Pasca Trauma

1537 Kata
“Aku membutuhkan dokter!” James yang masuk kedalam sebuah rumah sakit berteriak seraya membawa Matt dalam gendongannya, sementara Luis kembali mengendarai mobil itu untuk memastikan apakah Arial sudah di larikan ke rumah sakit oleh mobil yang lain atau belum. Seorang dokter dan perawat berlari menghampirinya, beberapa dari perawat itu mendorong brankar untuk membawa Matt lebih cepat kedalam ruang tindakkan. James ikut berlari mendorong brankar dan terdiam ketika mereka masuk kedalam ruangan. “Presiden dikabarkan telah selesai menjalani operasi, dan pihak dokter mengatakan bahwa…” James melirik pada layar yang terpampang di rumah sakit tersebut, banyak orang yang terlihat penasaran dengan kabar dari presiden baru mereka. James melirik ke arah beberapa orang yang ternyata sedang menatapnya, kemudian ia baru menyadari bahwa dirinya menggunakan seragam W.A.E yang telah kotor dan robek di beberapa bagian. “Aih…” James membuang nafasnya dengan berat ketika ia merasa seperti seseorang yang ketahuan basah oleh orang-orang bahwa dirinya adalah salah satu agen yang baru saja melawan pemberontak di acara pidato kepresidenan beberapa saat yang lalu. Namun meskipun begitu, James berusaha untuk terbiasa dan mengabaikan orang-orang yang melihatinya tersebut. Kemudian James melirik ke arah sebuah mobil yang terpakir di depan sana. Ia tahu bahwa mobil itu membawa Arial dari wilayah The first defiance of gravity. James berlari dan mendorong sebuah brankar yang ada disana untuk membantu teman-temannya tersebut. Bima segera mengangkat Arial dan menidurkannya di atas brankar kemudian mereka mendorong brankar itu untuk masuk kedalam. “Perawat!” James berteriak pada seorang perawat yang sedang berjalan di hadapannya, kemudian ia membantu mereka dan mendorongnya masuk kedalam ruang tindakkan yang lain. Luis, Bima, dan James terdiam begitu pintu tersebut tertutup, sedangkan Samuel yang memang seorang dokter, masuk ke dalam sana bersama para perawat yang lain. Luis duduk di sebuah kursi yang di sediakan disana dengan lelah, ia lelah karena hal yang ia lakukan ini lebih dari apa yang biasa ia lakukan pasca dirinya terserang Txc-71. Bima melirik padanya dan bertanya, “Dimana Rio?” dan pertanyaan tersebut membuat Luis teringat dengan salah satu anggota tim lainnya, sahabatnya itu. Ia melirik pada Bima dan James dengan kedua bola mata yang melebar. “Dia bersama…” Luis tidak meneruskan katanya ia hanya terdiam menatap kedua lelaki yang tengah panik karena dirinya itu. “Astri dan Jina!” Mata kedua laki-laki itu melebar mendengar jawaban dari Luis, ia tertawa dengan pelan karena merasa berhasil telah menipu keduanya sehingga mereka terlihat begitu panik. “Apa maksudmu dengan Astri dan Jina? Mereka ada di sini?” tanya Bima, lelaki itu berdiri dari tempat duduknya dan menatap pada Luis dengan serius sekarang. Bukankah ini adalah kondisi yang membahayakan jika kedua wanita itu terjun langsung ke lapangan? Mengapa dirinya tidak diberi tahu sama sekali oleh pihak W.A.E maupun Luis. “Ow, tenanglah Bima! Astri dan Jina berada di salah satu hotel di pusat kota, dan pihak atasan organisasi… Ah, maksudku Jason. Telah menjamin keamanan mereka. Biarkan para gadis itu menenangkan Rio!” Luis segera menenangkan Bima yang terlihat marah padanya karena tidak adanya informasi yang diberikan mereka padanya, sementara James hanya mengangguk-angguk dan kembali terdiam menunggu dokter keluar dari ruang tindakkan. “Bagaimana dengan Matt?” James mengangkat wajahnya ketika ia mendengar Bima bertanya padanya. James menggelengkan kepalanya, dan mengatakan bahwa dokter belum selesai dari tugas mereka. “Belum ada kepastian.” Bima mengangguk, dan ketiganya kini terdiam menunggu hasil dari tindakkan dokter pada kedua teman mereka yang terluka itu.   Rio membuka matanya dengan perlahan, dan melihat sebuah langit-langit yang berwarna putih itu. Kemudian ia melirik ke arah kanan dan kiri, memastikan dimana keberadaannya saat ini setelah ia hanya dapat mengingat kejadian terakhir di saat ia berusaha menenangkan dirinya sendiri dengan meminum sebuah obat berjenis Beta-Blockers. “Kau siuman?” Sebuah suara lembut yang ia kenal, terdengar menanyakan kabarnya. Membuat Rio melirik pada Jina yang berjalan menghampirinya dengan segelas minuman yang ia pegang. “Jina? Kenapa kau ada di sini?” Itulah pertanyaan yang langsung Rio tanyakan ketika ia kebingungan mendapati wanita itu berada di dalam satu ruang yang sama dengannya. Rio terdiam sejenak ia kembali berpikir apakah dirinya sudah di kirimkan kembali ke markas W.A.E? “Kami kemari ketika Jason memerintahkan kami, saat kalian berseteru dengan Matt.” Rio melirik pada Astri yang menjawab pertanyaan tersebut, wanita itu ternyata saat ini sedang duduk di sofa yang berada di dalam ruangan tersebut. Rio berusaha bangkit dari posisinya dan bersandar pada sandaran kasur, menatap kedua wanita itu. “Minumlah!” Jina memberikan gelas yang tadi di pegangnya pada Rio. Lelaki itu mengangguk dan minum dengan perlahan karena tidak ingin tersedak. Dan ketika ia mengingat teman satu timnya, Rio berhenti untuk meneguk minuman tersebut. Ia menatap pada Jina dan Astri yang melihatinya dalam diam. “Ada apa?” Tanya Jina, menyadari sikap diam Rio yang tidak biasa. “Dimana yang lainnya? Apakah mereka…” “Mereka sedang di rumah sakit, Rio. Matt, Arial dan Yahmar telah di kirim ke rumah sakit, jadi tenanglah.” Rio menyipit ketika Jina menjelaskan apa yang ingin ia ketahui, ia terkejut saat mendengar nama-nama yang tidak pernah ia duga. Ia tidak menduga jika Yahmar dan Arial juga akan terluka, dan hal itu membuat Rio segera bangkit dari posisinya, menyebabkan keterlambatan udara yang seharusnya mengalir ke otak sehingga kini ia merasa begitu pening. “Kau tidak seharusnya turun dari ranjangmu!” Jina yang segera membantu Rio agar tidak terjatuh itu mengomel padanya. Sedangkan lelaki tersebut hanya menyunggingkan sebuah senyuman yang samar. “Aku harus menemui mereka!” Rio mengatakan hal tersebut pada kedua wanita yang ada di dalam kamar itu. Jina melirik pada Astri, menanyakan apa yang harus mereka lakukan. Sementara Rio berjalan menuju sebuah meja dimana tas dan senjatanya tergeletak. Astri berdiri dari tempatnya dan menghampiri Rio yang sibuk memasukan senjata-senjata miliknya ke dalam tas. Sebuah tangan menghentikan kegiatan Rio tersebut, membuatnya menatap pada Astri yang sudah berdiri di sampingnya. “Tunggu Rio! Kau memerlukan istirahat, dan biarkan saja mereka disana. Aku yakin tidak akan terjadi hal buruk pada Matt, Yahmar dan Arial.” Astri berucap, ia dan Jina mengkhawatirkan kondisi tubuh Rio pasca mengkonsumsi obat Beta-Blockers itu. “Aku tidak bisa, Astri! Aku harus menemui mereka dan berkumpul sebagai seorang anggota tim.” Rio menolak ucapan yang di berikan Astri padanya, kemudian ia mengangkat tas tersebut ke atas punggungnya. Namun Astri menarik tas tersebut dengan kencang hingga suara tas jatuh terdengar dengan kencang di seluruh ruangan itu. Rio menatap tajam pada wanita yang tak kalah menatapnya dengan tajam itu. “Kami di tugaskan untuk membantu kalian di sini, dan Gantara mengatakan bahwa kau harus beristirahat, Rio! Kau tidak bisa membantu mereka jika kondisi mentalmu seperti ini.” Jina angkat bicara ketika ia merasa bahwa kedua temannya itu akan terlibat ke dalam sebuah pertengkaran yang serius. Rio melirik pada Jina yang masih berdiri di tempatnya tersebut, “Aku tidak sakit!” Jawabnya dengan penuh penekanan. “Kau sakit Rio! Trauma adalah hal yang serius yang dapat mengganggu misi ini.” Kali ini Astri menimpali ucapan Jina, yang membuatnya kembali mendapatkan tatapan tajam dari lelaki itu. Astri hanya mampu menghela nafasnya dengan pelan, dan berusaha untuk menurunkan tensi yang ada. “Kumohon Rio! Dengarkan kami dan beristirahatlah. Kau benar-benar memerlukan hal itu untuk saat ini, dan berikan semua tanggung jawab ini pada anggota lainnya yang masih bertahan.” Astri mencoba membujuk Rio dengan lebih lembut, ia memengang lengan lelaki itu dan berharap hal itu dapat berhasil untuk membujuknya. Tetapi Rio tetaplah Rio, ia tetap lelaki yang keras kepala yang tidak akan dengan mudahnya terbujuk oleh hal lembut sekali pun. Sehingga saat mereka terdiam untuk menunggu jawaban Rio, lelaki itu memilih untuk menyingkirkan tangan Astri dari lengannya dan kembali mengambil tas yang sudah tergeletak di atas lantai tersebut. “Maafkan aku Astri, Jina. Tapi ini masih bagian dari misi milikku, dan aku tidak akan meninggalkan misi sebelum aku mati.” Kedua wanita itu terdiam saat Rio bergegas keluar dari kamar tersebut, Jina segera mengemasi barang-barangnya dan berseru pada Astri. “Astri! Ayo cepat! Kita tidak bisa membiarkannya sendirian saat ini.” Astri mengangguk dan mengambil seluruh barangnya. Kedua wanita itu pun berlari keluar dari kamar menuju lobby hotel untuk mengejar Rio. “Rio!” Astri dan Jina memanggil lelaki yang berjalan keluar hotel tersebut. Rio yang mendengar dirinya telah terpanggil pun menengok ke arah belakang, dimana Astri dan Jina berlari menghampirinya. Keduanya terengah-engah ketika sampai di hadapan lelaki ini, “Hh… Hh… Bawa kami bersamamu!” Jina berucap sambil terengah-engah, ia mendongak untuk menatap Rio yang melihati keduanya dengan khawatir. Rio membantu keduanya menaikan tas mereka ke dalam mobil dan membukakan pintu itu untuk kedua wanita tersebut seraya berucap, “Kalian tidak perlu berlari hingga seperti ini, cukup hubungi aku melalui talkie box dan aku akan menunggu kalian.” Jina menggelengkan kepalanya menolak ide yang sudah tidak berguna tersebut. “Aku tidak yakin kau akan mendengarkan kami di saat seperti ini.” Rio hanya mampu terekeh kecil saat mendengar ucapan dari mulut Astri tersebut, memang benar… Dirinya mungkin tetap tidak akan mendengarkan apa yang dikatakan oleh kedua wanita itu jika mereka hanya menghubunginya melalui talkie box. Rio mengendarai mobil itu menuju salah satu rumah sakit terdekat yang sudah di cek oleh Jina, disanalah ketiga teman mereka menjalani tindakkan.  To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN