Bagian 11 ~ Senyuman Tipis

1028 Kata
Sampai nya di dalam ruangannya, ia segera menghempaskan dirinya ke atas sofa lalu membaringkan badannya. Rasanya cukup luar biasa, tatapan seputih salju itu benar-benar bisa membuatnya terpana saat pertama kali bertemu. Lalu, bisakah Ken menganggap ini adalah 'Love At First Sight?'.  Ken menghela nafasnya, 'Apa benar yang dikatakan oleh bunda nya?'  batinya.  Ken kembali tersenyum tipis, sangat tipis. Sehingga kemungkinan hanya dia yang tahu bahwa sekarang ia tengah tersenyum. Setelah untuk berapa tahun lamanya ia tidak pernah merasa begini. Ken kembali mengingat gadis itu, suara nya yang terdengar di ambang telinga nya membuat hati Ken berdegup kencang. "Siapa gadis itu?" Ucap Ken pelan sambil menerawang. Apa gadis itu adalah gadis yang selalu hadir dalam mimpinya? Tapi, Ken tidak bisa memastikan nya karena ia sama-sekali tidak bisa mengingat wajah gadis di dalam mimpinya.  Ken segera berdiri saat sosok pria paruh baya mengetuk pintunya. "Masuk!" Ujar Ken dengan tatapan yang kembali dingin, sangat berbeda dengan beberapa menit yang lalu. Melihat siapa yang masuk, Ken langsung menunduk dan memberi hormat "Ayah!" ujar Ken.  "Bangun lah nak, tidak seharusnya kau masih memperlakukan ayah seperti dulu lagi. Kita sudah bertukar profesi, dan kau bahkan lebih hebat dari ayah!" ujar lelaki itu sambil mendekati putra nya itu  "Jika ayah tidak ada, mungkin aku tidak bisa berdiri di sini saat ini ayah!" ujar Ken sambil bangkit berdiri. Lalu ia melihat pria paruh baya di depannya, figur yang ia hormati setelah ibunya. Frederick Alexander, raja terdahulu dari ras demon.  "Kau yang terbaik nak! Tapi,ayah ingin membicarakan sesuatu padamu, mengenai ramalan itu!" seru Frederick sambil duduk di depan Ken  "Ramalan tentang perang besar itu?"  "Tepat sekali nak, ayah sedikit khawatir bahwa perang ini benar-benar tidak bisa terelak lagi. Tanda-tanda nya juga sudah ada, kau tidak merasakan beberapa waktu yang lalu. Tepat saat badai besar dan pertukaran pemimpin dari penyihir putih itu. Aku merasakan sesuatu yang aneh dari sebelah timur, daerah bersalju itu!"  "Aku juga merasakannya ayah, dan aku juga sudah memberi perintah agar Damian memeriksanya lebih dulu!"  "Kau sudah bertemu dengannya?"  Ken menatap ayah nya lalu mengangguk mengerti kemana arah pembicaraan ayah nya sekarang. "Dia seorang gadis dengan bola mata seputih salju dan rambut sebening salju pertama!" ujar Ken lalu berdiri dan berjalan menuju ke arah jendela. Ia berdiri sambil memperhatikan wilayah kekuasaannya, terlihat damai namun penuh dengan tipu muslihat. Frederick ikut bangkit lalu berdiri di sebelah putra nya itu.  "Ayah tau suatu saat kutukan mu akan hilang nak, kau hanya perlu bersabar dan menunggu!" ujar Frederick sambil menepuk punggung Ken pelan lalu berjalan menjauh dan keluar dari ruangan putra nya itu. Ken kembali terdiam, ia baru sadar akan kutukannya itu.  "Kita akan pergi, siapkan perlengkapan ku!" ujar Ken begitu sosok bayangan tiba di belakang nya  "Baik Lord!"  *** "Ada yang teracuni, pengawal kita di racuni!"  Arra yang sedang asik memainkan sihir di danau segera mendekati sumber suara. Reza yang juga tidak jauh dengan sumber suara itu segera ikut mendekat. Beberapa pengawal mereka terletak di atas tanah dengan mulut yang penuh dengan busa. "Mengapa bisa terjadi?" ujar Reza sambil memeriksa denyut nadi para lelaki itu.  "Maaf jendral, maaf Queen. Saya tadi memeriksa keamanan di sekitar perbatasan bersama dengan kedua lelaki ini. Saat saya sedang berjaga di utara, hamba mendengar teriakan mereka dan mereka sudah tergeletak begitu saja." Ujar pemuda itu sambil menunduk hormat dengan gemetar  "Mereka tidak diracuni!" ujar Arra setelah memeriksa denyut nadi mereka. Semua para prajurit dan tetua yang hadir di sana saling berbagai pandang. "Bawakan aku air dari danau dan beberapa bumbu masak yang tersedia di dapur, tapi ingat untuk menghaluskannya!" ujar Arra  Beberapa pengawal segera berlari dan mengambil apa yang Arra perintahkan. "Tekan denyut nadi mereka Reza, ini akan bertahan sebelum mereka datang!" seru Arra  Reza segera menekan nadi mereka sambil  memperhatikan raut wajah Arra yang begitu tenang, tidak terlihat raut khawatir sedikitpun. Reza jadi ingat sewaktu mereka bekerja di rumah sakit kala itu, Arra juga terlihat tenang saat melakukan operasi maupun melakukan pertolongan pertama.  "Ini Queen!" ujar mereka sambil memberikan botol berisi air dan bumbu dapur  Arra segera mencampur keduanya lalu meminumkannya pada kedua pemuda itu. Mereka semua memandang kedua pemuda itu yang belum memberikan reaksi sedikit pun. Namun beberapa menit kemudian, mereka memuntahkan busa dari dalam mulut nya lalu mulai membuka matanya.  "A-ada apa ini?" ujar mereka seolah tidak tahu apa hal yang menimpa mereka sebelumnya  "Apa yang terjadi pada kalian?" seru Reza setelah mereka berdiam cukup lama. Bisik-bisik dari orang-orang yang berada di sana langsung terdengar sampai di telinga Arra. Namun ia cukup biasa untuk mendapatkan pujian seperti yang mereka berikan.  "Terimakasih Jendral sudah menolong kami, saat berjaga tadi. Kami merasa ada sihir yang menyerang kami tiba-tiba. Begitu kuat hingga sihir kami kalah dengan mereka!" ujar pengawal itu  "Bukan pada ku kalian berterima kasih, tapi pada yang mulia!" ujar Reza Kedua pengawal itu langsung bersujud di depan Arra "Salam yang mulia, terima kasih sudah menolong nyawa hamba!" seru kedua Nya  "Bangkit dan berdiri, kalian harus lebih berhati-hati lagi. Aku yakin banyak orang yang juga ingin menyerang kita, selagi aku masih belum menguasai kekuatan ku sepenuh nya. Aku membutuhkan bantuan dari setiap orang yang hadir di sini!" ujar Arra tegas  "Dilaksanakan yang mulia, hidup yang mulia, hidup Queen Arabella!" ujar mereka bersorak riang  "Dan satu lagi, beberapa hari belakangan ini. Aku juga bisa merasakan adanya aura yang berbeda di sekitar kita. Aura yang tidak bisa aku kenali, auranya bukan aura jahat. Tapi seperti aura yang begitu kuat, aku harap kalian lebih berhati-hati lagi. Semua peralatan di istana bisa kalian gunakan untuk melatih sihir kalian. Anak kecil juga harus dilatih, karena jika kalian tidak bisa melindungi mereka. Mereka bisa melindungi diri mereka sendiri!" ujar Arra langsung berjalan menjauh dan kembali ke danau  "Hidup yang mulia!" sorak mereka  Reza juga mengikuti langkah Arra yang berjalan menuju danau. Sementara sosok yang mengawasi mereka dari jauh hanya bisa terkejut. "Dia bisa menyadari keberadaan kita Lord, aku rasa kekuatannya Queen memang sungguh luar biasa!" ujar Damian pelan. Ken juga tidak bisa berbohong, ia memang harus mengakui kemampuan gadis itu. Mereka bahkan sudah memakai mantra penghilang aura terbaik dan selama ini, tidak ada satu orang pun yang bisa melacak keberadaan mereka jika sudah menggunakan ramuan itu. Tapi, kali ini mereka dibuat terpesona dengan kemampuan gadis itu.  TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN