bc

Gadis Tawanan CEO Lumpuh

book_age18+
375
IKUTI
1.0K
BACA
dark
forbidden
one-night stand
family
HE
fated
forced
opposites attract
second chance
arranged marriage
badboy
heir/heiress
blue collar
drama
tragedy
bxg
bold
city
office/work place
enimies to lovers
affair
friends with benefits
assistant
like
intro-logo
Uraian

“Dia hanya asisten. Tapi … dia berhasil membangkitkan sesuatu yang sudah lama mati dalam diriku.”— Lucio Devereux"Aku membencinya saat dia menyentuh tubuhku. Namun, di bawah ancamannya yang mematikan, aku hanya bisa pasrah menerima peran baruku : Gadis Tawanan CEO Lumpuh."—Nadia Angelica———Nadia hanyalah seorang karyawati biasa, seorang imigran yang berjuang keras menata hidupnya di Amerika. Dia selalu berusaha menjauhi segala bentuk masalah, tetapi takdir malah membawanya ke dalam pusaran kekuasaan dan nafsu atasannya sendiri.Satu kontrak mengubah segalanya, menyeret Nadia ke malam-malam yang membuat tubuhnya gemetar … antara takut dan tergoda, Nadia benar-benar terperangkap di dalam sangkar emas Lucio.Hal yang tak pernah Nadia bayangkan pun terjadi, Lucio ternyata mulai menginginkannya lebih dari sekadar tubuh.Padahal, Lucio telah beristri. Dan Nadia hanyalah rahasia yang tidak boleh diketahui siapa pun.Saat cinta, kebohongan, dan hasrat saling bertabrakan, hanya satu pertanyaan yang terus menghantui pikiran Lucio.Apakah mempertahankan Nadia atau membuangnya dan kembali ke pelukan istri sahnya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Chapter 1. Nadia Angelica
POV NADIA Rumah Tuan Lucio Devereux Tempat yang bahkan para karyawan senior di kantor tak berani datangi tanpa panggilan resmi. Tanganku berkeringat, memegang map biru berisi kontrak baru — kontrak yang secara tidak langsung menjeratku untuk bekerja di rumah pria yang paling ditakuti di perusahaan. Aku menelan ludah, menatap tulisan di bel pintu besi hitam itu. L. DEVEREUX Dingin. Tegas. Seperti pemiliknya. Mister George yang menyeretku ke sini. Dengan kata-kata manisnya yang terlalu sulit kutolak. “Gajimu naik dua kali lipat, Nadia. Bahkan lebih, kalau ... Tuan Lucio puas dengan kinerjamu.” PUAS Kata itu terus terngiang-ngiang di kepalaku sejak kemarin. Dan entah kenapa, semakin kuingat, rasanya semakin aneh. Aku menekan bell pelan. Satu. Dua. Tiga. Tapi tak ada jawaban. Baru ketika aku hendak pergi, pintu itu terbuka perlahan, menampakkan sosok pria berambut pirang, bermata biru dengan tatapan tajam yang dingin seperti menembus ke pikiranku. Wajahnya tampan dengan rahang tegas, kulit pucat khas orang eropa, dan hidung mancung sempurna. Tapi bukan ketampanan pria itu yang membuatku terpaku, melainkan auranya. Dia Lucio Devereux. Bos besar. Pria yang pelit senyum. Tatapan matanya turun perlahan, menelusuri tubuhku dari ujung kepala sampai sepatu pantofel murahan yang kupakai. Dia seolah sedang menilai dan mengukur. “Kau Nadia?” Suaranya dalam, sedikit serak, seperti sedang menahan sakit. Aku menegakkan punggung. “Iya, Tuan. Saya Nadia Angelica. Dari bagian arsip.” Dia mengangguk pelan, lalu menyandarkan tubuhnya di kursi roda. “George bilang kau bersedia membantuku bekerja dari rumah.” Nada suaranya terdengar datar, tapi mengandung tekanan halus yang membuat aku takut menatap matanya. “Ya, Tuan,” jawabku hati-hati. “Saya akan menjadi asisten pribadi Anda sementara, sampai Anda pulih.” Lucio menghela napas pelan. “Pulih ...?” ulangnya lirih. “Kata yang terlalu optimis.” Lalu, kursi roda otomatis yang dia duduki bergerak perlahan ke arah ruang tamu. Bunyi mesinnya nyaris tak terdengar, tapi setiap gerakannya tampak presisi, anggun, seolah disesuaikan dengan napasnya sendiri. Teknologi tercanggih, tentu saja — pantas dimiliki seseorang seperti Lucio Devereux. Aku mengikutinya dari belakang, langkahku bergema lembut di lantai marmer yang licin. Rumah itu terasa terlalu sunyi. Begitu luas, tapi terasa dingin, seolah tidak benar-benar ditinggali manusia. “Kau terbiasa bekerja di bagian arsip, ya?” Aku mengangguk. “Iya, Tuan. Saya biasa menyusun berkas-berkas lama.” “Bagus.” Kursi rodanya berhenti dengan lembut di depan ruang tamu yang besar. “Mulai sekarang, kau yang akan mengatur semua laporan mingguan. Aku tak suka berantakan. Segalanya harus tepat. Waktu, format, bahkan jarak antar paragraf.” Nada bicaranya seperti garis penggaris besi — kaku, lurus, tanpa ruang untuk kesalahan. "Baik, Tuan." “Tapi sebelum itu,” katanya lagi, dengan tatapan yang membuatku merinding. “Bantu aku ke kamar mandi dan siapkan pakaianku!” Aku spontan menegang. “Maaf, Tuan?” Lucio menaikkan sebelah alisnya. “Kau tuli, Nadia? Aku bilang bantu aku ke kamar mandi dan siapkan pakaianku!” Aku menatapnya tak percaya. “Tuan, pekerjaan saya adalah asisten pribadi Anda. Saya bukan perawat Anda.” Dia menatapku lama. Suasana jadi terasa berat. Lalu bibirnya melengkung sedikit — bukan senyum, tapi semacam ejekan halus. “Kau pikir aku minta kau memandikanku? Aku hanya tidak bisa berdiri lama. Kau cukup bantu aku melepaskan baju serta celanaku. Sisanya aku bisa sendiri.” Jantungku berdebar keras. Aku menggeleng cepat. “Saya rasa itu bukan bagian dari tugas saya, Tuan. Saya di sini hanya untuk mengerjakan pekerjaan kantor.” Lucio mencondongkan tubuh sedikit, mendongak menatapku. “Kau tahu apa yang terjadi pada orang yang menolak perintahku?” Aku menelan ludah. “Saya hanya—” “Kau akan kupecat.” Nada suaranya tenang, tapi bagiku itu sangat kejam. Aku menatap wajahnya, mata biru itu terasa menusuk seperti pisau dingin. Kursi rodanya bergerak sedikit mendekat, gerakannya halus tapi membuatku ketakutan hingga aku refleks mundur beberapa langkah. “Sekarang pilihlah! Kau ingin tetap bekerja bersamaku atau ingin mencari pekerjaan baru di luar sana?” tanyanya seolah menantang. “Orang asing sepertimu pasti akan sangat sulit mendapatkan pekerjaan baru. Apalagi visamu sudah waktunya diperbarui. Sementara tanpa pekerjaan, kau tak bisa bertahan di negara ini.” Tanganku mengepal. Dalam hati aku memaki George habis-habisan. Kenapa aku dengan mudahnya mau mengganti pekerjaanku yang terasa tenang dan nyaman di divisi arsip dan memilih menjadi asisten pribadi Tian Lucio? Aku menarik napas panjang, mencoba tetap tenang. “Baik, Tuan. Saya akan membantu Anda.” Lucio menatapku lama, lalu tersenyum tipis — senyum yang entah kenapa membuat aku kembali merinding. “Pintar. Ayo ikut aku!” Kursi roda Lucio bergerak halus, membawaku melewati lorong panjang dan dingin itu hingga akhirnya berhenti di depan sebuah pintu ganda. Dan pintu itu, bisa terbuka secara otomatis, hal itu jelas membuatku tercekat. Wow, luar biasa ... ini bukan kamar tidur. Ini adalah suite mewah. Ruangan itu begitu luas, didominasi oleh warna abu-abu dan biru tua. Jendela besar dari lantai ke langit-langit menyajikan pemandangan kota yang berkilauan. Di tengahnya, ada ranjang berukuran super king yang dilapisi sprei sutra abu-abu gelap, tampak dingin dan tidak tersentuh. Lalu, juga ada sebuah perapian modern di sudut ruangan memancarkan cahaya oranye lembut, satu-satunya sumber kehangatan di tengah kemegahan yang kaku ini. Lucio menggerakkan kursi rodanya melintasi karpet tebal yang empuk, menuju sisi kanan ruangan. “Kamar mandinya ada di sana,” katanya sambil menunjuk ke sebuah pintu geser kaca buram. Aku mengangguk kaku, berusaha mengendalikan napasku. Kami tiba di depan pintu kaca buram itu, dan begitu kami masuk, udara kamar mandi mewah itu menyambut. Wangi sabun mahal dan kapur barus samar-samar tercium. Bak mandi berbentuk oval terbuat dari marmer hitam yang berkilauan. Di sebelahnya, ada kursi dan kruk yang mungkin Lucio gunakan untuk duduk setelah mandi. Lucio menggerakkan kursi rodanya hingga berhenti tepat di samping bak mandi. “Aku tidak suka menunggu, Nadia. Cepat buka baju dan celanaku!” "Baik, Tuan." Aku mengangguk kaku. Sambil menarik napas dalam-dalam, aku memaksakan kakiku untuk melangkah mendekat. Jantungku berdebar tak karuan, seolah ingin melompat keluar dari tulang rusukku. Ini adalah tindakan paling memalukan, sekaligus paling pribadi yang pernah kulakukan untuk seorang pria. Aku bersimpuh di hadapan Lucio, tanganku gemetarku terulur, menyentuh kancing kemeja berwarna biru yang dikenakan Lucio. Kainnya terasa halus di bawah ujung jariku. Aku buru-buru memejamkan mata, membiarkan kegelapan meredam rasa maluku. Satu per satu, kancing itu terlepas dengan gerakan canggung. Aku bisa merasakan tatapan Lucio terpaku padaku. Ketika piama itu sudah terbuka, aku menariknya perlahan dari bahu tegapnya. Otot-otot lengan dan d**a pria itu terlihat jelas, terukir sempurna seperti pahatan patung klasik. Aroma tubuhnya yang maskulin dan citrus langsung menyeruak, membuat pipiku memanas. Setelah kemeja jatuh ke lantai, giliran celana bahan mahalnya. Tanganku meraba ke bagian pinggang celana. Butuh beberapa detik yang terasa sangat lama sebelum akhirnya celana itu berhasil kutarik turun. Aku merasakan seluruh tubuhku gemetar, dan rasanya aku ingin segera lari dari tempat ini. Setelah itu, aku buru-buru berdiri dan membalikkan badan, memunggungi Lucio. Punggungku terasa dingin, padahal AC di kamar mandi itu tidak terlalu kencang. “Sudah Tuan. Silakan mandi!” Suaraku sedikit bergetar. “Ya, cepat siapkan bajuku, Nadia!” perintahnya tanpa jeda, nadanya kembali tajam dan mendesak. "Baik." Aku bergegas mencari tempat meletakkan pakaian. Pandanganku menyapu seisi kamar yang terasa asing ini. Di salah satu sudut, tersembunyi di balik pintu kaca buram, aku melihat sebuah ruangan lagi. Itu pasti lemari pakaiannya. Ketika aku membuka pintu kaca itu, mataku terbelalak tak percaya. "Wow ... luar biasa." Ini bukan sekadar lemari, ini adalah walk-in closet yang sangat besar, mungkin seluas unit apartmentku. Rak-rak kayu jati gelap berjajar rapi, menampilkan koleksi outfit yang luar biasa. Deretan jas, kemeja, dan celana formal sampai jins milik Lucio memenuhi satu sisi. Tanpa bisa dicegah, mataku tertuju pada sisi lainnya. Di sana, berjejer gaun-gaun malam mahal dari desainer ternama, blus-blus sutra dengan warna-warna lembut, dan jaket-jaket tweed yang elegan. Di rak bagian bawah, ada tas-tas tangan super mahal dari merek-merek yang hanya pernah kulihat di majalah, dan berlusin-lusin high heels serta sepatu bot kulit yang tertata sempurna. “Loh, ini pasti punya istrinya ‘kan?” gumamku, hampir berbisik. Tanganku tanpa sadar menyentuh salah satu gaun sutra. Aku mengerutkan dahi. "Kenapa Lucio menyuruhku membantunya ke kamar mandi? Kenapa bukan istrinya? Di mana istrinya?"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
315.6K
bc

Too Late for Regret

read
324.6K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.7M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
145.6K
bc

The Lost Pack

read
443.3K
bc

Revenge, served in a black dress

read
154.9K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook