“Suster Yanti, apa yang kamu lakukan?” aku terbangun kala mendengar suara Mas Farhan tiba-tiba. Aku melihat suster Yanti sudah berwajah pucat, ada satu suntikan di tangannya. Apa yang mau ia lakukan? “Itu Pak, tadi saya diminta sama perawat untuk menyuntikkan vitamin sama Bu Luna,” jawabnya gugup. Aku menaruh curiga karena ia tak mampu menatap kami saat ia berbicara. “Loh, memangnya perawatnya kemana?” tanya Mas Farhan lagi. “Ada Pak. Hanya mereka sengaja menyuruh saya, karena kan saya juga seorang perawat,” jawab suster Yanti. Kali ini ia menjawab lebih lancar dari tadi. “Tidak bisa, itu urusan perawat di sini. Urusan kamu hanya mengurus kalau Ibu Luna perlu apa-apa. Biarkan perawatnya saja yang melakukan itu,” ucap Mas Farhan tegas. Aku menangkap ada nada marah di wajah Mas Farhan

