Adelia meringis. Jahitan di perut masih basah, membuat dia harus bergerak sepelan mungkin. Sesaat dia terdiam menatap langit-langit kamar yang berwarna putih. Benak gadis itu mengumpulkan ingatan yang terserak. Bayang-bayang wajah marah Deyana, juga raut murka Fairuz, silih berganti mengisi tempurung kepalanya. Refleks Adelia menyentuh perutnya, kempes. Seketika gadis itu dilanda ketakukan. Di mana bayinya? Apa yang terjadi? "Syukurlah Nona sudah siuman." Suara Melinda membuat Adelia menoleh ke samping kiri. Matanya menangkap sosok Melinda mendekat dengan senyum lega di wajahnya. "Di mana anakku, Bi? Apa dia baik-baik saja." Mata Adelia liar mengitari ruangan, berharap menemukan sosok mungil yang telah dia kandung selama hampir tiga puluh dua minggu. Melinda menahan pergerakan Adeli

