Seminggu setelah kepergian seorang gadis yang periang -Bulan, mereka semua terlihat tidak seperti biasanya. Termasuk Bintang. Ia terpukul atas kepergian orang yang Ia sangat sayangi. Ia sekarang lebih suka melamun dan menjadi sosok yang dingin.
"Beb, kamu kenapa? Akhir-akhir ini aku perhatikan suka melamun?" Ucap Mentari yang tiba-tiba muncul disebelah Bintang.
"Bener tuh, lo kenapa?" Tanya Shofi.
"Gue tau... pasti gara-gara Bulan kan?" Ucap Angel tiba-tiba.
"Kalo iya kenapa?!" Bentak Bintang.
"Kan masih ada gue" ucap Mentari tak kalah keras.
"Sama lo? Ogah!" Ucap Bintang kemudian meninggalkan ketiga cewek tersebut.
***
"Gue kangen Bulan..." lirih Lia.
"Gue juga" lanjut Yuan.
"Ke Rooftop Resto yuk!" Ajak Eksan.
"Bulan... Kita semua kangen lo" ucap Nisa sedih.
"Ambilkan bulan, Bu
Ambilkan bulan, Bu
Yang selalu bersinar di langit
Di langit bulan benderang
Cahyanya sampai ke bintang
Ambilkan bulan, Bu
Untuk menerangi
Tidurku yang lelap
Di malam gelap"
***
Di sebuah tempat yang sangat indah...
"Gue nggak mau kalian sedih. Gue ingin melihat kalian semua bahagia dari sini.
Jujur, gue masih pengen bersama kalian. Tapi ini semua sudah takdir.
Gue bakal selalu ada bersama kalian. Walaupun kalian tidak melihatnya. Gue akan selalu menemani kalian. Melihat kalian sukses di kemudian hari.
Persahabatan kita tidak boleh hancur hanya karena hilangnya salah satu diantara kalian.
Gue selalu rindu kalian..." ucap Bulan.
"Terutama lo, Bintang....
Bintang di langit
Kerlip engkau di sana
Memberi cahayanya di setiap insan
Malam yang dingin
Kuharap engkau datang
Memberi kerinduan di sela mimpi - mimpinya
Melangkah sendiri di tengah gelap malam
Hanya untuk mencuri jatuh sinaran
Tak terasa sang waktu
Melewati hidupnya
Tanda pagi menjelang
Mengganti malam
Oh bintang tetaplah pastikan cahyanya
Sinari langkahku setiap saat
Bintang pun tersenyum dengarkan pintaku
Berikan kecupan di sudut tidurnya" lanjut Bulan.