Sekarang Bulan sudah kembali beraktivitas seperti biasa. Sahabat Bulan juga senang mendengar kabar tersebut.
Mereka kini sedang berada di Taman Kota. Cuaca hari ini memang sangat mendukung suasana bermain mereka. Tidak panas dan tidak pula mendung. Mereka berbaring di atas rumput yang hijau sambil melihat bentuk-bentuk awan putih di langit.
"Coba lihat itu!" Teriak Lia sambil menunjuk keatas langit.
"Emang apaan?" Tanya Eksan.
"Itu bentuk Kelinci!" Sahut Nisa tak mau kalah.
"Ha? Bukan Nisa. Itu bentuk kucing!" Elak Yuan.
"Terserah..." ucap Nisa merajuk.
Eksan hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kembaran dan kedua temannya yang saling berdebat.
'Hanya karena awan sampe adu mulut. Ckckck...' batin Eksan.
"Kalau itu apa, Bul?" Tanya Bintang tiba-tiba sambil menunjuk ke awan.
"Eh? Hmm... burung?" Ucap Bulan ragu.
"Bukan. Itu awan. Hehehe..." ucap Bintang terkekeh.
Bulan tersenyum mendengar jawaban dari Bintang. Menurutnya, ada-ada saja.
Krruuukkkk....
Semua menoleh ke arah sumber suara. Suara tersebut berasal dari paling pojok diantara mereka.
"Hehehe... gue laper" ucap Lia dengan tampang watados nya.
Fyi :
Watados = Wajah tanpa dosa.
"Ya udah, ayo cari makan. Udah siang juga" ajak Bulan.
"Di situ saja. Enggak terlalu ramai juga" ajak Nisa sambil menunjuk salah satu warung makan di dekat Taman Kota.
"Oke"
Brruukkk...
Bulan terjatuh dan langsung pingsan.
"Cari taksi! Cepetan!" Teriak Bintang.
Eksan bergegas mencari taksi. Tidak lama kemudian, taksi berhenti di dekat mereka. Tanpa basa-basi, Bintang langsung menggendong Bulan untuk masuk ke dalam taksi dan membawanya ke Rumah Sakit.
"Kalian kabari Ayah dan Bunda. Trus langsung nyusul ke Rumah Sakit!" Perintah Bintang.
Mereka menganggukkan kepalanya paham.
***
"Suster-suster! Tolong!" Teriak Bintang sampai di Rumah Sakit.
"Baik. Anda silahkan tunggu diluar terlebih dahulu" ucap salah satu Suster yang mendorong alih ranjang Bulan.
Ayah, Bunda, Wulan dan teman-teman Bulan pun datang dengan tergesa-gesa.
"Bagaimana keadaannya Bulan?" Tanya Bunda menahan tangis.
Bintang menggelengkan kepalanya.
"Masih diperiksa Dokter, Bun" lanjut Bintang.
"Sebenarnya, Bulan sakit apa?" Tanya Nisa.
"Huufft... sepertinya sudah saatnya kalian tau, nak" ucap Ayah.
"Bu-lan.... Bulan menderita Kanker Otak" lanjut Ayah dengan nafas berat.
Semuanya terkejut. Nafas mereka terasa tersengal-sengal mendengar penyakit 2 kata tersebut. Mereka tidak menyangka. Bulan, sosok yang cantik, manis, periang, baik hati, bisa mendapatkan ujian yang sangat besar di usianya yang masih remaja.
Pintu terbuka menampakkan seorang Wanita mengenakan jas putih keluar dari ruangan.
"Pasien sudah bisa dijenguk. Tetapi jangan terlalu membuat gaduh. Karena kondisi pasien sedang tidak stabil" ucap Dokter Ani.
"Saya permisi dulu" lanjut Dokter Ani.
"Bulan...." lirih Bunda.
"Ayah, Bunda, Wulan jangan menangis... Bulan nggak apa-apa kok" hibur Bulan dengan senyum tipis.
"Kalian juga jangan menangis... jelek tau" hibur Bulan kepada teman-temannya.
"Kakak harus sembuh ya... Biar bisa main sama Wulan lagi" ucap Wulan berharap.
Bulan hanya tersenyum tipis mendengar harapan sang adik.
"Maafin Bulan yaa... belum bisa jadi orang yang membanggakan buat kalian. Tadi selama Bulan pingsan, Bulan liat ada cahaya yang sangat cantik. Terus ada seorang gadis cantik yang menghampiri Bulan membawa rangkaian bunga yang sangat cantik" isak Bulan.
"Maaf, Bulan harus menemui gadis itu lagi" lanjut Bulan tersenyum dan perlahan-lahan menutup kedua matanya.
"Selamat tinggal" lirih Bulan.
Semua yang berada di ruangan tersebut seketika langsung menangis melihat seseorang yang terbaring lemah menjadi kaku tidak bergerak kembali disertai dengan suara detak jantung yang tidak kembali berdetak.