POV NADIA Aku buru-buru kembali ke ruang kerja yang ada di divisi arsip. Jantungku berdebar kencang, bukan karena ancaman menyelesaikan pekerjaan dengan waktu 20 menit dari Lucio, melainkan karena tatapan Victor yang membuatku risih dan mual. Aku duduk di kubikelku, memaksakan diri untuk fokus pada angka-angka Delaware. "Oke, Nadia! Ayo cepat selesaikan agar Lucio tidak menghukummu!" gumamku dalam bahasa Indonesia. Aku baru saja menyalakan komputer, tapi pintu ruanganku terbuka. Aku sangat terkejut saat melihat siapa orang yang masuk. Dia Victor. "Halo, Nona Nadia," sapanya, suaranya halus, tapi bagiku itu terdengar menjijikkan. Dia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya, dan itu membuatku merasa terperangkap. "Maaf, Tuan Victor. Tuan Lucio meminta saya menyelesaikan lapo

