Chapter 152 : Napas yang Menyatukan

1628 Kata

Pagi itu, Miura terbangun lebih awal dari biasanya. Jam di dinding baru menunjukkan pukul 04.15, tapi ia sudah duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang masih gelap. Miura berusaha mendahului Yulianto, tapi suara halus dari ruang belakang membuatnya sadar — suaminya sudah bangun duluan. Miura melangkah pelan ke arah sumber suara. Di sana, Yulianto sedang menunduk, mengikat tali sepatu, tubuhnya memanas oleh sesi stretching yang baru saja dilakukan. “Kamu bangun sepagi ini… apa tidurmu cuma tiga jam?” tanya Miura sambil menyandarkan bahu di kusen pintu. Yulianto menoleh, tersenyum tipis. “Kalau ada kamu, tiga jam itu cukup.” “Jangan romantis di jam segini,” Miura menahan senyum, tapi matanya lekat pada sosoknya. “Kamu sendiri yang ngajarin istirahat itu penting untuk performa. Kenapa k

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN