Bagian 12 ~ Rubah Kecil

1047 Kata
Trang...Bruakk  Sosok itu terlempar beberapa meter ke depan sementara serangan terus-menerus berdatangan. Dengan gerakan cepat, Reza berusaha untuk bangkit berdiri. Lalu mengucapkan mantra nya. Mata Reza langsung berubah merah, seperti nyala api yang berkobar. Lelaki  itu mengarahkan tangannya pada bongkahan es yang menuju ke arahnya.  Shutt Es itu langsung meleleh , Reza tidak berhenti sampai disitu saja. Dengan gerakan membabi buta, ia langsung berteleportasi. Brakk, sosok Reza kembali terlempar jauh di atas tanah. Arra masih berdiri di tempat nya dengan konsentrasi penuh. Ia bisa melihat ke mana pergerakan Reza dengan mencium kemana aura nya. Mata seputih salju Arra bersinar, ia mengangkat tangannya. Bunyi petir langsung terdengar bergemuruh, suara angin menyengat telinga. Arra menatap Reza yang hendak menyerangnya kembali, namun dengan senyum miring nya. Ia langsung mengarahkan petir-petir itu padanya.  Shít,Reza mengumpat. Kekuatan Arra benar-benar sudah meningkat pesat. Dengan kekuatan penuh, Reza berusaha untuk menghindar dari petir kasat mata yang menuju ke arahnya. Reza berusaha mengerahkan tenaganya untuk menghindar, namun petir itu tidak bisa ia hindari. Satu persatu mulai mengarah ke padanya. Shut--Reza merasakan bahwa badannya terlempar beberapa meter. Ia lalu membuka matanya, lalu menatap sosok Arra yang menangkis semua elemen petirnya dengan sebuah busur. Reza membelalakkan matanya, Arra dengan mudah menangkis semua petir itu. Namun, ada sesuatu yang membuat Reza sedikit merasa aneh. Aura Arra sedikit terasa pekat dan gelap.  "Apa kau tidak apa-apa?"  Reza buru-buru mengalihkan perhatiannya pada Arra yang sekarang sudah berada di depannya. Manik putih Arra menatapnya dengan tajam, yang memang akhir-akhir ini Reza harus mengakui warna manik mata Arra semakin putih. Karisma yang di keluarkan gadis itu juga semakin bertambah kuat, dan tatapan nya yang semakin tajam.  "Tidak apa-apa Queen, kekuatan Anda begitu meningkat pesat!" ujar Reza menerima uluran tangan Arra yang membantunya untuk berdiri.  "Segera pergi ke tabib, aku tau kau terluka tadi. Salah-satu petir ku mengenai badan mu!" seru Arra lalu mulai berjalan kembali menuju danau  "Anda juga harus kembali Queen!" seru Reza yang mulai merasakan sakit di ulu hatinya. Ia memang kecolongan, petir Arra sempat mengenai tubuhnya. Dan Reza baru merasakan sakit yang sungguh luar biasa menyerang ulu hatinya. "Segeralah pergi, aku sudah membuatmu bertahan lebih lama!" ujar Arra  "Baik Queen, jangan berkeliaran!" seru Reza lalu menghilang  Arra kembali menatap danau di depannya, dengan pakaian yang sedikit lebih baik daripada pakaian sebelumnya membuatnya merasa lebih bebas untuk melakukan apapun yang ia mau. Namun, sebelum langkah Arra kembali menjauh, ia merasakan aura pekat dari arah hutan dekat perbatasan. Aura yang membuat Arra benar-benar merasakan penasaran. Namun Arra sadar, bahwa aura ini adalah aura yang sedikit berbahaya.  Dengan langkah pasti, Arra berjalan memasuki kawasan hutan. Suara burung berkicau dan kupu-kupu yang beterbangan menjauh semakin membuat bulu kuduk Arra berdiri.  Srakkk  Arra berhenti melangkah saat mendengar bunyi ranting yang terpijak, dan itu berasal dari belakangnya. Dengan perlahan, Arra membalikkan badannya. Lalu mata Arra menatap sosok hewan kecil berbulu yang juga sedang menatapnya. Bola mata besar, dan bulu berwarna kuning kejinggaan. Arra tersenyum lalu melangkah mendekati hewan itu, mirip dengan rubah. Tapi hewan itu juga mundur saat Arra melangkah maju. "kemari lah, aku tidak akan menyakitimu!" ujar Arra menggerakkan tangannya Hewan itu memiringkan kepalanya menatap Arra, namun mulai melangkah mendekati nya. "Kemari lah, apa kau sedang lapar? Atau apa kau tersesat?" ujar Arra  Awalnya rubah itu terlihat ragu, namun saat sudah berada di depan Arra. Ia langsung memasuki pangkuan Arra saat merasakan elusan di bulu nya. "Ow.. kau manis sekali!" kekeh Arra  "Kau sudah punya nama?" ujar Arra. Hewan itu mengangguk lalu menatap wajah Arra. "Benarkah? Lalu siapa namamu? Apa kau sudah bertuan?" kekeh Arra saat kembali menatap hewan itu mengangguk. Rubah kecil itu keluar dari pangkuan Arra membuat Arra merasa sedikit kehilangan. Namun, ia merasa bahwa ada sosok lain di sekitar mereka.  "Dia bernama Cubi!"  Arra segera menoleh, lalu tatapannya kembali bertemu dengan sosok pemuda misterius bermata teduh yang menolongnya saat itu. Arra lalu menatap sosok rubah itu yang berjongkok di hadapan pemuda itu.  "Apa itu adalah hewan peliharaan mu?" ujar Arra  Ken menatap raut wajah gadis itu membuatnya sedikit menarik sudut bibirnya. Bagaimana tidak? Arra bahkan memasang raut wajah sedih dengan mata puppy eyesnya dengan perhatian yang tertuju pada rubah yang menunduk di depannya "Dia itu adalah hewan yang tidak selalu tunduk pada setiap orang, biasanya jika bertemu dengan orang baru. Cubi cenderung menyerang mereka, tapi dia sepertinya menyukaimu. Benar begitu Cubi?" Ujar Ken yang diangguki oleh hewan itu "kau bisa ikut dengannya!" ujar Ken sadar apa permintaan dari rubah kecil peliharaannya itu.  Rubah itu segera berlari ke arah gadis itu "Kau baik sekali, terimakasih sudah mengizinkan dia bersamaku!" ujar Arra lalu membawa rubah itu ke dalam  pelukannya.  "Dia itu tidak sembarangan rubah, dia memiliki aura besar dan dia juga bisa menjadi musuh atau sahabat mu. Tergantung siapa yang menjadi tuannya. Tapi selama Cubi bersama mu, aku yakin dia tidak akan jahat!" ujar Ken sambil memperhatikan rubahnya yang sepertinya lebih nyaman bersama dengan gadis itu.  "M-maaf sebelumnya, saat itu kau sudah menyelamatkanmu. Aku berterima kasih untuk kedua kali nya. Dan sekarang kita kembali bertemu lagi saat ini, boleh aku tau siapa namamu?" ujar Arra menatap manik mata meneduhkan itu. Arra sedikit terpesona dengan warna mata semerah darah itu. "Kau bisa memanggilku Ken, Queen Arabella!" ujar Ken sambil mengalihkan perhatiannya  "Jadi, baiklah Ken. Sebenarnya kau berasal dari mana? Apa kamu juga adalah penyihir?" ujar Arra merasa tertarik dengan pemuda di depannya. "Kita baru bertemu beberapa kali Queen, apa kau tidak merasa khawatir siapa aku?"  Arra tersenyum lalu berjalan mendekat sambil membawa Cubi di pangkuannya. "Aura mu tidak menunjukkan apa yang baru saja kau ucapkan Ken. Itulah sebabnya aku percaya pada mu!" ujar Arra tidak melepas senyum di wajahnya. Ken terpana, sungguh. Rasanya Ken ingin segera pergi saja menyadari wajah nya yang sedikit memanas melihat senyuman gadis di depannya itu. Sebelum itu terjadi, Ken segera mengalihkan perhatiannya. Berusaha untuk tidak ketahuan bahwa sekarang Ken sedang 'merona?' "Maaf Queen, aku bisa membawamu berkeliling hutan in jika kau mau!" seru Ken mengalihkan perhatian Arra yang sedikit membuat nya gugup  "Kau mengenal daerah ini? Apakah kau Werewolf? Reza bilang bahwa ini adalah daerah kekuasaan mereka!"  "Ini adalah daerah kekuasaan milik ras Demon dan Vampire. Mungkin kau mengira ini adalah wilayah Werewolf hanya karena hutannya saja. Ikuti aku, aku bisa membawamu berkeliling pasar dan sekitarnya. Ada banyak tempat menarik!" ujar Ken mulai berjalan melangkah.  **** TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN