B&B 07

1134 Kata
Pagi hari telah tiba. Suara khas ayam berkokok terdengar melalui celah ventilasi kamar Bulan. "Hooaammm... ehh sudah pagi ternyata. Mandi dulu ahh" ucap Bulan khas orang bangun tidur. Bulan keluar dari kamar kemudian berjalan menuju ruang makan. Disana Ia melihat Wulan, Ayah dan Bunda yang sudah duduk di meja makan. "Ayo kak, makan. Enak banget lho kak" ajak Wulan semangat. "Makan apaan dek?" Tanya Bulan. "Bunda buatin nasi goreng kesukaanmu. Ini, buruan makan" ucap Bunda sambil menyodorkan sebuah piring berisi nasi goreng. "Terimakasih, Bun..." ucap Bulan. Karena keasyikan makan nasi goreng kesukaannya, Bulan hampir lupa waktu. "Ehh, udah jam setengah 7. Aku ada upacara bendera. Buruan dek" ucap Bulan. "Adek berangkat bareng Ayah aja kak" titah Bunda. "Baik Bun..." *** Bulan berjalan masuk ke dalam sekolah dan bersenandung kecil sambil tersenyum. Hingga banyak yang memperhatikan tingkah Bulan. "Ciee... ceria amat nihh" ledek Yuan. "Harus dong" jawab Bulan sambil meletakkan tasnya ke kursi. Teettt... teettt... teettt Bel telah berbunyi. Semua anak-anak berhamburan menuju ke lapangan. Sesampainya di lapangan, ketua kelas merapikan barisan kelasnya. "Upacara bendera hari senin tanggal ** tahun **** siap dimulai. Pemimpin upacara memasuki lapangan upacara pasukan disiapkan" "Siaappp.... grak!" "Untuk amanat, istirahat ditempat.... grak!" "Tuh Pak Rudi lama amat ngasih amanat" gerutu Nisa. "Sumpah, gue udah pegel nihh" lanjut Lia. "Panas banget lagi" lanjut Yuan. "Udah, jangan ngeluh kalian" ucap Eksan. "Kenapa ni pala cenut-cenut pusing trus gelap" gumam Bulan. Brukkkk... Bulan pingsan. Petugas PMR langsung mengangkat Bulan dan membawa ke UKS. Eka- selaku petugas UKS memeriksa kondisi Bulan. "Arrghh... gue dimana?" Tanya Bulan pelan. "Lo di UKS. Tadi lo pingsan" jawab Eka. "Apa yang lo rasakan?" Lanjut Eka. "Kepala gue sedikit pusing" jawab Bulan. "Ini ada obat, jangan lupa diminum. Lalu istirahat di sini dulu" ucap Eka. *** Setelah selesai upacara, teman-teman Bulan langsung menuju ke UKS untuk menjenguk Bulan. "Udah mendingan?" Tanya Nisa. "Udah lumayan kok" jawab Bulan. "Ini gue bawain roti sama teh hangat. Jangan lupa dimakan terus minum obat" ucap Bintang. "Uuuu kalian so sweet dehh" ucap Lia. "Dasar" gerutu Eksan melihat kembarannya malas. "Terimakasih" ucap Bulan. Tak terasa waktu pulang telah tiba. Bulan dibantu oleh Yuan untuk berjalan menuju mobil Bintang. Yap, Bulan akan pulang diantar oleh Bintang. "Terimakasih" ucap Bulan pada Yuan. Sesampainya di rumah, Bulan mengetok pintu kemudian masuk ke dalam. Saat sampai di ruang tamu, Bulan kembali pingsan lagi. "Bun... Bulan pingsan" teriak Ayah yang baru saja masuk ke dalam rumah. "Langsung bawa ke rumah sakit saja, Yah..." panik Bunda. Bulan kemudian digendong oleh Ayah dan langsung tancap gas menuju Rumah Sakit terdekat. Bulan dibawa ke UGD dan langsung mendapatkan dokter untuk memeriksa kondisi Bulan. Tidak lama kemudian, Dokter keluar. "Dok, bagaimana keadaan anak saya?" Tanya Bunda khawatir. "Ibu dan bapak orang tua pasien?" Tanya dokter. Ayah dan Bunda mengangguk menjawab pertanyaan dari dokter. "Kalau begitu, mari ikut saya ke ruangan" ucap Dokter. "Begini Pak, Bu.. sebenarnya saya berat untuk mengatakannya, karena saya sendiri tidak percaya" jelas Dokter. "Memangnya kenapa, dok?" Tanya Bunda panik. "Baiklah. Huuffttt... pasien mengidap penyakit kanker otak" ucap Dokter sambil menghela nafas berat. "Kan-ker otak?" Tanya Ayah tidak percaya. Bunda menangis tersedu-sedu mendengar penjelasan dari dokter mengenai penyakit yang diderita Bulan. "Saya awalnya juga tidak percaya. Tapi saya sarankan, agar pasien dirawat disini dahulu" ucap Dokter. "Baik dok" *** Teett... teettt... teett "Pagi anak-anak" sapa Bu Dewi. "Pagi juga Bu..." "Hari ini kita mendapatkan kabar yang tidak baik. Bulan sekarang sakit dan dirawat di rumah sakit ****. Jadi, selama beberapa hari kedepan Bulan izin untuk sementara waktu" jelas Bu Dewi. "Bulan sakit apa?" gumam Yuan. *** "Lohh... Bulan mana?" Tanya Bintang bingung. "Nahh... gue mau ngasih tau itu sama kalian" ucap Yuan. "Bulan nggak masuk. Dia dirawat di rumah sakit" lanjut Yuan. Mereka semua terkejut mendengar penjelasan dari Yuan. "Oke, nanti kita langsung menjenguk Bulan sehabis pulang sekolah" ajak Bintang. "Siapp..." Di sisi lain... "Bulan sakit? Hahahaha... gue bisa deket-deket sama Bebeb Bintang!" Ucap Mentari. "Bener juga lo" lanjut Angel. "Untuk sementara waktu, tidak ada yang berbuat onar dan kita bisa bebas" ucap Shofi. *** Cekleekkk Suara pintu terbuka. Menampakkan 4 remaja yang masih mengenakan seragam sekolah kebanggaan mereka. "Ehh, ada temennya kak Bulan" celetuk Wulan. "Ada Wulan ternyata. Kita kesini mau jenguk Bulan" ucap Yuan. "Ya udah kak, Wulan pulang dulu yaa... nanti Ayah sama Bunda kesini. Sementara ditemenin temen-temen kakak dulu yaa" ucap Wulan sambil membereskan barangnya dan memasukkan ke dalam tas. "Hati-hati dek!" Teriak Bulan. Wulan mengacungkan jempolnya menyetujui ucapan kakaknya. "Lo sakit apa hmm?" Tanya Bintang mendekati ranjang Bulan. "Gue enggak tau" jawab Bulan sedih. "Bul... ini ada nasi goreng kesukaan lo. Gue taruh dimeja yaa" ucap Nisa. "Ehh jadi ngrepotin kan... btw, makasih yaa udah maen kesini" ucap Bulan. "Sama-sama Bul..." "Li... mabar yuk!" Ajak Eksan. "Yukk! Nisa, Yuan, ikutan mabar yuk!" Ajak Lia. "Let's go!" Mereka sibuk dengan game mereka. Tertawa-tawa, marah-marah dan kesal sendiri. "Hmm... Bul, deketan sini deh" suruh Bintang menepuk-nepukkan tangannya agar Bulan lebih mendekat. "Kenapa?" "Udah buruan, sebentar doang kok" ucap Bintang. Bulan hanya mengikuti perintah dari Bintang. Setelah merasa Bulan lebih dekat dengan Bintang, kedua tangan Bintang terulur seakan mendekap tubuh Bulan. Kemudian Ia mengaitkan sesuatu di leher Bulan. "Ini buat gue?" Tanya Bulan sambil memegang liontin berbentuk Bulan. "Iya, itu buat lo. Anggap aja hadiah dari gue" jawab Bintang tersenyum. "Makasih" "Bin! Pulang yok! Udah sore" ajak Eksan. "Ngomong juga lo" ledek Bintang. Eksan hanya menggerutu mendengar ledekan dari mulut sahabatnya tersebut. "Kita pamit dulu ya Bul" ucap Nisa. "Besok kalo ada waktu kita mampir lagi" lanjut Lia memeluk Bulan. "Makasih yaa, hati-hati di jalan" *** "Bun..." rengek Bulan. "Kenapa sayang?" Tanya Bunda. "Bulan sakit apa?" Tanya Bulan balik. "Bulan cuman kecapean, sayang" ucap Bunda sambil mengelus-elus pucuk kepala Bulan. 'Sampai kapan Bunda harus menyembunyikan ini semua sama kamu, nak' batin Bunda. *** Setelah cukup lama Bulan dirawat di Rumah Sakit, kondisinya semakin cukup baik. Akhirnya Ia diperbolehkan pulang. "Bulan nggak boleh terlalu capek ya... Seminggu sekali kontrol rutin kesini" titah Dokter Ani. "Siap Dok" Sesampainya di rumah, Bulan sedari tadi hanya diam dan melamun memikirkan sebenarnya Ia sakit apa sampai harus kontrol seminggu sekali. "Ayah, Bunda, Bulan sakit apa?" Lirih Bulan. Ayah dan Bunda saling pandang kemudian tersenyum. "Putri Ayah pasti kuat. Bulan pasti sembuh" ucap Ayah. "Memangnya Bulan sakit apa, Ayah?" Tanya Bulan menahan tangis. "Huuffttt..... putri Ayah sakit Kanker otak" ucap Ayah berat. "A-ap pa? Kan-kanker? Ayah, Bunda... ini bohong kan?" Tangis Bulan pecah. "Tidak nak... maafkan Ayah dan Bunda" ucap Ayah menenangkan hati Bulan. "Bulan pasti kuat ya sayang. Bulan pasti sembuh" ucap Bunda tersedu-sedu. "Kakak pasti sembuh!" teriak Wulan berlari menuju Bulan dan memeluk erat. "Tidak apa-apa... mungkin ini sudah takdir Bulan. Bulan harus menjalaninya dengan ikhlas. Bila Bulan harus pergi di sisi-Nya, Bulan harus siap" "Sayang, jangan bilang begitu" sedih Bunda. "Sudah Bunda, jangan sedih. Bulan akan berusaha untuk sembuh" hibur Bulan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN