Sebuah Tamparan Untuk Ita

1503 Kata

Windy kini sudah sampai di pemakaman sang suami. Suami yang sudah menyakiti hatinya di sisa ujung penghidupannya. Tapi bagaimanapun juga, Windy masih punya rasa kehilangan. Irfan adalah suaminya, ia bahkan pernah mengandung anak Irfan walau Tuhan berkata lain. Ia sangat bersedih Sayangnya Windy tidak bisa berjongkok di sana. Ia tetap berdiri dengan menopang ke dua tangannya ke tongkat penyangga tubuh. Windy tidak mampu menahan tumpahan air mata yang turun begitu saja dari ke dua matanya. “Kak … Sabar ya,” ucap Vivi. Windy mengangguk lemah, “Kakak tidak menyangka semua ini akan terjadi. Setelah sebelumnya bang Dika, sekarang bang Irfan.” “Semu aini adalah takdir, Kak. Kita tidak bisa menyalahkan siapa pun, bahkan kita tidak bisa menyalahkan Allah sekali pun. Percayalah, dibalik semua mu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN