Bab 12: Rekor dan Rasa yang Tak Terukur

821 Kata

Langit Semarang pagi itu biru secerah wajah Malda. Di lintasan Stadion Mugas, para atlet muda sedang melakukan drill, pelatih bersiul sambil mencatat, dan suara derap kaki menjadi musik ritmis khas pagi-pagi olahraga. Tapi satu hal berbeda hari ini: Malda Miura kembali. Dan ia tidak sendiri. Yulianto hadir lagi, lengkap dengan kaos "NIKE KW ASLI" yang selalu jadi bahan tertawaan Reno dan Tias. Tapi entah kenapa, dengan kehadirannya, suasana latihan yang biasanya kaku berubah jadi seperti campuran sirkus, talkshow, dan reuni keluarga besar. "Lari tuh bukan cuma kaki, tapi juga hati! Kalo hati kamu di aku, berarti larinya makin ringan, kan Lao Po?" seru Yulianto dari pinggir lintasan, membuat Reno spontan menjatuhkan botol minumnya. "Ssssttt... ini lari apa lamaran live, sih?" bisik Reno

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN