Ling Er meringkukkan badannya di sudut ruangan, sebuah kamar dengan penerangan minim. Ia masih trauma mengingat tubuh Lucy yang tergeletak di tanah dengan hamparan salju putih yang bercampur darah. Ling Er memegang kedua sisi kepalanya dan menundukkan wajahnya. Bayang-bayang wanita itu masih mengitari pikirannya. "Semua ini karena aku. Jika tidak, Tante Lucy tidak akan mati," gumam Ling Er lirih. Walau dirinya sejak awal sudah tidak menyukai sikap Lucy padanya, tetapi ia tidak ingin wanita itu sampai meregangkan nyawanya seperti itu. Ling Er masih memiliki hati dan perasaan. Apalagi wanita itu masih berniat menyelamatkannya ketika ia berada di ujung nyawanya. Ling Er sangat berterima kasih atas hal itu. Ling Er menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya dan menangis dalam diam.

