Minggu pagi, rumput di lapangan Mugas itu masih basah oleh embun pagi. Udara belum sepenuhnya hangat, tapi napas Phoenix sudah membentuk uap tipis. Bocah lima setengah tahun itu berdiri tegap di lintasan lari mini yang dibuat khusus untuk anak-anak, matanya menatap ke depan tanpa terganggu riuh rendah penonton kecil dan orang tua di pinggir lapangan. Sejak awal pagi, atmosfer di arena latihan anak berbakat itu berbeda. Bukan hanya orang tua yang sibuk mengarahkan kamera ponsel, tapi juga ada beberapa wajah asing—orang-orang dewasa yang mengenakan jaket tim nasional dan membawa clipboard. “Lao Gong…” bisik Miura pelan, menggandeng tangan suaminya sambil berdiri di antara para orang tua. “Itu… pelatih nasional, kan?” Yulianto hanya mengangguk kecil, matanya tak lepas dari Phoenix yang sed

