Santo bergegas membuka pintu gerbang, saat melihat mobil Bayu hendak masuk ke dalam pekarangan. Pemuda yang sudah bekerja di keluarga Fairuz selama lima tahun tersebut, menyongsong pria tersebut. "Di mana Deyana?" "Non Deyana dalam kamar, Tuan. Dia ngamuk dan melempar barang-barang. Pintu dikunci hingga kami enggak bisa masuk." Santo melapor, seraya menyamai langkahnya dengan Bayu. Terdengar embusan napas keras dari bibir Bayu. Menghadapi Deyana, menguras semua emosi pria itu. Dia tak mengerti, bagaimana dulu bisa mengagumi wanita tersebut? Sempat menaruh simpati setelah mendengar cerita sedih sang wanita. Andai saja, Deyana mampu mengendalikan emosinya dengan baik, Bayu yakin, wanita itu akan jadi pebisnis handal. Bayu melangkah lebar dan cepat memasuki rumah. Di dalam, Mbak Nani

