Beta-Blockers

1347 Kata
Arial berlari menuju tempat di mana Rio terdiam, tidak membutuhkan waktu yang lama untuknya sampai ke tempat tersebut. Ia melihat Rio yang berlutut dan berusaha untuk mengirup udara sebanyak mungkin. “Rio!” Arial menepuk pundak Rio dengan pelan dan membantunya untuk berdiri. Satu tangannya membopong tubuh lelaki itu dan ia mengalungkan tangan Rio pada bahunya agar lebih mempermudah mereka untuk berdiri. “Calm down! This is not that time, Rio! Sekarang bukanlah waktu itu! Bima ada di depan sana dan masih melawan musuh, jika kau seperti ini maka itu sama saja dengan kau membiarkan Bima sama seperti dulu!” Pernyataan yang di ucapkan oleh Arial tersebut, membauat Rio menahan nafasnya. Meskipun tubuhnya masih bergetar karena ketakutan, tetapi ada suatu hal di dalam dirinya yang membuatnya berani. “Ayo!” Rio melirik pada Arial dengan serius, kemudian ia menarik dirinya sendiri agar dapat berdiri dengan tegak. Arial masih melihat nafas lelaki itu terengah-engah, dan tubuhnya pun tak sepenuhnya bertenaga. Namun ia tetap membiarkan Rio berusaha untuk menghadapi hal tersebut, dan melihat sampai dimana batas kemampuannya melawan trauma yang ternyata dimilikinya saat ini. Keduanya berlari ke arah di mana suara tembakkan peluru terdengar saling bersahutan. “Tga puluh meter di depan, Rio!” Arial berucap pada Rio yang berlari di sampingnya, jarak mereka dengan Bima tinggal tiga puluh meter lagi. Namun langkah Rio memelan, dan akhirnya berhenti. Arial ikut menghentikan langkahnya dan berbalik menatap sahabatnya itu yang kini membungkuk memegang kedua lututnya seraya menunduk. Arial menghampirinya dan mengusap bahu Rio dengan pelan, nafas lelaki itu lagi-lagi terlihat memburu. Dan Arial tahu Rio sedang berjuang melawan rasa kepanikannya saat ini. Dar… Dar… Dar… Arial menatap ke arah depan ketika ia mendengar kembali suara tembakan yang saling bersahutan. Ia ingin membantu Bima, tetapi keadaan Rio tidak memungkinkan untuk ia tinggalkan. “P-pergi hhh…” Arial melirik pada Rio ketika ia merasa sang sahabat mengatakan sesuatu padanya. “Pergi, bantu Bima!” Rio kembali mengulang ucapannya sambil terengah-engah. Arial menggelengkan kepalanya, ia menolak perintah tersebut karena ia ada disini untuk menyelamatkan Rio. Lagi pula Arial mengetahui bahwa Bima dapat menangani orang itu, sebab keadaannya tidak sama seperti dulu. Bima tidak terluka, ia memiliki tubuh yang bugar dan sehat saat ini. Jadi kemungkinan Bima bisa mengatasinya sendiri, berbeda dengan Rio yang benar-benar membutuhkan bantuan.  “Aku kemari untuk membantumu!” Itulah ucapan Arial ketika ia tahu bahwa Rio tidak melihat gelengan kepalanya tersebut. Rio mengadahkan kepalanya untuk menatap pada Arial, kemudian ia berucap dengan sangat tegas. “Bantu Bima! Dia juga adalah teman kita!” Rio mengucapkan itu dengan keras ketika mendengar ucapan yang Arial ucapkan padanya. Arial cukup terkejut dengan bentakkan tersebut, kemudian ia mendecis dan berlari untuk membantu Bima, meninggalkan Rio tanpa berucap sepatah kata apapun.   Dar! James terkejut ketika ia mendengar suara letupan senjata dari arah lain dan ia yakini tertuju pada lawannya. Kemudian ia melirik pada Yahmar yang sudah berdiri di ambang pintu masuk dengan senjata yang menodong pada lawan mereka itu. “s**t! Apa yang dia lakukan disini?!” James menggerutu ketika melihatnya, bukankah Yahmar adalah seseorang yang harus mereka lindungi? Mengapa dia justru datang kemari dan membantunya? “Aku datang untuk membantumu, bodoh!” Yahmar berteriak saat gerutuan dari James terdengar jelas olehnya. Dar! “Aku tidak membutuhkan itu!” James kembali berteriak, dan Yahmar menghela nafasnya saat ia mengisi amunisi dari handgun miliknya. Namun saat itu ia teringat bahwa handgun miliknya bukan handgun biasa… itu adalah LsMltf-01 milik Luis. Yahmar tersenyum kemudian ia mengganti modenya menjadi Shoot Minim Boom. Saat James berhenti menembak lawan karena perlu mengisi amunisi, saat itulah Yahmar keluar dan menembakkan shoot minim boom pada lawan yang menyebabkan terjadinya ledakkan kecil di depan mereka. Tidak adanya tembakan balasan, membuat James segera keluar dari tempatnya untuk mengecek keadaan lawan. Ia mengangkat tangan untuk memberikan isyarat pada Yahmar agar tetap diam di tempat, dan Yahmar mengikuti perintah tersebut. James berjalan dengan handgun yang masih di pegangnya, sementara Yahmar berdiri di belakang sana dengan posisi siap membidik. Ia berjaga-jaga jika lawan mereka hanya berpura-pura terluka. “Clear!” James berteriak, memberikan isyarat bahwa lawan mereka telah berhasil di lumpuhkan. Yahmar mengangguk dan mengajak Samuel agar pergi dari gedung tersebut menuju tempat dimana Matt dan Bima berada saat ini. Saat Yahmar dan Samuel berjalan melewati James yang berada di hadapan lawan mereka yang tengah tak sadarkan diri itu, keduanya sempat menengok untuk melihat wajah lawan mereka. Namun kemudian sebuah tangan menahan langkah Yahmar, membuatnya melirik pada sang pemilik tangan tersebut. “Lepaskan aku, James!” Yahmar berucap pada James yang mencengkram lengannya. Samuel terdiam ketika keduanya saling menatap dengan tajam, seakan ingin membunuh satu sama lain. “Sudah kukatakan untuk diam di tempatmu! Apa yang kau lakukan sekarang?! Apakah kau tidak mengerti jika situasi saat ini karena keselamatanmu?!” James sedikit berucap dengan nada yang meninggi pada Yahmar. Memang terkadang keputusan lelaki itu selalu membuatnya jengah, hingga tak ayal ia menegurnya. “Aku dan Samuel akan menyelamatkan Matt! Dia tertembak dan membutuhkan dokter!” Yahmar menjawab ucapan tersebut  dengan singkat, karena menurutnya beragumen saat ini bukanlah saat yang tepat. “Biarkan Samuel yang pergi kesana sendiri, dan kau lebih baik diam disini kareka kita belum mengetahui berapa jumlah mereka.” James menatap pada Samuel, dan Dokter itu mengangguk. Ia melangkah hendak menuju tempat dimana Matt berada, namun langkah tersebut terhenti ketika suara Yahmar kembali terdengar. “Aku tidak akan membiarkan Samuel sendiri!” Yahmar melepaskan tangan James yang kuat itu dengan tenaga yang ia miliki, “Aku dapat mengerjakannya sen…” “Dia seorang Dokter, James! Aku tidak bisa membiarkannya terluka sedikitpun karena dia adalah dokter satu-satunya yang kita miliki dalam tim ini. Jika dia mati! Maka kita semua tidak akan ada yang terselamatkan!” Ucapan tersebut mampu membuat James ataupun Samuel terdiam, bahkan Gantara yang mendengarnya melalui sambungan pun bungkam. Ucapan yang Yahmar ucapkan ada benarnya, tetapi mereka juga tidak dapat membenarkan keputusannya yang gegabah dan penuh resiko itu. “Bergegaslah mengikat lawan! Biarkan Luis yang mengambilnya menggunakan mobil nanti. Dan kau pergilah bersama Yahmar juga Dokter Samuel!” James mengangguk ketika mendengar jalan keluar yang Gantara berikan padanya. Ia segera mengeluarkan borgol yang terbuat dari besi yang sangat berat, memakaikan itu untuk mengikat sang lawan pada kedua tangan dan kakinya. Kemudian James mengambil senjata yang dibawa oleh lawannya, ia berbalik menatap Yahmar dan Samuel. Mengajak mereka untuk segera menuju tempat dimana Matt dan Bima berada.   “Hhh… Hhh…” Dar! Dar! Dar! Dar! Rio kembali mendengar suara tembakan yang saling bersahutan di depan sana, ketika ia berusaha mengatur nafasnya. Saat ini ia merasakan kepalanya sangat pusing, telapak tangan dan kakinya terasa dingin. Ia tahu bahwa dirinya tidak bisa memaksakan reaksi tubuhnya itu, tetapi ia juga tidak ingin menyerah pada semua trauma tersebut. “Rio!” Terdengar suara Luis yang memanggilnya dari balik mikro earphone, kedua mata Rio sudah ingin memejam ketika itu. Tetapi suara Luis yang terus memanggilnya, membuat dirinya tetap dalam kesadaran itu. Kemudian Rio yang sudah kehilangan setengah kesadarannya itu pun mengeluarkan sebuah tabung oksigen yang ada di dalam tasnya dan mulai menggunakan itu sebagai alat bantu untuk dirinya. Ia juga mengeluarkan sebuah obat penenang berupa Beta-Blockers yang disiapkan Samuel untuk menangani infark miokard atau serangan jantung yang bisa saja terjadi pada orang-orang di sekitar mereka. “Ksskkk… Good job!” Saat Rio sudah meminum obat tersebut dan terduduk dengan oksigen yang terpasang pada dirinya, ia mendengar Gantara memberikan ucapan padanya. Rio mulai tenang karena efek obat tersebut, namun tubuhnya masih lemas sehingga ia terdiam berusaha meminimalisir apapun yang akan kembali ia rasakan. “Ksskkk… Luis akan menjemputmu setelah menjemput orang yang sudah berhasil di tangkap oleh James. Dan Rio…” Rio dapat mendengar semuanya dengan jelas, ia tidak menjawab ucapan Gantara padanya tersebut dan lebih memilih menunggu ucapan Gantara yang belum terselesaikan itu. “Ksskkk… Tenanglah! James, dan Yahmar sudah membantu Bima menangani orang tersebut.”  Dan ketika mendengar informasi tersebut, Rio mulai dapat bernafas dengan lega. Dia pun memjamkan matanya dan kehilangan kesadaran tepat di saat Gantara memanggil namanya untuk ketiga kali.  To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN