Malam semakin larut. Jam dinding di rumah Putra sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Sudah tidak ada lagi yang terjaga di rumah itu selain dirinya. Anak-anaknya pun semuanya sudah terlelap. Dian dan Rian sudah kembali ke rumah mereka. Putra yang masih saja belum mampu memejamkan diri, berlalu dari halaman belakang rumah ibunya menuju dapur. Tidak lupa ia kunci pintu belakang rumah sebelum benar-benar beranjak ke dapur untuk meletakan gelas kotor yang sudah ia gunakan. Putra menumpu ke dua tangannya di atas westafel bak cuci piring. Ia menghela napas sebab ia akan kembali masuk ke dalam kamarnya di mana saat ini sudah ada Windy di dalamnya. Apa sebaiknya aku malam ini menginap di luar saja? Ah tidak, kalau aku lakukan hal itu Windy akan tersinggung. Tapi aku tidak sanggup kalau ha

