“Tanpa sadar mungkin semesta sudah menyaring mana yang terbaik untuk kita dan mana yang tidak. Karena itu saat melihatnya aku percaya bahwa dia akan memberikan warna baru yang tidak pernah aku lihat sebelumnya dan tebakanku benar; aku menyukai warna baru yang diberikannya.”
-Nash-
***
Siren belum mengetahui siapa Nash sebenarnya dan Nash belum memiliki niatan untuk memberitahu Siren, bukan karena hubungan mereka yang memiliki batas waktu melainkan karena Nash rasa dia belum siap membuka dirinya selebar itu. Nash menikmati menjadi dirinya yang sekarang, ketika dia bebas melakukan apapun tanpa harus memikirkan keluarganya.
“Lihat siapa yang teman kita bawa!” sambut salah satu teman Nash dengan sangat bersemangat. “Akhirnya setelah purnama terlewati berkali-kali, teman kita ini membawa pasangan- oh? Kalian lihat senyumnya? Wah ... dia pasti sangat bahagia kali ini.”
Nash melirik Siren yang terlihat sangat tertarik dengan sifat teman-temannya. Matanya saja sampai membulat bersemangat meskipun gadis itu tidak mengatakan apapun. Benar-benar sangat lucu sampai Nash tanpa sadar menyentuh pipi Siren dengan jari telunjuknya.
“Apa?” tanya Siren tanpa suara dan Nash hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sebelum memperkenalkan Siren kepada teman-temannya yang terlihat sangat bersemangat. Mereka bahkan mengeluarkan ekspresi yang sama persis seperti Rigel ketika berkenalan dengan Siren di kafe.
“Siren,” ucap Siren memperkenalkan diri dengan ramah sambil menjabat tangan satu per satu teman Nash. Selain Rigel, ada tiga lainnya yaitu Zayyan, Reinar dan Gilang. Mereka berempat mengenakan setelan kerja semi formal sehingga hanya Siren dan Nash yang terlihat sangat santai.
Pada akhirnya Siren duduk di samping Nash setelah laki-laki itu menggeser posisi duduk Rigel. Dia melakukan itu bukan karena tidak percaya kepada teman-temannya, hanya saja dia pikir Siren mungkin akan merasa kurang nyaman berada di sekitar orang-orang baru.
“Jadi Siren ini penulis novel, ya?” tanya Gilang, mengulang apa yang sudah didengarnya. “Apakah penulis novel mengenal penulis novel lainnya? Aku memiliki adik sepupu yang juga merupakan penulis novel.”
“Adik sepupumu penulis novel?” Reinar menanggapi perkataan temannya itu. “Adik sepupu yang mana lagi? Bukankah kebanyakan adik sepupumu bekerja sebagai pramugari?”
“Ada, kami memang jarang bertemu dan dia juga cukup pendiam. Aku kurang tahu dia menulis novel genre apa tetapi sepertinya bukan romansa, kalian tahu kenapa? Wajahnya sangat seram, setiap aku melihatnya aku langsung merinding. Dia menatapku seperti aku adalah seekor serangga di hidupnya- oh Tuhan, hanya mengingat tatapannya saja bulu kudukku berdiri.”
“Boleh aku tahu namanya? Dia mungkin memakai nama pena tetapi mungkin saja aku mengenalnya karena kami memiliki perkumpulan sendiri,” ungkap Siren. “Siapa namanya?”
“Rishima Amaris,” jawab Gilang. “Dia memiliki aura yang cukup ‘kelam’- ah, bagaimana aku harus mendeskripsikannya? Dia terlihat seperti sudah pernah membunuh seseorang.”
Ruangan dipenuhi oleh tawa, para laki-laki itu menggeleng-gelengkan kepalanya atas ucapan Gilang yang sudah pasti dilebih-lebihkan.
“Rishima Amaris?” ulang Siren. “Aku sepertinya pernah mendengar namanya. Ada seorang penulis baru yang sangat berbakat dengan dua karya pertamanya yang mengusung genre thriller dan kalau tidak salah namanya adalah Amaris. Dia memang cukup misterius tetapi dia anak yang sangat cantik, sebentar ... aku rasa aku memiliki fotonya- ah, ini?”
Gilang langsung fokus ke arah layar ponsel milik Siren. Dia diam selama dua detik sebelum mengiyakan kalau salah satu perempuan di foto adalah adik sepupunya.
“Jadi dia penulis novel bergenre thriller?” tanya Rigel. “Jika dilihat-lihat, dia memang cantik dan memiliki tatapan mata yang sangat tajam. Hah, jika saja dia bukan keluargamu, pasti aku akan mendekatinya. Siapa tahu aku bisa seberuntung Nash sampai memiliki kekasih seorang penulis novel,” kelakar Rigel sambil terkikik geli. “Siren, kau benar-benar tidak mau mengubah pasanganmu? Aku sudah bilang kalau aku bersedi- ouh! Sial, pukulanmu sangat tepat sasaran seperti biasa.”
“Jangan tanggapi laki-laki buaya seperti Rigel,” ujar Zayyan, memberi peringatan. “Dia hanya akan mempermainkanmu, laki-laki seperti dia sangat berbahaya karena dia tidak akan mencampakkanmu melainkan melakukan segala cara agar kau mencampakkannya sehingga dia tidak akan merasa bersalah seumur hidupnya. Menjijikkan.”
Rigel melemparkan bantal sofa ke arah Zayyan. “Siapa yang kau bilang menjijikkan? Aku lebih mendingan daripada laki-laki yang ramah kepada semua perempuan. Aku yakin siapapun yang menjadi kekasihmu akan merasa sakit hati karena bayangkan saja orang yang mereka sukai tidak tahu caranya memberi batasan kepada orang lain dan selalu tersenyum ramah tanpa penolakan.”
“Oke, sekarang kembali dimulai adu mulut antara si brengs*k dengan si kurang ajar!” ejek Reinar. Dia mengucapkannya dengan nada seperti seorang presenter berita acara. “Sediakan cemilan kalian, ada popcorn dan juga teh di sini. Silahkan ambil semua, gratis.”
Nash tersenyum kecil sebagai tanggapan, dia menoleh ke arah Siren yang menikmati adu mulut yang terjadi diantara teman-temannya. Gadis itu bahkan tersenyum lebar ketika Zayyan dan Rigel saling melempar apapun di sekitarnya, suara Gilang yang mendominasi ruangan dan Reinar yang sibuk menjadi presenter dadakan.
“Jika kau sudah bosan melihat mereka bertengkar, kita bisa pulang,” ujar Nash kepada Siren. “Mereka tidak akan berhenti bersikap seperti ini sampai mereka lelah dan itu artinya masih ada sepuluh menit lagi sampai mereka diam. Kau baik-baik saja?”
“Hm, aku menikmatinya,” jawab Siren bersemangat. “Teman-temanmu sangat lucu. Mungkin ini yang dilihat orang lain ketika aku bersama dengan teman-temanku karena jujur saja menurut kami, kami itu selalu bertengkar dan itu tidak lucu sama sekali tetapi orang-orang mengatakan padaku kalau mereka iri melihat pertemananku dan sekarang aku rasa aku mengerti apa maksud mereka. Apa kalian selalu seperti ini? Kau tidak ikut ‘bermain’?”
“Aku adalah penonton,” aku Nash jujur. “Tetapi kadang aku juga ikut ambil bagian ketika mereka sudah mulai menyudutkanku. Bukankah mereka sangat berisik? Benar tidak apa-apa kau di sini dan menjadi penonton sepertiku?”
“Ini bukan berisik karena ketika bersama dengan teman-teman ini adalah hal yang sudah sewajarnya terjadi. Teman-temanku jauh lebih berisik, kapan-kapan aku akan mengajakmu bertemu dengan mereka versi lengkap,” janji Siren, dia yang sejak tadi sibuk memperhatikan teman-teman Nash langsung terkejut begitu melihat Nash sedang menatapnya dalam meskipun dengan cepat dia menutupi keterkejutannya. Siren membalas tatapan Nash dengan senyum di bibirnya. “Aku boleh menebak sesuatu? Dilihat dari lingkaran pertemananmu ini, aku yakin kau bukan orang yang datang dari kalangan biasa.”
“Begitukah?” Nash memajukan wajahnya, menatap Siren lebih dalam. “Lalu menurutmu dari kalangan mana aku berasal? Kenapa aku juga menjadi penasaran dengan tebakanmu?”
“Woho! Lihat pasangan ini- wah, jika tahu begini lebih baik aku mengajak kekasihku,” decak Gilang, entah sejak kapan dia berhenti tertawa dan memergoki Nash dan Siren yang sedang saling bertatapan. “Mata kalian akan mulai terasa kering jika terlalu lama saling bertatapan seperti itu!”
“Dasar tukang iri!” cemooh Nash. “Kau selalu mengatakan tentang kau yang akan mengajak kekasihmu atau apalah itu tetapi pada akhirnya kau selalu datang sendiri. Jujur saja, kekasihmu tidak mau diajak keluar bersamamu, bukan? Lagipula dia hanya menerimamu karena merasa terganggu dikejar selama dua bulan tanpa ampun.”
“Itu benar,” sahut Rigel, Zayyan dan Reinar setuju. “Sangat benar.”
Ekspresi Gilang kelihatan sekali kesal dengan tanggapan keempat temannya itu. “Kalian dengar, ya, dia itu sudah jatuh hati kepadaku. Hubungan kami bukan lagi sebatas cinta bertepuk sebelah tangan atau semacamnya tetapi kami berdua benar-benar sudah saling mencintai sepenuh hati dan siap mengorbankan jiwa kepada satu sama lain.”
“Kalau begitu buktikan dengan cara melamarnya,” tukas Rigel. “Jika dia menerima lamaranmu maka dia benar-benar sudah menyerahkan hatinya kepadamu. Lagipula, bukankah kekasihmu itu dulunya pernah mengejar Nilam?”
“Jangan menyebut nama orang gila yang sombong itu!” sungut Gilang. “Aku benar-benar tidak menyukainya dan aku tahu kalian semua juga begitu. Dia memainkan banyak hati perempuan tetapi si sombong itu malah menikah dengan- haish, aku masih ingin menghajarnya sampai sekarang. Lagi, kenapa kalian berempat diam saja, hah? Aku mengerti Nilam adalah sepupu Nash tetapi bukankah seharusnya kalian meninjunya barang lima sampai sepuluh kali?”
“Si baik ini melarang kita melakukannya,” tunjuk Zayyan ke arah Nash. “Padahal orang yang dinikahi oleh si sombong Nilam itu adalah kekasihnya tetapi dia masih bermurah hati-“
“Zayyan!” tegur Nash pelan namun sukses membuat Zayyan berhenti berbicara. “Bukankah kita sudah berjanji untuk tidak lagi membicarakan hal itu?” lanjut Nash kemudian, dia kemudian berdiri. “Aku datang ke sini hanya untuk mengembalikan mobil Rigel dan sekarang aku ada urusan lain bersama Siren. Bukankah begitu, Ren?”
“Ah, ya.” Siren langsung berdiri mengikuti Nash, dia menebarkan senyuman kepada keempat teman Nash yang hanya bisa diam sambil menahan diri mereka untuk tidak tertawa. “Kami berdua masih ada urusan lain, hehehe.”
“Sampai bertemu lagi, Siren!” Rigel melambaikan tangannya dengan wajah ceria, terlihat tidak terpengaruh dengan perubahan mood yang tiba-tiba.
“Tolong itu dipeluk ya, Ren!” sambung Zayyan kemudian. “Celupin juga kepalanya ke dalam air dan jangan main ke dalam kamar, ya?! Ingat dosa!”
“Dadah, Siren!” Gilang melambaikan tangannya sambil terkikik geli, begitu juga dengan Reinar. Mereka berempat benar-benar tidak khawatir atas sikap Nash yang berubah.
Siren hanya mengikuti Nash saja, dia bahkan tidak protes ketika Nash menggandeng tangannya. Siren bertingkah seperti pacar asli dan Nash juga bersikap seperti itu jadi mereka tidak merasa canggung karena seperti yang dikatakan oleh Aura, hubungan Siren dan Nash adalah ketidakmungkinan yang dipaksakan menjadi mungkin.
“Kau tidak lelah?” tanya Siren setelah mereka berdua menemukan taksi. “Setelah kau selesai bekerja kita langsung pergi makan, setelah itu kau masih harus meladeni Alita yang sangat manja, lalu bertemu dengan teman-temanmu jadi kesimpulannya kau butuh istirahat, kita pulang ke rumahku saja kalau begitu.”
Nash tidak banyak bicara, Siren pikir Nash kesal dengan teman-temannya padahal yang sebenarnya Nash merasa khawatir kalau-kalau Siren akan bertanya tentang mantan kekasihnya. Nash takut dia tidak bisa menjawab pertanyaan Siren dan dia juga menyesal bersikap seperti tadi.
“Tidak apa-apa ke rumahku, ‘kan?” tanya Siren sekali lagi. “Besok kita tidak bisa bertemu karena kau juga sibuk dan aku akan mulai menulis dengan semangat 45 di rumah. Lagipula kita harus membicarakan banyak hal, bukan? Jadi aku rasa kita butuh tempat yang ‘damai dan tentram’ untuk bicara. Aku memang sudah lama tidak mengalaminya tetapi aku sering sekali melihat dan menulisnya sehingga aku tahu kalau pondasi dalam sebuah hubungan adalah komunikasi, jadi-“
“Tidak apa-apa, Ren,” potong Nash lembut. “Kau tidak perlu menjelaskannya, aku akan mengikuti keputusanmu karena sepertinya kau benar, aku membutuhkan sedikit istirahat.”
Siren tersenyum lebar, dia melirik tangannya yang masih bergandengan dengan tangan Nash sebelum meledakkan bom dengan cara bertanya kepada supir taksi apakah mereka berdua sudah terlihat seperti sepasang kekasih sungguhan.
“Pak, kami berdua sudah terlihat seperti sepasang kekasih, ‘kan?” tanya Siren yang jelas membuat supir taksi itu terkejut.
“Ya, Non.”
“Hehehe, syukurlah kalau begitu,” katanya. Dia kemudian menatap Nash. “Kau mau aku peluk? Zayyan bilang aku harus memelukmu.”
“Huh?” Nash memiringkan kepalanya. “Kau serius akan mengikuti saran makhluk itu? Kita memang sepasang kekasih tetapi aku tidak ingin melakukannya sekarang hanya karena seseorang memintamu untuk melakukannya.”
“Begitu, ya?” Siren mengangguk-anggukkan kepalanya. “Oke.”
“Apa maksud dari nada kecewa itu?” tanya Nash, dia tersenyum kecil.
“Nada kecewa apa?” tanya Siren balik, pura-pura tidak tahu. “Nada suaraku biasa saja.”
“Lucunya,” gumam Nash, dia meminta izin Siren untuk mencubit pipi gadis itu dan tentu saja Siren menolak dan melindungi pipinya. “Sekali saja, hm?”
“Tidak,” tolak Siren tegas. “Kau tidak tahu rasanya, itu sangat sakit.”
“Aku tidak akan melakukannya dengan keras, jadi sekali saja, ya?”
“Tidak boleh.”
“Ren?”
“Tidak.”
“Siren?”
“Tidak!”
“Ren, tanganku sudah siap jadi boleh, ya?”
“No!”
Dan mereka terus seperti itu sampai taksi berhenti di kawasan apartemen Siren.
***