"Mas, mas Tamaaa..." Dhira sampai harus mengeraskan suaranya untuk mengembalikan pandangannya pada dua pilihan yang sejak tadi berada di tangannya. Dengan wajah lesu, Tama mendongakkan kembali kepalanya sambil berdehem. "Jadi yang ma-" Beruntung suara nada panggilan di ponsel Tama berdering, menyelamatkannya dari rasa malu sekaligus greget dari tingkah Dhira. Dengan sekali tekan, panggilan langsung terhubung. Tama bangkit dari duduknya, berjalan keluar toko, sambil mengangkat tangannya, memberi Dhira isyarat untuk menunggunya sebentar. "Kesel deh. Di kacangin kan jadinya," gerutu Dhira, menghentakkan pelan sebelah kakinya sebelum kembali untuk memilih pakaian dalam yang akan di belinya. Tak sampai dua menit, Tama sudah kembali masuk ke dalam toko. Kali ini dirinya bahkan sudah berada

