"Ayo turun," ucap Tama menjulurkan tangan kanannya. Saat ini posisi Tama sudah berada di samping pintu penumpang yang telah terbuka. Menunggu Dhira yang sejak dua menit tadi enggan untuk beranjak dari tempat duduk empuk itu. Dhira menggelengkan kepalanya cepat, tangannya sudah dalam posisi bersilang di depan d**a. Menjaga keamanan aset berharga yang belum pernah terjamah oleh siapa pun. "Enggak mau!" tolaknya mentah mentah. "Angga, tolong antarkan aku pulang," pintanya kemudian pada Angga. Tama berdecak, tak habis pikir dengan apa yang tengah ada di dalam otak perempuan itu. Jika bukan karena perasaan cintanya pada Dhira, mungkin laki laki itu sudah meminta sekretaris pribadinya untuk mengantarkannya ke tengah hutan belantara, agar tidak ada yang bisa menemukannya. "Hei, calon istriku

