Ken menatap sekeliling, ia mencari keberadaan Arra. Namun gadis itu tidak terlihat sama-sekali. Dengan berdecak kesal, Ken langsung berlari menuju arah terakhir kemana pergi nya gadis itu. Adanya penyusup dan kehilangan Arra adalah sesuatu yang tidak baik. Ia tahu bahwa Arra bukan lah gadis sembarangan, tapi ia sadar bahwa kemampuan gadis itu belum sepenuh nya dikuasai.
"Hey, jangan lari!"
Pria bertopeng itu tetap berlari sambil mengambil beberapa barang dari penjual yang mengejar Nya. Para penduduk sekitar langsung ikut menangkap lelaki itu. Lelaki itu berlari ke arah Ken yang memperhatikan ke mana lelaki berlari. "Hey, berhenti!" ujar Ken sambil menghadang lelaki itu. Jika Ken bisa menebak, lelaki itu seorang pemuda berusia sekitar 17 tahun. Mata Nya merah, namun tidak semerah darah, dan dia berasal dari kaum Vampire.
"Jangan halangi aku, sialan!" ujar pemuda itu sambil mendorong Ken
Pemuda itu hendak berlari, namun Ken langsung menarik kerah bajunya dan menarik topengnya. Warga yang melihat langsung membawa lelaki itu.
"Berani-beraninya kau mencuri, dasar tidak berguna!" ujar sang pemilik toko yang dirampok oleh lelaki itu. Pria paruh baya itu hendak memukul namun Ken langsung angkat bicara. "Jangan pukul dia!" ujar Ken
"Heh, memangnya siapa diri mu? Apa kau sekongkol dengan pencuri ini?"
"kau tidak boleh berkata sembarangan!" ujar Ken dengan nada rendah
"Dasar sialan, apa kau mau membayar kerugian ku hah? Jangan cuman mau bicara saja!"
"Aku sudah membantumu untuk menangkapnya, dan seperti ini kah rasa terima kasih mu?" ujar Ken dengan nada suaranya yang mengintimidasi.
Pemilik toko itu langsung sedikit gugup "S-siapa kau?" ujarnya dengan nada terbata-bata dan bahu yang sedikit gemetar.
"Siapa pun aku, kau tidak perlu tau. Karena aku tidak tahu hukuman apa yang tepat untuk orang sepertimu! Aku pergi dulu, sekali aku memerintah kan mu untuk tidak memukul anak kecil ini, maka kau harus menuruti atau kau akan menyesalinya. Mengenai kerugian mu, aku akan mengirimkan orang ku untuk membayar semuanya!" ujar Ken lalu meninggalkan para warga itu yang menatap Ken tidak berkutik. Ken langsung melangkah kan kakinya pergi menjauh , ia sama-sekali tidak bisa menemukan keberadaan Arra.
"Apa kau tau di mana dia?" Ujar Ken pada sosok Damian yang tidak jauh darinya
"Queen berada di alun-alun kota Lord!" ujar Damian lalu kembali menghilang
Ken segera menuju alun-alun kota, dan benar saja. Gadis itu sedang berada di antara kerumunan banyak itu. Ken menghela nafas lalu mulai melangkah menuju gadis itu yang sedang asik menatap pertunjukan di depannya. Ken sudah sampai dan berdiri di sebelah gadis itu, namun sepertinya gadis itu tidak sadar sama-sekali.
"Begitu menikmati acara itu nona?" bisik Ken pelan sambil mendekatkan badannya pada Arra. Di luar dugaan, gadis itu malah meninju perutnya. Ken yang tidak siap terjungkal ke belakang.
"Astaga, Ken? Maaf, aku tidak tahu itu adalah kau!" Ujar Arra segera membantu Ken berdiri. Mereka sempat menjadi pusat perhatian, namun Arra langsung buru-buru minta maaf dan menarik tangan Ken menjauh dari manusia-manusia yang melihat mereka dengan tatapan penasaran.
Arra membawa Ken memasuki daerah hutan yang cukup sepi "Duduklah, biar aku periksa tubuh mu yang terkena tinju ku!" Ujar Arra membuka tudungnya setelah mereka berada jauh dari kerumunan itu. Rambut putih Arra langsung kontras terlihat dan begitu indah.
Ken awalnya ingin menolak, tapi melihat tatapan gadis itu yang merasa bersalah membuat Ken tidak sanggup untuk menolak. Ken membuka tudung dan penutup mulutnya lalu memperhatikan gadis di depannya. "Buka baju mu, aku ingin melihatnya!" ujar Arra
Ken menelan ludahnya kasar, ia lalu menatap tajam ke arah depan. Tepatnya Ke arah Damian yang sedang mengintipnya dan terkekeh tidak jelas. Ken mendengus kesal, pasti lelaki itu sedang menertawakan wajahnya yang memerah.
"Lama sekali!"
Ken tersadar saat tangan putih Arra membuka tali bajunya dan memeriksa badannya. Ken memalingkan wajah, tangan dingin Arra terasa menggelitik perutnya. "Apa ini sakit?" ujar Arra sambil menatap permukaan perut Ken yang sedikit memar dengan warna biru keunguan.
"T-tidak, kau tidak perlu merasa bersalah!" ujar Ken hendak memakai bajunya kembali. Namun tangan Arra tiba-tiba memegang kedua tangannya, 'fiks' wajah Ken seperti nya sudah memerah.
"Aku akan bertanggung jawab, duduk dan tunggu sebentar!" ujar Arra segera berlalu. Ken memperhatikan gadis itu yang sedang sibuk dengan tumbuhan liar di sekitar nya. Ken menaikkan alis nya, apa gadis itu juga tau tentang ilmu medis? Ken bahkan sampai terpesona dengan keterampilan gadis itu saat menumbuk daun-daun aneh. Setelah melihat gadis itu hendak menghampiri nya, Ken segera mengalihkan perhatiannya. Pura-pura tidak peduli dengan kegiatan gadis itu.
"Luka mu seperti nya bukan karena ku, aku rasa ini adalah luka yang sudah cukup lama. Sekitar beberapa bulan, apa benar demikian?" seru Arra sadar bahwa luka Ken bukan lah luka baru.
Ken menatap wajah Arra, manik nya langsung terpaku pada manik seputih salju itu. "Itu memang sudah lama, jadi biarkan saja. Luka itu akan sembuh dengan sendiri nya!" ujar Ken
"Ini akan menjadi masalah untuk mu, meski aku tahu bahwa ini kedengaran sedikit tidak normal. Tapi aku bisa menjamin bahwa jika luka ini dibiarkan semakin lama, maka kau akan mengalami resikonya sendiri!" ujar Arra kembali melumuri luka Ken dengan ramuan herbal yang tadi sudah ia tumbuk. Ilmu medis Arra ternyata lebih berguna di dunia ini. Karena bahan-bahan yang ia butuhkan bisa dengan mudah didapatkan. Tidak seperti ketika ia berada di bumi, untuk mendapatkan bahan-bahan yang ia butuhkan. Butuh berbulan-bulan untuk ditemukan, bahkan ada sudah tidak bisa ditemukan lagi.
Ken membiarkan Arra, karena sejujurnya ia juga merasa sakit pada bagian perutnya. Ia pikir, luka itu akan sembuh dengan sendiri nya. Namun Ken salah, luka itu bukannya sembuh, malah semakin menyakitinya.
"D-darimana kau tau tentang ilmu medis?" Ujar Ken memulai pembicaraan
"Mungkin kau tidak akan percaya, tapi aku bukanlah dari dunia ini. Aku berasal dari bumi , dunia metropolitan yang tidak sekuno dunia ini!" ujar Arra "Baiklah, sudah selesai!" seru Arra setelah selesai memasangkan baju Ken kembali. Namun Arra sadar akan sesuatu, ia segera berdiri lalu melangkah sedikit menjauh.
"Arra!!!"
Mendengar ada yang memanggilnya, Arra langsung menatap sekitar. Rasanya itu adalah suara dari Reza. Saat Arra kembali membalikkan badannya, Ken sudah tidak berada di sana. "Dia menghilang lagi?" ujar Arra memperhatikan sekitarnya. Ken sudah tak lagi berada di tempat tadi.