POV LUCIO
Kamar mandi berlapis marmer hitam ini menjadi saksi bisu permainan kecilku sendiri.
Aku duduk di kursi roda, menatap pantulan wajahku di cermin besar. Wajah yang tampak tenang, tapi penuh amarah yang tak tersampaikan.
Sudah berbulan-bulan aku tidak membiarkan siapa pun mendekat sejauh ini.
Tapi hari ini, aku membiarkan Nadia.
Dia datang seperti anak kecil yang takut mendekati binatang buas. Tangannya gemetar saat menyentuh kancing kemejaku. Aku bisa merasakan ujung jarinya menyentuh kulitku.
Lembut dan sangat halus.
Saat kain kemejaku terlepas perlahan dari tubuhku, siapa sangka ... aku bisa merasakan sesuatu yang tidak seharusnya kurasakan.
Tubuhku, yang selama ini dingin dan beku, bereaksi.
Lebih tepatnya, inti tubuhku menegang.
Aku bahkan harus berdiam sejenak untuk memastikan kalau denyut halus yang kurasakan itu benar-benar bisa menabrak batas yang selama ini aku anggap hilang.
Astaga ... ini tidak mungkin.
Aku menunduk sedikit, tapi segera mengangkat kepala.
Tidak ... ini pasti hanya refleks.
Hanya sugesti karena aku sudah terlalu lama hidup tanpa sentuhan manusia.
Tanpa sentuhan istriku lebih tepatnya.
Namun, saat Nadia berjongkok di hadapanku, lalu menarik celanaku dengan gerakan gugup tapi hati-hati, aku tidak bisa berpura-pura lagi.
Inti tubuhku benar-benar bereaksi.
Memang tidak sekuat dulu, tapi ini cukup untuk membuatku sadar bahwa sesuatu di dalam diriku belum benar-benar mati.
Milikku akhirnya kembali mengeras.
“Sudah, Tuan. Silakan mandi,” ucapnya pelan dengan suara nyaris bergetar.
Aku menatap punggungnya yang tegap tapi kaku, lalu perlahan berkata, “Siapkan bajuku!”
Dia menunduk dan berlalu.
Langkahnya cepat, seolah takut udara dingin di ruangan ini akan menelannya hidup-hidup.
Dan begitu pintu kaca buram tertutup, aku mendongak, menatap langit-langit kamar mandi.
Ada rasa getir di tenggorokanku.
Dulu aku benci kelemahan.
Sekarang, aku hidup di dalamnya. Dan hari ini, aku menyadari — kelemahan itu justru mulai punya bentuk, wujud, dan nama.
Nadia Angelica.
Katika aku mendengar langkah Nadia memudar di lorong, aku tersenyum kecil, tipis.
Senyuman yang hanya muncul ketika aku mendapatkan sesuatu yang sudah lama kuincar. Suara sepatu murahnya seperti gema yang menenangkan, mengingatkanku bahwa rencana kecilku akhirnya berhasil.
Gadis asia mungil itu akhirnya sekarang ada di dalam rumahku.
Di bawah pengawasanku.
Dan tanpa dia sadari, setiap langkahnya di tempat ini sudah kuatur seperti bidak dalam permainan yang tak bisa ia menangkan.
Aku memejamkan mata sebentar, mengatur napas, mencoba menenangkan denyut tak wajar yang tadi sempat mengganggu kendaliku. Namun, ketika kuingat kulitnya yang bersentuhan dengan kulitku, bahkan hanya sesaat, ada sesuatu yang bergerak.
Bahkan istriku pun tak berhasil membuat semuanya kembali normal. Namun, gadis itu malah berhasil menyalakan sesuatu yang seharusnya sudah padam selamanya.
Aku menatap pantulan diriku di cermin besar di hadapan wastafel. Sosok yang menatap balik bukan pria yang kukenal.
Rahang tegang, mata biru dingin, tapi ada api samar di balik ketenangan itu — api yang dulu pernah kubunuh, kini mulai hidup lagi.
“Bagus sekali, Lucio,” gumamku sendiri. “Kau benar-benar sedang bermain api.”
Aku menggeser kursi roda perlahan ke arah pintu kaca. Tanganku yang berotot tapi mulai kaku menekan roda dengan irama stabil. Setiap gerakan terasa berat, tapi di dadaku ada sesuatu yang ringan. Perasaan puas, karena tahu bahwa permainan ini berjalan sesuai rencana.
Dulu, aku hanya ingin membuktikan sesuatu, bahwa aku masih berkuasa. Bahwa meski terkurung di tubuh yang rusak, aku masih bisa mengendalikan orang lain, terutama perempuan yang dulu sempat kuinginkan dalam diam.
Tapi kini, aku tak yakin. Entah aku yang menjebaknya … atau aku yang perlahan terjebak oleh kehadirannya.
Aku berhenti di depan cermin sekali lagi. Senyumku merekah samar, nyaris tak terlihat, tapi cukup untuk membuat bayanganku tampak hidup. Lalu aku memanggilnya lagi.
"Nadia." Suaraku tidak keras, tidak juga mendesak.
Hanya satu kata saja yang kucapkan pelan, tapi cukup untuk membuat gadis mungil itu buru-buru berlari mendekati ke pintu.
Pintu kaca buram itu berderit pelan saat dia masuk lagi. Kali ini, auranya lebih tegang dari sebelumnya.
"Ada apa, Tuan?" tanyanya, suaranya kini benar-benar bergetar.
Dia tidak menatapku, tapi tatapannya terpaku pada ubin marmer hitam di samping kursi rodaku, seolah lantai itu menyembunyikan rahasia besar mengenai apa yang sedang dia rasakan saat ini.
“Ambilkan baju ganti dan bantu aku memakainya!" ujarku datar.
Aku tidak meminta bantuan, aku menyatakan fakta yang tak terbantahkan. Sebuah paksaan halus. Lalu, aku bisa merasakan tatapannya yang tertahan itu, akhirnya naik sedikit. Dia melihat bahu dan punggungku yang telanjang, lalu buru-buru memalingkan wajah.
Reaksi yang ... jujur. Dan itu sedikit membuatku ingin tersenyum karena dia terlihat sangat menggemaskan.
Dia berjalan mendekat, mengambil kemeja dengan tangan yang sedikit gemetar. Gerakannya kaku, sangat berhati-hati agar tidak menyentuh kulitku sedikit pun. Sebuah pemandangan yang menarik. Dia seperti sedang menghadapi jebakan.
"Angkat sedikit," perintahku saat dia mencoba menyelipkan lengan kemeja ke lengan kananku.
Jarak kami sekarang sangat dekat, hingga aku bisa mencium aroma parfum yang dia pakai di tangannya, bercampur dengan aroma samar tubuhnya sendiri.
Aroma manis vanilla dan ketakutan.
Nadia menarik napas dalam, dan dengan gerakan yang lebih berani dia meraih lenganku dan mengangkatnya pelan. Ujung jemarinya menyentuh kulitku. Bukan sentuhan yang sensual, hanya sentuhan biasa.
Namun, entah mengapa, sentuhan itu mengirimkan gelombang listrik samar ke seluruh tubuhku.
Denyutan yang kurasakan di bawah sana kembali terasa, memaksa otot-ototku menegang. Aku menggertakkan gigi, berusaha keras menjaga ekspresi wajahku tetap dingin dan tidak terbaca. Aku tidak boleh membiarkan dia tahu betapa dia sudah bisa mempengaruhiku sejauh ini.
Kemeja itu kini membalut tubuhku, tapi kancing-kancingnya masih terbuka. Dia berdiri di hadapanku, membungkuk sedikit untuk mulai mengancingi. Tangannya berada persis di depan dadaku.
Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana napasnya tersendat setiap kali jari-jarinya yang cekatan menyentuh kain kemeja. Jari-jari lentik yang kecil itu bergerak cepat, seolah ingin segera menyelesaikan tugas dan menjauh dariku.
Namun, semakin dia terburu-buru, semakin gugup pula gerakannya.
Lucu sekali, dia sampai keliru mengancingi kemejaku.
Kancing kedua malah masuk ke lubang kancing yang ketiga, membuat garis kemeja di dadaku miring dan tidak rapi.
Wajahnya langsung memerah, dan aku bisa melihat butiran keringat halus di pelipisnya.
Benar-benar imut, pikirku.
Dia mendesis pelan, lalu buru-buru membuka kancing yang salah itu, tangannya yang gemetar menyentuh kulit dadaku sekali lagi, kali ini sedikit lebih lama.
Aku menahan senyum.
Permainan ini memang mengasyikkan.
"Kau gugup, Nadia?" ujarku, suaraku rendah dan nyaris berbisik. Aku tidak menuduh, aku hanya mengamati.
Dia mendongak sekilas, tatapan mata cokelatnya yang indah itu dipenuhi oleh rasa malu dan tegang. "Ma–maaf, Tuan. Saya ... saya kurang fokus."
"Kenapa? Apa ada sesuatu yang mengalihkan fokusmu? Hm?"
Aku memiringkan kepalaku sedikit, menatapnya lurus-lurus. Jarak wajah kami kini hanya beberapa jengkal. Aku bisa melihat pantulan diriku yang kaku dan tenang di matanya.
Dia menelan ludah, buru-buru menunduk lagi dan membetulkan kancing-kancing yang tersisa dengan gerakan yang lebih lambat dan hati-hati. Kehati-hatian yang menunjukkan dia berusaha menguasai dirinya.
"Tidak ada, Tuan," jawabnya setelah selesai dengan kancing terakhir. Suaranya kembali pelan, seperti bisikan angin.
Aku tidak menanggapi. Aku hanya membiarkan keheningan mengambil alih, membiarkan ketegangan yang diciptakan oleh sentuhan kami tadi menggantung di udara. Pemandangan Nadia yang berusaha keras menjaga ketenangan di depanku jauh lebih memuaskan daripada sekadar melihatnya takut. Begitu juga ketika dia begitu gemetar memakaikan celanaku.
Saat dia mundur selangkah, aku menangkap pergelangan tangannya. Hanya sentuhan singkat. Dia langsung membeku. Tubuhnya menjadi kaku seperti patung, dan matanya melebar karena terkejut.
"Terima kasih," kataku datar, melepaskan cengkeramanku sesaat kemudian. "Kau boleh keluar sekarang."
Nadia tidak membuang waktu. Dia membungkuk sedikit sebagai formalitas, lalu melangkah cepat menuju pintu, nyaris berlari keluar dari kamar mandi marmer hitam ini seolah baru saja lolos dari terali besi.
Aku menghela napas, menyentuh titik di pergelangan tanganku yang baru saja disentuh Nadia.
Setiap sentuhan, setiap rasa gugup yang dia tunjukkan, memberiku bukti tak terbantahkan.
Bahwa kontrolku tidak hilang.
Bahwa meski raga ini sudah lumpuh, jiwaku masih bisa memegang kendali, dan di atas segalanya, aku tahu, permainanku baru saja dimulai.
Nadia, si gadis mungil dari asia kini adalah bidak yang tidak akan pernah aku lepaskan.