8. Memikirkan Nya

2127 Kata
Erik memukulkan tangan nya ke arah tembok bangunan gedung itu dengan cukup keras! tak Erik sangka ia dapat bertemu dengan sosok wanita yang amat ia jahui keberadaan nya itu. "Mengapa ia bisa datang kesini?" Gumam Erik cepat dengan wajah dingin nya itu. "Erik.. Erik.." Panggil suara seseorang dari kejahuan memanggil-manggil nama Erik itu. "Kenapa kau disini? Acara sudah mau mulai.. keponakan mu terus saja mencari mu." Ucap seseorang wanita yang berpakaian mahal itu berbicara dengan akrab kepada Erik yang super beraura dingin itu. "Erik, akan segera menyusul Kak.. Kakak duluan saja kesana." Ucap Erik cepat dengan wajah datar nya itu. "Aish.. wajah mu itu kenapa menyebalkan seperti itu? ck.. mau sampai kapan kau melajang." Gerutu wanita itu cepat dan terdengar kesal memandangi wajah Erik adik semata wayang nya itu. "Sampai, Tasya kembali." Jawab Erik cepat, singkat, padat dan jelas. "Hah.. baiklah terserah kau saja! cepat obati tangan mu itu, kau itu sudah besar dan masih suka memukul tembok? ck.. ck.." Ucap wanita itu terdengar khwatir pada Erik adik nya itu. "Cicak! ada cicak tadi di tembok, Kak." Ucap Erik cepat sontak membuang pandangan nya ke lain arah. Wanita itu sontak menghela napas nya panjang dan berucap "Aku Seri Kakak mu! alasan macam apa itu? kau tak bisa membohongi ku, Erik.. melangkah lah ke depan! jangan melihat kebelakang jika itu membuat mu terluka." Ucap wanita yang bernama Seri itu cepat dan menatap sendu Erik adik tunggal nya itu. "Aku akan menyuruh pelayan membawakan mu obat, aku ke depan dulu.. oke." Ucap Seri itu cepat dan segera melangkah pergih meninggalkan Erik sendirian di sudut gedung itu. "Hahaha.. bagaimana bisa seperti ini, dengan melihat nya saja mampu membuat ku kacau! ada apa dengan ku?" Gumam Erik pelan dan tersenyum miring penuh misteri. Kediaman keluarga Ranti, pukul 22:40 WIB.. Ranti terus saja tak bisa menutup kedua mata nya dan terlelap dalam tidur nya! ia selalu saja terbayang wajah dingin milik pria yang sangat jahat menurut nya itu, Ranti membolak-balikan posisi tidur nya dengan gusar. "Huhf.. kepada dia sangat berpengaruh untuk ku? lupakan! lupakan! lupakan! dia Ranti." Gumam Ranti cepat dan memukul-mukul kepala nya dangan pelan. Cklek.. suara pintu kamar Ranti terbuka dengan perlahan-lahan Ranti pun segera melirik ke arah pintu kamar nya itu. "Kau belum tidur? ini sudah larut." Ucap Rendi tegas dan memandang ke arah Ranti dengan tatapan intens nya itu. "Ranti, akan segera tidur." Jawab Ranti cepat dan segera membenarkan posisi tidur nya. "Baiklah, mimpi yang indah untuk mu." Ucap Rendi cepat dan segera menutup pintu kamar Ranti dengan cepat. "Yaa." Ucap Ranti pelan berpura-pura mengantuk. Blam.. Rendi menutup pintu nya dengan pelan ia pun menatap langit-langit atap rumah nya dan menghela napas nya dan berucap "Seperti nya ini belum saat nya." Gumam Rendi lirih dan segera melangkah meninggalkan kamar Ranti dengan cepat. "Hufh.. untung saja!" Gumam Ranti lirih dan segera ia mematikan lampu berusaha terlelap dalam tidur nya itu. Keesokan hari nya, Ranti dengan gerakan kilat dan cepat ia segera turun ke lantai bawah dengan saru tas besar yang berisi pakaian ganti dan barang keperlua lain nya. "Pagi, Bu.. Kak." Sapa Ranti hangat sehangat mentari pagi yang sudah menanpakan sinar nya itu. "Pagi." Jawab Bu Windy dan Renti berbarengan menjawab sapaan Ranti itu. Ranti pun segera melangkah ke arah meja makan yang sudah di singgahi Rendi dan Ibu nya itu terlebih dahulu. "Mau Roti atau Nasgor?" Tanya Bu Windy cepat akan menu sarapan pagi untuk putri kesayangan nya itu. "Roti, aja.. Bu." Ucap Ranti cepat dengan tersenyum lebar. Sontak saja Bu Windy segera mengambilkan Roti isi yang telah ia buat untuk Ranti. "Mau Kakak, antar? kebetulan Kakak lewat sana." Ucap Rendi cepat setelah menelan sarapan pagi nya itu. "Boleh, motor metic aku juga lagi mogok tuh." Ucap Ranti cepat dan tersenyum kuda. "Yaudah, Kakak siap-siap dulu ya.. tungguin di teras aja." Ucap Rendi cepat dan segera menaruh piring kotor nya setelah selesai sarapan pagi itu. "Ibu, bawakan bekal ya?" Ucap Bu Windy cepat dan segera beranjak dari kursi nya dan berjalan mengarah ke bagian dapur untuk mengambil tempat makan tupperware untuk wadah makan yang akan Ranti bawa nanti nya. Ranti sontak tersenyum bahagia keluarga nya sangat lah menyayangi nya! Ranti bahkan meneteskan air mata nya karna tak kuat menerima begitu banyak perhartian dari Ibu dan Kakak nya itu. 20 menit kemudian.. Rendi segera menghentikan laju mobil nya tepat di pintu masuk Rumah Sakit Cahya Delapan tempat Ranti adik nya itu berkerja. "Semangat!" Teriak Rendi cepat dan menyemangati Ranti adik nya itu yang akan berkerja untuk pertama kali nya. Hanya suara tawa Ranti yang dapat di dengar oleh Rendi, ada sedikit kekhwatiran dalam hati Rendi adik nya itu sangtlah rapuh dan Rendi tau akan hal itu. "Hati-hati di jalan, Kak Rendi." Ucap Ranti cepat dan melambai-lambaikan tangan nya ke arah mobil Rendi yang sudah kembali melaju itu. Ranti pun menghela napas nya panjang sebelum melangkah masuk ke dalam bangunan besar yang sangat ternama itu, langkah kaki Ranti sontak terhenti tak kala ada seseorang yang memanggil nama nya itu. "Ranti.." Suara seseorang urutan ketiga yang sangatlah ingin Ranti hindari kebereadaan nya. "Iya, Dokter Zura." Ucap Ranti cepat dan tersenyum terpaksa ke arah sosok pria yang sedang menggunakan Jas putih itu. "Ada waktu untuk siang ini? kalau ada ayo makan siang bersama." Ucap Doter Zura cepat dengan tersenyuman maut itu. Deg.. Ranti hampir saja terhanyut dalam senyuman manis dan menggoda itu! namun sesegera mungkin Ranti menapik pikiran nya dan tersadarkan kembali, Ranti bisa gila jika ia jatuh hati pada sosok Zura yang sangat terlihat m***m itu. "Ranti, tidak tau apakah bisa untuk hari ini.. Ranti, baru saja masuk jadi Ranti tak tau aturan berkerja di Rumah Sakit ini dan permisi Ranti buru-buru." Ucap Ranti cepat dan segera melangkahkan kaki nya lebar-lebar menjauh dari sosok Zura. Zura sontak tersenyum miring dan menghela napas nya panjang, lalu tertawa lebar baru kali ini ia di abaikan oleh wanita! ia pun bergumam "Kau akan menjadi milik ku, Ranti!" Gumam Zura pelan dan tersenyum penuh misteri itu menatap ke pergihan Ranti yang semakin jauh dari nya. Langkah kaki Ranti yang terburu-buru membuat nya kehilangan ke seimbangan dan secara tak sengaja menambrak orang lain di lorong Rumah Sakit itu. "Maaf, maaf.. saya ngga sengaja." Ucap Ranti cepat dan membungkukan badan nya 45 drajat meminta maaf ke arah sosok wanita yang ada di hadapan nya itu. "Ngga punya mata ya? jalan tuh liat-liat sekitar, Mba." Ucap sosok wanita dewasa itu ketus dan menatap marah ke arah Ranti. "Sekali lagi saya minta maaf, Kak." Ucap Ranti kembali dengan wajah penuh penyesalan nya itu. "Iya, iya.. saya maafin!" Ucap sosok wanita itu cepat dengan raut wajah kesal nya itu. Ranti menghela napas nya berat saat melihat wanita yang baru saja ia tabrak itu pergih berlalu begitu saja dari pandangan nya, Ranti pun bergumam kecil "Belum berkerja saja aku sudah membuat masalah." Gumam Ranti pelan dan mengacak-acak rambut nya frustasi. "Ranti?" Panggil seseorang kepada Ranti yang mana membuat Ranti langsung menatap ke arah nya. "Kamu yang nama nya Ranti bukan?" Tanya seseorang itu cepat dengan wajah bersahabat nya itu. Ranti sontak mengaggukan kepala nya dengan cepat tanda mengiyakan dan berucap "Iya, saya Ranti Silvia." Ucap Ranti cepat dan tersenyum lebar ke arah Suster wanita yang ada di hadapan nya kini. "Benar kalau begitu, yuk.. ikuti saya kita akan pergih ke tempat penyimpanan barang-barang mu itu." Ucap nya cepat masih dengan senyuman ramah nya itu kepada Ranti. Ranti pun ikut tesenyum kecil sebelum akhir nya ikut melangkah mengikuti langkah kaki Suster yang menjadi pemandu nya di hari pertama ia datang ke Rumah Sakit Cahya Delapan ini. Cklek.. suara pintu ruangan ganti terbuka dengan sempurna Ranti dan sang Suster pemandu itu melangkah masuk ke dalam ruangan. "Ini loker mu, kamu bisa menaruh barang-barang mu disini." Ucap Suster pemandu itu cepat dan tersenyum kecil. "Iya, terimakasih Suster." Ucap Ranti cepat dan membungkukan badan nya 45 drajat kembali untuk mengucapkan rasa terimakasih nya itu kepada seorang Suster yang baru saja ia temui itu. "Sama-sama, ohh iya.. nama ku Zaneta kamu bisa memanggilku Neta." Ucap Suster itu kembali dan tersenyum ramah ke arah Ranti. "Suster Neta?" Ucap Ranti cepat dan tersenyum kecil. "Taruh barang-barang mu di loker, sehabis itu kita akan pergih untuk pengenalan tempat kerja baru mu dan setelah nya akan ku beri tahukan tugas mu untuk berkerja di sini." Ucap Suster Neta cepat dan tersenyum lebar ke arah Ranti. "Baik, Suster Neta." Ucap Ranti cepat dan segera menyimpan barang-barang nya ke dalam loker lalu mengunci nya dan segera berlalu keluar dari ruangan ganti itu bersama Suster Neta. Disisi lain, gedung pencakar langit terlihat sangat besar dan moderen dari segala sisi pandang nya! ruangan yang bernuansa mewah serta terdapat banyak penghargaan baik dalam kanca Asia atau pun Eropa. Erik tengah terduduk angkuh di singgasana nya dan manatap tajam ke arah karyawan nya itu! Senyuman miring kian terbit di bibir Erik. "Sudah berapa lama kau berkerja di Perusahan ku ini?" Tanya Erik cepat memandang karyawan pria paruh baya itu dengan dingin. "Se.. sekitar.. 8 bulan, Bos." Ucap karyawan pria paruh baya itu tercegat dan terbata-bata dalam mengucapkan kalimat nya itu. "Oh.. 8 bulan ya? namun sudah berani menggelapkan uang Perusahan saya! apakah kau bodoh atau tamak, hah." Maki Erik naik pitam dan menatap tajam ke arah karyawan pria itu. "Maaf, Bos.." Ucap karyawan pria paruh baya itu cepat dan terus saja mengulangi permintaan maaf nya itu. "Jebloskan dia ke penjara! sita semua aset-aset berharga nya dan.. buatlah keluarga nya juga menanggung akibat yang telah dia lakukan, Yogi." Ucap Erik cepat dan segera berdiri menatap ke luar jendela besar nya itu memandangi kota Jakarta yang sangatlah sibuk itu. "Tidak, Bos! saya minta ampun.. putri saya baru saja melahirkan anak nya, Bos besar ampuni dia.. biar-biarkan saja saja yang menanggung semua nya! ampuni keluarga saya, Bos." Ucap Karyawan pria paruh baya itucepat seraya bersujut di hadapan Erik yang saat ini tersenyum bagaikan iblis. "Apa aku peduli akan nasib keluarga mu? satu hal yang perlu kau ingat dan tanamkan di otak dangkal mu itu.. Aku Erik Fantony tidak akan membiarkan orang lain mengganggu hidupku! termasuk kau yang telah mengusik ketenangan ku dengan menggelapkan uang perusahaan selama 2 bulan ini." Ucap Eriktegas dan segera memberi isyarat mata agar Yogi segera menyeret karyawan pria paruh baya itu keluar dari ruangan nya secepat mungkin. Yogi dengan patuh pun segera menarik paksa pria paruh baya itu agar segera keluar dari ruangan Tuan nya, Yogi tau betul sifat Erik belakangan ini sangatlah aneh dan lebih menyeramkan dari hari-hari sebelum nya! akan sangat tidak baik jika ia tak segera mengeluarkan pria paruh baya itu dari ruangan Erik. "Bawa dia ke kantor polisi, aku akan menyusul kesana untuk menyerahkan tuntutan nya." Ucap Yogi cepat dan segera menyerahkan pria paruh baya itu ketangan bawahan-bawahan nya. Erik menghela napas nya gusar! bayang-bayang Ranti kian bermunculan kembali di pikiran nya, sejak kapan Ranti menjadi sosok sangat berpengaruh pada kehidupan Erik? Erik sendiri tidak tau mengapa Ranti mampu membuat diri nya sekacau ini. Cklek.. Brak.. suara gerbrakan meja yang Erik lakukan berbarengan dengan Yogi yang ingin memasuki ruangan Erik kembali itu, yang mana membuat bulu kuduk Yogi terangkat semua akan sosok Erik Tuan nya itu yang sedang marah saat ini. "Tuan, akan saya pastikan Pria itu di hukum seberat-berat nya." Ucap Yogi cepat dengan tegas. "Yogi, apa kau mengira aku semarah ini hanya karna uang 200 juta ku hilang di makan pria tua itu? apa kau sungguh berpikir seperti itu?" Tanya Erik pelan terkesan dingin dan menyeramkan. "Be.. benar Tuan, saya akan berusaha memenjarakan pria itu seumur hidup nya." Ucap Yogi kembali dengan cepat dan memundurkan satu langkah kaki nya ke belakang. "Haha.. kau pikir aku seperti ini hanya karna masalah uang recehan itu? hahaha.. kau sungguh lucu, Yogi." Ucap Erik cepat dan tertawa lebar seketika yang mana membuat Yogi kembali di selimuti rasa takut akan sosok pria yang selama ini ia panggil dengan sebutan Tuan itu. "Apa.. apakah ada hal lain yang membuat, Tuan semarah ini?" Tanya Yogi ragu-ragu. Erik sontak terteguh dan terdiam sesaat, tidak mungkin bagi nya untuk mengakui Ranti yang membuat nya seperti itu! Erik sangatlah malu dan menjunjung tinggi kesombongan nya itu ia pun dengan cepat segera berucap "Tidak, pastikan pria tuan itu mendapatkan hukuman yang berat! sana pergihlah." Ucap Erik cepat dan segera mendudukan diri nya kembali di kursi singgasana nya itu dan mulai membolak-balikan berbagai dokumen di meja nya namun ia sama sekali tak membaca nya hanya untuk formalitas agar Yogi tak bertanya kembali kepada nya. "Baik, Tuan." Ucap Yogi cepat dan segera berlalu dari hadapan Erik sang Tuan nya itu. Erik sontak menghela napas nya panjang setelah mendengar pintu ruangan nya tertutup kembali yang menandakan bahwa Yogi terlah pergih dari ruangan nya itu, ia pun bergumam "Hah.. untung saja! aku bisa di anggap bodoh oleh Yogi karna terus memikirkan wanita itu." Gumam Erik cepat dan mengusap-usap d**a bidang nya itu dengan pelan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN