Aku mengenal Andini sejak masih remaja. Keluarga kami yang masih memiliki hubungan kekerabatan meski jauh, membuat kedekatan kami digadang-gadangkan, akan berujung pada perjodohan. Awalnya, aku tak menggubris ide itu. Kami masih sangat muda, pengumuman masuk sekolah menengah pertama saja baru keluar. Aku tak ingin menyia-nyiakan kepercayaan Ibu. Beliau sangat membanggakanku, dulu. Bahkan, sebelum kematiannya, beliau sempat berpesan agar aku menjadi pria hebat yang bisa dibanggakan. Andini pun juga diterima di sekolah yang sama denganku. Ayah gadis itu berpesan agar aku menjaganya. Dia selalu menguntitku ke mana saja. Sampai ada slogan di sekolah, di mana ada Fairuz, di sanalah Andini berada. Aku tak masalah dengan lelucon seperti itu. Toh, pada kenyataannya, antara aku dan Andini, tak pe

