Bab 45 - Hari Terakhir

1433 Kata

Pagi itu, matahari Semarang muncul malu-malu di balik awan tipis. Di kos sederhana Miura, bunyi kicau burung bercampur dengan aroma roti bakar dari kantin sebelah. Miura masih bermalasan di balik selimut, rambutnya masih berantakan, kaos longgar warna biru laut, sambil memandangi layar ponselnya yang sudah berkedip-kedip. Yulianto: "Udah bangun, Lao Po? Jangan bilang kamu masih gulung-gulung kayak sushi." Miura: "Bangun... tapi hatiku masih rebahan." Ia mengetik balasan sambil tersenyum sendiri. "Kenapa sih kirim pesan? Telpon aja...." Dalam hitungan detik, ponsel Miura bergetar. Video call. Miura yang masih meringkuk di bawah selimut, rambutnya yang bergelombang berserakan di bantal cepat-cepat dirapikannya. Di layar terlihat Yulianto duduk bersandar di sandaran ranjang sambil tersen

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN