siap-siap angkat kaki dari perusahaan ku." Ucap Erik tegas dan menatap lekat ke segara arah penjuru ruangan tempat berkerja para karyawan nya itu.
"Aku tak begitu membutuhkan kalian, tapi kalian sangat membutuhkan ku! jadi fokus lah dalam berkerja jangan ada yang bergosip dan melupakan tugas kalian.. aku tidak mau menerima kesalahan sedikit pun sampai minggu depan." Ucap Erik kembali dengan lantang dan segera berlalu dari hadapan para karyawan nya.
"Baik, Bos." Jawab para karyawan itu dengan sigap dan segera membungkukan badan nya menghormati sosok Erik sang Bos yang dingin dan mengerikan itu.
Disisi lain Ranti tengah memeriksa infus para pasien yang menjadi tanggung jawab dari tugas nya yaitu menjadi seorang perawat di Rumah Sakit yang terkenal di kota nya ini, dengan hati-hati dan senyuman ramah nya Ranti mengitari ruangan rawat inap para pasien sambil memeriksa keadaan mereka semua.
"Tidak mau." Ucap seorang anak kecil perempuan yang terus saja menolak untuk meminum obat nya itu.
"Ayo sayang.. minum obat mu, Nak." Ucap seorang wanita yang berwajah hampir mirip dengan anak kecil itu.
Ranti sontak tersenyum kecil tak kala melihat dan mendengar rengekan anak kecil itu terus saja menolak untuk meminum obat nya, hati Ranti pun ikut tergerak dan ia segera melangkahkan kedua kaki nya menuju ke arah kasur pasien anak kecil perempuan itu.
"Hai.. siapa nama mu?" Tanya Ranti pelan dan menetap lembut sosok anak perempuan kecil berwajah imut itu.
"Nama ku, Rahel." Ucap anak perempuan itu cepat yang berumur sekitar 10 tahun.
"Rahel? nama yang lucu.. Rahel kenapa tidak mau meminum obat nya, hm?" Tanya Ranti pelan dan menatap lembut sosok gadis kecil yang kini sedang terbaring di kasur rumah sakit itu.
Gadis kecil itu sontak menggelengkan kepala nya dengan cepat dan berucap pelan "Rahel, ngga suka obat.. obat rasanya pahit." Jawab Rahel dengan cepat yang mana membuat Ranti sontak tersenyum kecil memandang gadis kecil nan lucu yang sedang di hadapan nya itu.
"Rahel, obat memang pahit tapi rasa pahit nya akan bertahan sebentar saja lalu menghilang.. tapi, jika Rahel tidak mau meminum obat maka Rahel akan terus sakit, Rahel pasti ngga mau sakitkan?" Ucap Ranti pelan berusaha membujuk gadis kecil yang berumur sekitaran 10 tahun itu.
Gadis kecil itu sontak terdiam dan menundukan pandangan nya ke bawah ingin menangis tak kala mendengar ucapan Ranti yang menyuruhnya meminum obat nya itu.
"Rahel, ngga suka minum obat suster." Ucap Rahel pelan dengan pandangan menunduk kebawah merasa takut menatap wajah Ranti.
Ranti sontak terdiam sesaat lalu sebuah senyuman kecil terbit di bibir pink nya itu, Ranti pun sudah mempunyai sebuah ide yang akan ia gunakan untuk membujuk gadis kecil yang imut dan tak suka meminum obat nya itu, ia pun berucap "Bagimana jika suster nyanyikan sebuah lagu untuk, Rahel? tapi Rahel harus meminum obat nanti." Ucap Ranti pelan menatap ke arah gadis kecil itu dengan ramah.
Rahel dengan cepat menggelengkan kepala nya tanda menolak ucapan Ranti gadis kecil itu pun berucap pelan "Rahel, ngga suka nyanyi suster.. Rahel, suka menggambar." Ucap Rahel cepat dengan wajah polos nya menatap dalam ke arah Ranti.
"Menggambar? bagaimana jika suster Ranti gambarkan pemandangan langit di malam hari untuk Rahel? tapi Rahel nanti akan meminum obat nya, oke?" Ucap Ranto cepat dan tersenyum ramah kepada Gadis kecil yang tak suka obat itu.
Gadis kecil itu sontak terdiam dan sebuah senyuman manis kian terbit di wajah cantik gadis kecil itu ia pun berucap "Iya, Rahel mau minum obatnya." Ucap Rahel girang dengan mengaggukan kepala nya dengan cepat tanda setuju akan ucapan Ranti.
Ranti pun ikut tersenyum lebar dan segera menggambarkan sesuatu di secarik kertas di atas papan periksa nya itu dengan cekatan, pola-pola kian lama mulai nampak akan garisan-garisan pensil yang Ranti sedang genggam itu. Tak membutuhkan waktu yang lama sebuah gambaran langit malam terlah Ranti selesaikan dengan sangat bagus dan cantik.
"Ini untuk mu, Rahel." Ucap Ranti lembut dan tersenyum ramah ke arah Rahel sambil memberikan secarik kertas yang sudah ia gambari dengan pemandangan langit malam itu kepada gadis kecil di hadapan nya itu.
Rahel dengan cepat segera mengambil secarik kertas itu dengan senyuman bahagia nya ia pun berucap "Terimakasih, suster." Ucap Rahel cepat dan tersenyum lebar sehingga jejeran gigi kecil nya itu terlihat.
"Sama-sama, Rahel cantik." Ucap Ranti cepat dan tersenyum ramah ke arah Rahel.
"Rahel, Rahel akan meminum obatnya kan?" Tanya Ranti kembali dan menatap dalam ke arah Rahel.
Rahel sontak mengaggukan kepala nya dengan cepat dan berucap "Ibu, Rahel mau minum obat nya sekarang." Ucap Gadis kecil itu cepat menatap ke arah ibu nya dengan pandangan bahagia nya itu.
"Ahh, baiklah.. sini buka mulut mu yang lebar Rahel." Ucap seorang wanita berumur itu cepat dan tersenyum lebar setelah anak nya itu meminum obat yang sudah ia suapi.
"Sudah, suster Ranti.. Rahel udah minum obat." Ucap Rahel cepat dan tersenyum lebar ke arah Ranti.
Ranti sontak menganggukan kepala nya dengan cepat dan berucap "Iya, Rahel hebat! sudah mau meminum obat biar Rahel cepat sembuh." Ucap Ranti pelan dan mencubit gemas hidung mancung Rahel yang masih berukuran kecil itu.
"Suster Ranti, boleh ngga kalo Rahel nanti minta gambarin lagi." Ucap Rahel si gadis kecil itu dengan cepat memandang wajah Ranti dengan pandangan memohon nya itu.
"Boleh saja, Rahel.. tapi jika suster Ranti ada waktu luang ya." Ucap Ranti pelan dan mengusap lembut kepala si gadis kecil itu.
Rahel segera menganggukan kepala nya dengan cepat dan berucap "Oke, Suster Ranti." Ucap Rahel dengan cepat dan tersenyum manis ke arah Ranti.
Tap.. tap.. tap.. terdengar suara riuh yang membuat Ranti segera keluar ruangan dan memeriksa apa yang sedang terjadi di tempat nya berkerja itu.
"Tunggu, apa yang sedang terjadi? mengapa kau terlihat khwatir sekali." Tanya Ranti cepat saat melihat salah seorang suster teman yang itu berlarian di korodor rumah sakit.
"Ada masalah Ranti, kondisi pasien di ruangan VVIP itu mengalami kejang-kejang kembali." Ucap salah seorsg suster lain dengan cepat terlihat jelas di wajah nya ia sangat panik dan takut.
"Ruangan yang waktu itu Ranti dengar? lalu bukankah suster kepala Nita meminta Ranti yang menjaga Ruangan itu tadi." Gumam Ranti pelan dan menatap serius para suster maupun dokter yang berlarian menuju ke ruangan vvip itu.
Tap.. tap.. tap.. langkah kaki Ranti terhendi di depan pintu kamar ruangan vvip, ia melihat wajah para suster yang enggan masuk ke dalam ruangan. Ranti pun tak habis pikir setelah melihat begitu banyak suster yang hanya berjaga di luar ruangan itu, dengan langkah yang cepat Ranti segera memasuki ruangan itu dengan berani dan segera membantu seorang dokter wanita yang sedang kewalahan menangani kondisi sang pasien yang sedang kritis itu.
Terdengar samar-samar suara monitor Elektrokardiograf berbunyi dengan teratur menandakan keadaan pasien mulai membaik seperti sedia kala, sang dokter wanita itu pun menghela napas nya lega begitu pula dengan Ranti. Dokter wanita itu pun menatap ke arah Ranti dengan cepat dan berucap "Terimakasih karna kau sudah mau membantu ku, suster." Ucap sang dokter wanita itu cepat dan tersenyum ramah ke arah Ranti.