Malam Pertama …

1821 Kata

Windy masih terpaku. Ia masih terdiam dan membeku mendengarkan permintaan sang kakak. Semua mata kini tertuju pada Putra. Mereka ingin mendengar jawaban dari mantan suami windy itu. Pertanyaan itu sebenarnya biasa saja, namun karena ini adalah pernikahan ke dua Putra dengan Windy, tentu pertanyaan itu jadi berbeda. Pertanyaan yang sarat akan makna. “Jadi bagaimana, Putra?” tanya Rudi. “Bismillah … Insyaa Allah saya berjanji, tidak hanya di depan semua orang yang ada di sini, tapi juga di hadapan Allah. Saya berjanji akan membahagiakan Windy. Tidak akan pernah sedikit pun saya akan menyakiti fisik maupun perasaan Windy. Saya akan menjaganya sampai maut memisahkan kami,” ucap Putra mantap. Jantung Windy seketika berdebar mendengarkan pernyataan Putra. Suaranya sangat tegas dan lantang seo

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN