Petaka

1284 Kata

Deyana berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Wajah wanita itu menyiratkan kekesalan yang amat sangat. Sesekali dia menatap pantulan wajah di dalam kaca meja rias. Warna merah bekas tamparan Adelia, memang sudah tak ada lagi di sana, tetapi rasa sakit menikam dalam ke jantungnya. Dia tak habis pikir, bagaimana gadis bodoh itu bisa melakukan hal ini padanya? Dengan sangat berani mempermalukan di depan Bayu dan para asisten rumah tangga. Kedua telapak tangan Deyana mengepal sangat kuat, dia berteriak sekadar melepas sesak yang bergulung-gulung di dadanya. Tidak! Dia tidak akan pernah kalah dari gadis yang dia anggap penghancur rumah tangga sang mama. Sejak kedatangan Adelia, setiap hari mama dan papanya bertengkar. Lalu esoknya, sikap sang papa akan sangat dingin padanya. Seolah-olah d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN