“Setidaknya aku tidak akan menyesali keputusanku memilih dia sebagai tokoh utama pria. Aku akan menjalani hidup yang bahagia entah itu sementara atau selama-lamanya.”
-Siren Vegakira-
***
Aura dan Deni menatap Nash dari ujung kepala sampai ujung kaki, mereka kemudian saling bertatapan satu sama lain sebelum akhirnya tersenyum sambil mengacungkan jempolnya kepada Siren yang juga tersenyum puas atas reaksi editor dan Kakak sepupunya itu.
“Nash, ya?” sebut Aura sekali lagi. “Laki-laki setampan dirimu kenapa mau menjadi pacar sewaan Nona penulis yang sedang kehilangan kewarasannya ini? Kau pasti merasa kasihan melihat Siren atau tidak ... apa kalian terlibat cinta satu malam? Wah, ini adalah teori yang bagus.”
“Cinta satu malam apa? Kakak ini memang mantan penulis yang cukup gila, ya? Mana ada yang seperti itu di dunia nyata?” sanggah Siren. “Aku kebetulan bertemu Nash di toilet pria- jangan salah paham, aku benar-benar tidak tahu kalau itu adalah toilet pria dan keadaan tidak memungkinkan bagiku untuk keluar lagi- itu tidak penting, tapi bagaimana pun sekarang Nash setuju menjadi kekasihku untuk sementara waktu. Bukankah begitu, Nash?”
“Ya,” jawab Nash singkat, dia terus tersenyum ramah.
“Aku mencintai dunia kepenulisan meskipun aku sudah berhenti,” papar Aura, dia kemudian menyodorkan tab miliknya kepada Siren. “Kau lihat bagian yang aku tandai itu? Tokoh utama prianya memiliki karakter yang cukup kuat di awal episode, terutama kau memberi perhatian khusus kepada senyumnya yang membuat siapapun berdebar ... yah, aku bisa mengerti maksudmu,” kekeh Aura di akhir kalimatnya sambil melirik ke arah Nash.
“Ini awal yang bagus,” imbuh Deni. “Kau melakukannya dengan baik jadi aku benar-benar menunggu untuk bagian selanjutnya. Aku berharap kalian tetap bersama jika kehadiran Nash bisa memancing imajinasimu sehingga secara tidak langsung aku juga akan merasa lebih baik. Lalu ada saran untuk kau, Nash, Nona penulis ini terkadang bisa menjadi sangat menyebalkan-“
“Papa! Mama!” teriak Alita, putri Deni dan Aura yang baru datang sekolah. “Papa, itu mobil siapa? Teman-teman Alita bilang mobilnya keren jadi mereka foto-foto, deh,” ujarnya dengan wajah polos. Alita bahkan belum menyadari keberadaan Siren dan Nash sampai Siren memanggilnya.
“Alita? Kok pulang langsung teriak-teriak, bukannya Lita sudah janji sama Tante kalau baru sampai rumah harus mengucap salam?” tegurnya dengan nada lembut sehingga ekspresi Alita sama sekali tidak menampilkan kekesalan dan malah tertawa malu sebelum kemudian mengucap salam.
“Tante! Itu di depan mobilnya Tante Siren, ya? Tante sudah pintar nyetir mobil sampai beli mobil yang keren?” Alita memberondongi Siren dengan pertanyaan. “Terus ini Om yang lebih ganteng dari guru les nya Alita siapa? Pacarnya Tante atau cuma friendzone?” sambungnya dengan pertanyaan yang tidak kunjung selesai, bahkan mata Alita berbinar cerah ketika dia melihat Nash seakan-akan tidak ada yang lebih menarik dari pacar sewaan Siren itu.
Siren mencubit pipi keponakannya yang tembam itu. “Friendzone? Kamu baca novel Mama kamu, ya? Masih kecil kok sudah tahu istilah seperti itu?”
“Tante ini bagaimana, sih? Yang seperti itu sudah populer di kalangan anak-anak!” tegas Alita, dia menjulurkan lidahnya ke arah Siren dengan tujuan meledek sebelum memasang senyuman manisnya kepada Nash. “Halo Om yang lebih ganteng dari guru les nya Lita!”
“Wah ... bagaimana bisa semua keponakanku seperti itu?” keluh Siren. “Alita dan Salwa sama saja. Kakak tahu? Waktu kemarin aku bawa Nash ke rumah di Malang sehari setelah kesepakatan kita berdua terjalin, Salwa tiba-tiba menjadi genit seperti Adelia dulu saat dia belum menikah. Lalu setelah itu ada Tante, terus ada Karin-“
“Tunggu dulu! Wait ....” potong Aura, dia menatap Siren penasaran. “Kau sudah membawa Nash ke Malang bertemu Om dan Tante bahkan sampai bertemu dengan Mama Kakak? What the ... kalian ini sebenarnya hanya main-main saja atau serius?”
“Tidak seserius itu dan tidak main-main juga,” sahut Siren, dia mengedikkan bahu. “Aku tidak mungkin hanya main-main saja, hubungan kami harus terlihat seperti hubungan asli demi kelancaran tulisanku. Lagipula kenapa ekspresi Kakak berdua seperti itu? Ada yang salah?”
Aura melirik Nash yang sibuk meladeni Alita yang mulai manja sampai-sampai meminta bantuan kekasih sewaan Siren itu untuk menyiapkan buah-buahan yang akan diberikan kepada teman-temannya yang masih ada di luar. Ibu satu anak itu berdehem dan sudah siap-siap ingin mengacak-acak rambut sepupunya itu kalau saja Deni tidak menenangkan dan juga mengingatkan Aura bahwa Nash masih ada bersama mereka.
“Kau akan bertanggungjawab jika anak orang terbawa perasaan?” bisik Aura kesal. “Kalian baru bertemu yang artinya belum mengenal sejauh itu dan kau langsung mengajaknya ke Malang keesokan harinya untuk bertemu keluarga kita- wah ... sebenarnya pikiranmu yang kurang waras, bagaimana bisa kau melakukan itu?”
“Kenapa?” Siren masih merasa tidak ada yang salah. “Nash juga menyukainya. Dia suka bertemu dengan keluargaku, dia juga suka mendengar ceritaku dan bahkan membantu Karin yang kepalanya hampir pecah karena pusing memikirkan skripsinya. Dia baik.”
Ekspresi wajah Aura tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, dia menatap sepupunya itu dengan serius. “Siren, kau penulis, bukan? Ah, baik, lupakan saja dengan pikiran kalau seorang penulis lebih bisa membaca keadaan karena di otak mereka hanya ada ide cerita tetapi bagaimana ini? Bagaimana bisa seorang penulis novel romansa membawa kekasih sewaannya ke rumah orang tuanya sehari setelah perkenalan pertama mereka? Kau benar-benar menerapkan yang tidak mungkin menjadi mungkin.”
“Apa yang aneh tentang itu?” tuntut Siren. “Memang aku juga mengakui kalau tindakanku terlalu impulsif, mengajaknya ke rumah di Malang sehari setelah pertemuan kami berdua tetapi percaya padaku ... semuanya baik-baik saja. Kami hanya memainkan peran yang sudah disepakati.”
“Wah, kau benar-benar tidak bisa ditebak, Siren Vegakira,” ujar Deni, dia bahkan sampai bertepuk tangan tidak percaya. “Baru beberapa hari yang lalu kita membicarakan tentang ini dan kau sekarang sudah bersama dengan seorang pria yang sangat tampan dan terlihat berwibawa- entah bagaimana kau bisa menemukan tipe laki-laki yang kau cintai sebagai tokoh favoritmu dalam setiap novel romansa tetapi kau tumbuh dengan sangat berani, ya? Aku masih ingat dulu kau bahkan tidak bisa membawa Ken untuk bertemu Om dan Tante tetapi sekarang waw ... kau membawa laki-laki yang baru kau kenal dengan sangat percaya diri. Hahahaha.”
Aura menyenggol suaminya, dia berdecak dan kembali berbicara kepada Siren. “Jadi orang-orang rumah tidak tahu kalau Nash hanya pacar sewaan yang kau pekerjakan untuk kepentingan novelmu saja? Kau tahu adikmu sangat peka tentang ini, apa dia tidak mengatakan apapun?”
“Akhtar? Tidak, dia memang terlihat mengamati Nash dalam diam tetapi dia tidak berkomentar apapun sampai kami berdua pulang,” terang Siren, dia tersenyum dan menepuk-nepuk paha Aura. “Kakak berdua tolong jaga rahasia, ya? Kami berdua akan menyelesaikannya dengan sangat baik sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“Wah ... hebat!” seru Alita bersemangat. Dia meloncat-loncat riang, tersenyum lebar dan bertepuk tangan. “Mama, Om Nash bikin apel yang bentuknya persis seperti kelinci! Lihat sini, Om Nash pintar lho, Papa saja kalah!”
“Sepertinya aku salah memilih pacar, semua keponakan serta sepupuku tertarik kepadanya lebih dari yang aku duga,” gumam Siren, dia kemudian berdiri. “Alita bilang teman-temannya masih ada di luar, ‘kan? Aku panggil mereka untuk masuk saja dulu.”
“Hm, tolong ya, Ren,” sahut Aura, dia juga berdiri dan menghampiri Alita yang bersemangat. “Alita hati-hati sama pisau, ya? Jangan lompat-lompat seperti itu, nanti Om Nash bingung harus jaga Alita atau fokus motong buahnya!”
***
Nash masuk ke dalam mobil terlebih dahulu, baru kemudian disusul Siren yang membawa kantong kertas berisi tiramisu buatan Aura di tangan kanannya. Aura sepertinya hanya memintanya datang untuk tiramisu itu tetapi mereka malah berakhir membicarakan Nash.
“Mobil Rigel sepertinya disukai banyak kalangan, ya? Teman-teman Alita terus melontarkan pujian sejak tadi,” kelakar Siren begitu mereka meninggalkan kediaman Deni dan Aura. “Kita mau ke mana? Aku sudah tidak memiliki tujuan lain.”
“Mobil ini memang cukup bagus,” sahut Nash sambil terkekeh. “Tetapi aku tidak tahu anak-anak kecil akan menganggap mobil seperti ini keren, sayangnya kita harus mengembalikan mobil ini- sebenarnya tidak harus sekarang tetapi aku ingin mengajakmu bertemu teman-temanku dan Rigel ada di sana bersama mereka. Tidak apa-apa, ‘kan?”
“Teman-temanmu?” ulang Siren sekali lagi, dia kemudian mengeluarkan ponselnya. “Aku suka bertemu dengan banyak orang demi kelancaran otakku dalam menulis cerita. Hehe, justru aku yang akan bertanya padamu apakah tidak malu memperkenalkanku kepada teman-temanmu?”
“Malu? Coba jelaskan kenapa aku harus merasa malu?”
“Karena aku seorang penulis, mungkin beberapa orang menganggap pekerjaanku menarik tetapi sebagian lainnya akan merasa terganggu karena mereka pikir aku akan menuliskan apapun yang aku lihat- yah ... nyatanya tidak separah itu meskipun mereka tidak salah juga.” Siren meringis. “Poin tambahannya, aku penulis cerita romansa. Ada yang mengatakan padaku bahwa penulis romansa hanya tahu cara membuat cerita-cerita dewasa.”
“Mereka tidak akan berkomentar apapun tentang pekerjaanmu atau tinjuku akan melayang,” sahut Nash kemudian. “Percaya dirilah karena kau sudah menjalani hidup dengan sangat baik. Ini bukan seperti kau melakukan pengedaran obat-obatan terlarang atau apa sebagai pekerjaanmu, aku juga sudah mengatakan kalau aku tertarik dari arah yang positif terhadap pekerjaanmu ini sehingga kau tidak perlu merasa rendah diri.”
“Ow ....” Bersiul karena merasa terhibur akan kata-kata Nash, Siren memukul pelan lengan pria itu. “Tokoh utama pria, kau benar-benar akan dicintai oleh pembaca karena mulutmu yang sangat manis ini. Apa tadi? Kau akan meninju siapapun yang berkomentar negatif tentang pekerjaanku? Bagaimana ini, rasanya aku akan jatuh cinta kepada tokoh utama priaku sendiri.”
“Bukankah kau memang harus melakukannya? Seorang penulis harus mencintai semua tokoh ceritanya, bukan?” Nash tertawa pelan. “Aku hanya tidak tahan melihatmu meringis dan merasa kurang percaya diri setiap membicarakan pekerjaanmu. Apapun yang dikatakan oleh orang-orang untuk menjatuhkan mu termasuk perkataan mantan kekasihmu yang kemarin kita temui itu, lupakan secara perlahan-lahan atau jadikan motivasi untuk masa depanmu. Banyak yang mendukungmu, Ren, tidak apa-apa.”
Nash benar-benar memahami Siren, dia tidak mengatakan itu semata-mata agar terlihat bagus. Dia mengetahui bagaimana ucapan seseorang menimbulkan efek berkepanjangan kepada orang lain dan Nash juga merasakan itu. Sebagaimana Siren yang terpengaruh dan bahkan sempat putus asa karena ucapan Ken yang seperti memadamkan mimpi dan kebanggaannya, Nash juga merasakan hal yang sama ketika mantan kekasihnya meninggalkannya dengan alasan yang sempat membuatnya terdiam dan menangis tersedu-sedu kala itu.
Namun Nash berdiri dengan kedua kakinya dalam semangat yang lebih membara, dia juga berhasil untuk tidak mengubah dirinya demi orang lain dan dia ingin Siren melakukan hal yang sama karena hidup bukan tentang mereka, melainkan tentang kita yang menjalaninya.
“Tidak apa-apa, ya?” gumam Siren. “Sekali lagi terima kasih, Nash, aku selalu mengungkapkan terima kasihku kepadamu di setiap do’aku tetapi aku juga ingin terus mengucapkannya secara langsung padamu. Kau itu akan menggeser Oliver Kei di hatiku, tokoh utama priaku yang berharga.”
Tertawa, Nash menganggukkan kepalanya. “Aku merasa terhormat kalau begitu.”
“Apa mobil ini bisa diajak mengebut?” tanya Siren random, dia mengubah suasana secara tiba-tiba dengan pertanyaannya itu. “Mobil Ayah tidak bisa diajak untuk mengebut, Adelia pernah mencobanya tetapi bukannya semakin cepat, mobil Ayah malah mengeluarkan asap yang bau seperti kentut.”
Siren Vegakira dan leluconnya.