Langit Jakarta tak pernah benar-benar senyap. Bahkan dini hari pun, bandara Soekarno-Hatta masih ramai oleh langkah-langkah manusia yang membawa rindu pulang atau mimpi pergi. Tapi pagi itu berbeda. Ketika pesawat dari Zurich mendarat dengan tenang, secercah haru telah menggantung di udara. Bukan hanya karena nama-nama yang baru saja turun dari kabin, tapi karena kisah mereka yang telah melintasi batas kewajaran dan membentuk legenda: Yulianto Atmaja, Malda Miura, Arella, dan Katie. Begitu kaki mereka menapak di tanah Indonesia, kilatan kamera dan sorakan hangat langsung menyambut. Ada spanduk bertuliskan: "Selamat Datang Pahlawan Damai dan Cinta dari Swiss!" Miura terperangah sesaat, matanya menyapu lautan wajah yang tak dikenalnya. Tapi yang membuat hatinya mencair adalah anak-anak

