Di tengah perjalanan mereka, tidak ada yang membuka suara. Baik Arra maupun Ken sama-sama diam sambil fokus pada jalan di depan mereka. Tapi, Arra tiba-tiba ingin bertanya sesuatu. "Tunggu dulu Ken, aku ingin bertanya dari mana kau tau siapa aku dan juga nama ku? Kedengarannya sedikit aneh saja mengingat kita baru bertemu kedua kali ini!" ujar Arra yang berjalan di belakang punggung kokoh itu.
"Apa kau sepenasaran itu Queen?" seru Ken mendadak berhenti membuat Arra yang tidak siap langsung menabrak punggung lelaki itu.
"Mengapa berhenti mendadak?" kesal Arra lalu meraba kepalanya yang sedikit sakit.
"Anda yang tidak memperhatikan langkah Queen!" ujar Ken membalikkan badannya lalu menatap wajah gadis di depannya yang cemberut, membuat sudut bibir Ken terangkat. "Mengapa tertawa? Ada yang lucu?" kesal Arra dengan nada sedikit membentak
Ken langsung mengubah raut wajah nya lalu membalikkan badannya,ia merutuki wajah nya yang tiba-tiba tidak bisa di kontrol. Ken hanya diam saat gadis di belakang nya berdecak tidak suka, hal kecil itu membuat Ken kembali menarik kedua sudut bibir nya.
Karena Ken tidak kunjung menjawab, Arra hanya bisa menghela nafas nya. Ia berjalan di belakang lelaki itu dengan Cubi yang terus mengekori nya dari belakang. Tapi Ken tiba-tiba berhenti lagi dan berdiri di sebelah nya. "Ada apa?" Ujar Arra menatap Ken dengan raut wajah bertanya. Lelaki itu tidak menjawab, tetapi langsung memasangkan jubah besar padanya dan memasang tudung serta cadar untuk menutupi daerah mulut nya. Sehingga hanya mata Arra yang kelihatan. Jantung Arra berpacu sedikit lebih cepat karena kedekatan lelaki itu padanya. Dan Arra terpana dengan mata Ken yang sedikit merah.
"Kau harus menyembunyikan auramu Queen, mereka bisa saja tidak akan bergerak selagi kau berjalan. Karena tidak jauh di depan, kita sudah hampir memasuki daerah pedesaan!"
"Apa mereka juga mengenal ku?" ujar Arra tidak percaya
"Semua tau tentangmu Queen, bukankah kau itu orang penting?" ujar Ken langsung menjauh dan menetralkan degup jantung nya yang tiba-tiba memompa dua kali lebih cepat. Seperti nya ia harus memeriksa hal ini ke tabib. Karena tidak biasanya jantung nya bekerja lebih cepat daripada biasanya.
"Lalu, bagaimana aku menghilangkan auraku? Aku belum mampu!" ujar Arra
"Tinggal minum ini saja Queen, auramu bisa menghilang untuk sementara!" ujar Ken sambil memberikan sebuah cairan berwarna hijau pada Arra. Ken menaikkan alis nya ketika melihat gadis di depannya sama-sekali tidak meminum cairan itu, malah menghirup aromanya dan menatap nya lama.
"Jika kau tidak percaya, aku bisa meminum nya duluan!" ujar Ken sambil menelan cairan itu setengah. Arra menghela nafas lalu meminum cairan itu, 'aneh'. Kata pertama yang ia pikirkan. Rasanya seperti ekstrak buah apel bercampur dengan rumput laut.Arra tau sekali bahwa cairan ini digunakan untuk bahan pembuat obat sewaktu ia masih di bumi. "Apa kau mencampur buah apel dan rumput laut ke dalam cairan ini?" ujar Arra
"A-apel? Mengapa kedengaran nya aneh sekali?" ujar Ken balik menatap Arra dengan sebelah alis terangkat
"Kau tidak kenal dengan Apel? Kuno sekali!" guman Arra pelan
"Apa kau berkata sesuatu?" ujar Ken membalikkan badannya lalu menatap Arra
"Oh, tidak. Aku tidak berkata apa-apa dan soal apel itu. Aku akan memberitahumu kapan-kapan!" ujar Arra
Ken mengedikkan bahu nya lalu memasang tudung dan menutup mulut nya. Penampilan mereka terlihat sedikit berbeda dan misterius. Arra hendak melangkah namun tangan Ken menghentikannya. "Kau harus berjalan bersama ku!" seru Ken yang langsung menggenggam tangan Arra lalu mulai berjalan. Arra hanya bisa menelan air ludah nya, rasanya begitu gugup. Saat berpacaran dengan Vino dulunya pun ia tidak pernah berpegangan tangan. Ah, Arra bahkan sampai lupa tentang mereka. Apa mereka senang ketika ia menghilang begitu saja? Arra menggelengkan kepala nya lalu ikut berjalan di samping Ken.
Tidak berbeda jauh dengan Arra, Ken merasa degup jantung nya semakin menggila saat tangan nya bersentuhan dengan kulit putih nan dingin milik gadis itu. Ken rasa ini adalah sentuhan pertama nya dengan seorang lawan jenis nya.
Setelah beberapa menit melewati pepohonan, suara-suara keramaian langsung terdengar di indra pendengaran Arra. Dan benar saja, tidak lama setelah itu. Ia melihat bangunan-bangunan kuno dengan beberapa orang yang terlihat sedang berlalu lalang dan anak-anak yang bermain. "Ini adalah ras Demon, mereka tinggal dan beraktivitas di sini!" ujar Ken tidak melepas pegangan tangannya dari Arra.
"Apa tidak apa-apa kita berpakaian seperti ini? Rasanya mereka akan lebih curiga jika kita berpakaian seperti ini!" ujar Arra membuka tudungnya. Namun Ken langsung menahan tangan Arra, rambut putih gadis itu langsung menarik perhatian beberapa warga yang sempat melihat mereka. Ken langsung menarik tangan Arra menjauh dan memasuki pasar, tempat yang lebih ramai.
"Ada yang salah dengan ku?" ujar Arra berbisik
"Kaum mu sudah menghilang sejak beberapa waktu yang cukup lama, tidak ada yang bisa menemukan kalian. Jadi, wajar saja mereka langsung terkejut melihat kehadiran penyihir putih!" ujar Ken pelan. Berusaha untuk tidak terlalu terdengar orang banyak.
"Baiklah, kalau begitu. Apa aku bisa menyimpulkan bahwa kau adalah salah-satu dari mereka?" ujarnya membuat Ken berhenti berjalan lalu menatap bola mata Arra yang selalu memukau nya. Buru-buru Ken mengalihkan perhatiannya, jika penutup mulutnya dibuka. Ia yakin wajahnya sudah memerah lagi.
"Kau betul sekali Queen!" seru Ken kembali berjalan dan membawa Arra semakin memasuki pasaran yang begitu ramai
"Lalu, apa kau adalah seseorang yang penting di sini?" Ujar Arra kembali bertanya
"Aku butuh alasan mengapa kau menyimpulkan demikian!"
"Pakaianmu terlihat berbeda jika kau hanya lah sekedar warga biasa. Apa kau adalah orang penting di sini?" ujar Arra yang lagi-lagi membuat Ken berhenti melangkah dan beberapa orang yang sempat melihat mereka juga ikut curi-curi informasi. Karena sejak kedatangan mereka, perhatian semua warga memang tertuju pada mereka.
"Kau bisa menyimpulkannya Queen!" seru Ken
Arra berdecak sebal lalu melepas tangannya dari Ken dan berjalan mendahului lelaki itu. Ken hanya bisa menghela nafas, hampir saja ia membongkar identitasnya yang sebenarnya. Jika ia sampai membongkar identitasnya, ia hanya takut. Takut bahwa Arra tidak akan bersikap seperti sebelum gadis itu mengetahui jati dirinya. Rasanya Ken belum siap jika gadis itu ikut menganggapnya sebagai sesuatu yang harus dihindari dan dihormati. Karena, untuk pertama kalinya, Ada seorang gadis yang berani menatap langsung tepat pada manik matanya.
"Penyusup....Tolong!"
TBC