Sembilan minggu sudah kejadian nahas itu berlalu. Kini, kehidupan Ita semakin hampa. Entah semua ini karma, atau azab atau ujian yang diberikan Tuhan kepada Ita. Tapi semenjak kepergian sang mantan suami, kehidupan Ita semakin kacau saja. “Ita, sampai kapan kamu seperti ini, Nak? Kenzo itu butuh biaya untuk hidup. Dulu mungkin ada Irfan yang membiayainya, tapi sekarang? Ita, kamu harus segera sadar dengan keadaan, jangan seperti ini terus, Nak.” Ita menatap sang ibu. Tatapannya kosong tanpa semangat hidup. “Ita … Memangnya kamu nggak kasihan pada Kenzo?” Ita hanya terdiam. Tiba-tiba saja ia mual. Dengan cepat, ia beranjak dari ruang tengah rumahnya menuju kamar mandi. Ia muntah di sana. Namun anehnya, tidak ada apa pun yang keluar dari mulut Ita. Ia hanya muntah angin. Sang ibu masih

