Alibi

1400 Kata
Bima dan Luis yang masuk ke dalam ruang rawat Arial hanya mampu terdiam menunggu kesadaran teman mereka. Luis melirik pada Bima yang terlihat mengotak-atik layar virtual milik Arial yang sebelumnya lelaki itu gunakan. “Apa yang kau cari, Bima?” Tanya Luis pada akhirnya. Lelaki itu merasa penasaran dengan apa yang di kerjakan oleh Bima, karena Bima begitu terlihat serius dalam memasukan kode-kode dan menggerakan layar virtual tersebut. “Aku mencari siapa yang memberikan perintah pada orang-orang ini!” Sahut Bima seraya masih berkutik dengan layar virtual tersebut. Luis semakin penasaran dengan hal itu, dan bangkit dari posisinya untuk ikut melihat apa yang tertera pada layar virtual milik Arial itu. “Apa kau bisa melakukannya?” Luis tidak meremehkan Bima, dia hanya bertanya dan memastikan meski ia tahu Bima akan dapat melakukan hal tersebut. Bima tidak menjawabnya, ia hanya mengangguk dan menekan tombol enter. Kemudian muncullah sebuah line sambungan yang menghubungkan para pelaku dengan seseorang yang juga telah terhubung dengan satu orang lainnya. Berarti secara tidak langsung, si pelaku utama tidak ingin terlacak dengan mudah sehingga ia membuat sebuah rekayasa yang menunjukkan bahwa pelaku utama di kasus ini bukanlah dirinya. “Dia ingin membuat sebuah alibi?” Luis melirik pada Bima yang kini juga menatap padanya. Keduanya kembali melihat pada layar virtual tersebut dan ketika line sambungan itu terhenti, layar virtual tersebut secara otomatis memproses siapa yang ada di balik sambungan tersbut. Tiga orang pelaku di lapangan satu per satu data pribadinya terbuka pada layar virtual itu. Dimulai dari nama, umur mereka, pekerjaan tetap, bahkan alamat rumah mereka. Selanjutnya layar tersebut kembali memproses orang di balik ketiga pelaku di lapangan. Yang ia pun memiliki seorang atasan lagi yang menyuruhnya, sehingga ia hanya seorang pesuruh yang sama seperti posisi tiga orang sebelumnya.  Ketika pelaku itu terungkap, kini tinggal pelaku utamalah yang di proses oleh layar virtual tersebut. Giliran yang ketiga ini memakan waktu yang cukup lama, sehingga membuat Luis membuang nafasnya dan berjalan untuk mengambil air minum untuk dirinya sendiri. “Verdammt!” Luis segera berjalan dengan cepat melihat pada layar virtual yang sempat membuat Bima mengumpat seperti itu. *Verdammt berarti Damn, atau sialan dalam bahasa Jerman. “Siapa?” Luis pun melihat data siapa yang muncul di layar tersebut. Mata Luis membulat ketika ia melihat data dari orang yang sangat ia kenali… Di sana ia melihat data dari Elena, seorang atasan Organisasi We Are Earth. “Elena?” Tutur Luis, ia merasa tubuhnya lemas ketika ia mengetahui kenyataan tersebut. Ia juga seketika merasa kehilangan fokusnya dan bertingkah seperti orang yang bingung. Bima segera berdiri dan menghentikan langkah Luis yang mondar-mandir karena terkejut sekaligus tidak percaya. “Luis!” Tegur Bima pada lelaki itu, membuat temannya tersebut berhenti dan menatapnya dengan kebingungan. “Kita akan cari tahu kepastian ini! Okay?” Bima memberikan sebuah usulan yang dapat menenangkan lelak itu. Sebuah anggukkan kecil Bima terima dari Luis, dan setelahnya ia segera membawa layar virtual itu keluar dari ruangan tersebut. “Tunggulah disini, aku akan membicarakan semua ini dengan James dan Samuel!” Luis mengiyakan perintah tersebut dan duduk di samping Arial dengan tidak tenang. “Apakah selama ini kita berada di pihak yang salah, Arial?” Ucap Luis seraya menatap pada Arial yang belum sadarkan diri. Lelaki itu meremas rambutnya frustasi, meskipun Bima mengatakan dirinya untuk tetap tenang tetapi Luis tidak bisa untuk melakukan itu, hatinya gelisah mengetahui salah satu atasan organisasi adalah seorang pengkhianat. Gantara duduk di kursi yang ada di samping ranjang rawat Yahmar, ia tetap menunggui agar teman sekaligus presidennya itu terbangun. Gantara tetap dengan continue melaporkan keadaan yang sedang mereka hadapi pada pihak We Are Earth di pusat. Sebuah pesan tiba-tiba masuk saat dirinya tengah bersiap menyambut Elena dan beberapa anggota We Are Earth lainnya yang mengatakan bahwa mereka akan mengunjungi Yahmar dan membawa mereka kembali ke markas untuk sementara waktu. ‘Important message!!’ Gantara mengerenyitkan dahinya ketika ia membaca subjek dari pesan yang dikirimkan oleh James tersebut, ia segera membukanya karena takut-takut itu menyangkut kondisi Matt maupun Arial. “What is… This!” Gantara bergumam tidak percaya ketika ia melihat isi pesan yang dikirimkan padanya tersebut. ‘Gantara! Kami tidak bisa membuatmu yakin kepada kami mengingat kita berada di lantai yang berbeda, sehingga kita tidak bisa membuktikannya sekarang. Tetapi jika kau melihat pesan ini, segeralah bawa Yahmar keluar dari ruangan itu! Jangan biarkan Elena dan anggota yang ia bawa kesini bertemu dengannya, karena ternyata dialah pelaku di balik semua kejadian hari ini.’ Gantara membatu untuk sesaat, kemudian ia melirik ke arah jam yang menunjukkan pukul 2, sepuluh menit sebelum Elena dan anggota lainnya sampai di rumah sakit. Gantara segera berlari dan mengangkat Yahmar, untuk mendudukannya di sebuah kursi roda. Gantara menggunakan sebuah hologram 3D yang ia pasang untuk menggantikan Yahmar di atas ranjang tersebut, kemudian ia mengenakan sebuah pakaian hologram pada Yahmar seraya menyembunyikan selang infus nya. “Ksskkk… Gantara?” Sambungan Talkie box milik Gantara menyala dan ia mendengar suara James di balik sana. “Terlalu banyak wartawan disini! Bagaimana caraku membawa Yahmar keluar dari ruangan ini?” Tanya Gantara ketika ia teringat dengan puluhan wartawan yang menunggu sang Presiden, meski beberapa dari mereka sudah pulang. “Jendela!” Gantara mengerenyitkan dahinya ketika ia mendengar James mengatakan jendela padanya, kemudian ia melirik ke arah jendela yang ada di dalam ruangan itu. Ia melihat siluet  seseorang tengah berusaha mengetuk jendela yang berada di lantai empat puluh tersebut. Gantara membelalakan matanya dan berlari ke arah jendela untuk membukanya. “Bima?!” “Sssttt! Bawalah Yahmar kemari, dan kau tetap disini. Sampai saat dimana Elena memintamu untuk keluar, cepatlah berlari ke lantai lima belas! Kami semua menunggu mu disana, dan pelacakmu akan kami matikan begitu kau berlari, okay?” Gantara mengerti dengan perintah itu, ia mengangkat Yahmar dan memberikannya pada Bima yang saat ini tergantung dengan sebuah tali kawat yang ia yakin merupakan sebuah barang ciptaan Luis, mengingat tali tersebut terlihat sangat tipis namun ternyata dapat menanggung beban berat. “Tetaplah tenang!” Gantara mengangguk dan menutup jendela tersebut, tepat di saat pintu ruangan terketuk tiga kali. Gantara segera berbalik dan setenang mungkin untuk membuka pintu tersebut, dan menyambut Elena serta anggota We Are Earth yang lainnya.   Gantara membukakan pintu ruangan tersebut ketika Elena dan para anggota We Are Earth yang di tugaskan datang bersamanya untuk melihat keadaan Yahmar. “Apakah dia belum sadar?” Elena masuk ke dalam ruangan tersebut dan menatap pada Yahmar yang masih tertidur di atas ranjangnya, kemudian ia duduk di sebuah sofa yang ada didekat pintu. Elena menghembuskan nafasnya dengan pelan menghadapi kenyataan seperti ini, sementara para anggota lainnya termasuk Gantara memilih untuk berdiri dengan sikap siap mereka. “Apakah kau sudah melihat keadaan Matt dan Arial?” Elena menatap pada Gantara yang berdiri di antara anggota lainnya. Lelaki tu menggelengkan kepalanya, sebenarnya ia sangat ingin melihat keadaan kedua temannya yang lain. Tetapi jika ia meninggalkan Yahmar sendirian tadi, ia takut pihak musuh akan menggunakan kesempatan itu. “Aku tidak bisa meninggalkan Yahmar sendirian, Elena.” Jawab Gantara, Elena pun mengangguk setuju dan bersandar pada sofa tersebut. “Tengoklah mereka, dan pastikan tidak ada hal buruk yang menimpa mereka! Tenanglah, ada aku dan anggota lainnya yang akan menunggui Yahmar.” Elena tersenyum pada Gantara dengan lebar. Gantara yang akhirnya mendapatkan izin tersebut pun mengangguk dan memberikan hormat pada Elena sebelum akhirnya berjalan keluar dari ruangan tersebut. Senyuman di wajah Elena memudar seketika setelah pintu itu tertutup. Ia berdiri dari tempatnya dan mengambil sebuah handgun dari dalam tasnya, sementara para anggota yang menggunakan seragam organisasi We Are Earth itu memasang tubuh mereka untuk menghalangi siapapun yang akan mendobrak pintu untuk masuk. “Kerjamu menjadi pemimpin sangatlah bagus, Yahmar… Tetapi maaf, We Are Earth harus berakhir disini!” Dar! Dar! Dar! Elena melepaskan tiga kali tembakan beruntun pada Yahmar yang terbaring disana. Matanya melebar ketika menyadari bahwa yang ia tembaki bukanlah sang Presiden, tetapi sebuah hologram 3D yang ditempelkan pada sebuah bantal dan dua buah guling yang menjadikan objek tersebut sebagai Yahmar dan ditutupi oleh sebuah selimbut. “Lacak mereka!” Elena membentak pada anggota yang memihaknya, salah satu diantara mereka segera mengeluarkan layar virtual dan melacak keberadaan Yahmar, Gantara serta anggota lainnya yang berada dalam satu komando, yaitu anggota tim Matt. “Keberadaan mereka tidak di ketahui!” Jawab orang yang bertugas sebagai information system itu. Elena geram, ia membanting senjata yang ia pegang dan mendorong meja rawat yang ada di samping ranjang tersebut.  To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN